Gerakan Pramuka Satu Satunya Program Terbaik Untuk Pembentukan Karakter Bangsa Indonesia

Selamat Hari Pramuka ke-62, 14 Agustus 2023.” “Selamat Hari Pramuka ke-62! Semoga sepuluh dharma dalam Dasa Dharma Pramuka selalu menjadi keutamaan bagi seluruh masyarakat, terutama generasi muda Indonesia.”

Mari kembali ke Gerakan Pramuka yang kini mati suri akibat ketidak seriusan pemerintah dalam membina gerakan nasional yang diyakini (dulu) telah berhasil membentuk Karakter Bangsa Indonesia

Pramuka Tinggal Nama

Anda masih ingat kepanjangan dari kosa kata Pramuka ?. Baik mari kita ulang, bisa jadi anda sudah lupa dengan seragam coklat berbaret miring ke kanan serta selalu memegang tongkat dan sering ber kemah. Pramuka itu singkatan dari : Praja Muda Karana, yang bermakna harfiah Orang Muda Yang Suka Berkarya. Generasi Indonesia kelahiran tahun 50 an dan seterusnya bisa dipastikan memiliki seragam coklat itu. Ketika duduk di bangku Sekolah Rakyat (sekarang SD) mereka berbaris dalam kasatuan Pramuka Siaga.

Berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama mereka wajib ikut dalam Pramuka Penggalang. Demikian seterusnya dengan bertambahnya usia jiwa ksatria itu dimantapkan dengan Pramuka Penegak di SMA dan Pramuka Pendega di Perguruan Tinggi.  Setelah menyandang gelar Sarjana, para generasi  muda Indonesia siap membhaktikan dirinya untuk nusa bangsa berbekal kakarter tangguh hasil tempaan didikan Gerakan Pramuka selama 16 tahun di ranah pendidikan.

Untunglah ada media yang mengingatkan akan hari ulang tahun Pramuka, kalau tidak dia akan terlewatkan begitu saja. Sebelumnya gerakan ke Pandu an yang di bawa oleh Belanda ke Indonesia belum mempunyai induk semang dalam artian masih bergerak sendiri sendiri tanpa naungan Pembinaan Pemerintah. Diyakini Gerakan ke Pandu an Internasional ini sangat baik bagi pembinaan generasi muda karena sesuai dengan budaya nusantara maka Pemerintah saat itu mempersatukan semua Gerakan Pandu di Indonesia dalam satu wadah yang di beri nama Pramuka.

Tanggal 14 Agustus ditetapkan oleh Pemerintah sebagai hari Pramuka seiring dengan persiapan mengantar peringatan hari kemerdekaan pada setiap tahun. Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno menunjuk Sri Sultan Hamengku Bowono IX sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka pada tanggal 14 Agustus 1961.

Mungkin yang masih tertinggal di memory permanent anak anak Indonesia di zaman populernya Gerakan Pramuka hanyalah Tepuk Pramuka.

Coba saja anda test dengan meneriakkan : “Tepuk Pramuka !!!” Maka serta merta akan terdengar kompak tepokan yang bernada khas tersebut. Setelah itu mungkin masih tersimpan di ingatan adalah ucapan Dasa Dharma Pramuka yang di hapal seperti Pancasila ketika acara Latihan Pramuka di laksanakan di setiap sekolah. Nilai nilai moral yang ditanamkan dalam Dasa Dharma Pramuka itu pada tahap awalnya memang baru di hapal.

Namun suatu hapalan yang di ucapkan pada setiap kesempatan bisa dipastikan akan menjadi suatu tindakan atau perbuatan positif apalagi ketika anak anak berada dalam golden age. Sejatinya Gerakan Pramuka merupakan salah satu bentuk investasi moral nasional yang sangat berguna dalam proses penguatan ketahanan nasional.

Dasa Dharma Pramuka Membentuk Karakter Bangsa.

Mari kita perhatikan sekali lagi Dasa Dharma Pramuka yang mungkin 10 pesan moral tersebut sudah jarang dihapalkan anak anak pada saat ini :

Pramuka itu :

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
  3. Patriot yang sopan dan kesatria.
  4. Patuh dan suka bermusyawarah.
  5. Rela menolong dan tabah.
  6. Rajin, trampil dan gembira.
  7. Hemat, cermat dan bersahaja.
  8. Disiplin, berani dan setia.
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya.
  10. Suci dalam pikiran perkataan dan perbuatan.

Kini seolah Pemerintah tidak begitu peduli dengan pembinaan Gerakan Pramuka. Tentu saja indikator kepedulian ini diukur dari geliat Gerakan ke Pramuka an di tanah air. Anda masih ingat dengan Jambore Nasional (perkemahan nasional) yang begitu sangat hebat geliatnya di masa Orde baru.

Kepedulian  pemerintah Orde Baru pada saat itu sangat luar biasa dalam meningkatkan peran Gerakan Pramuka secara nasional. Contohnya Jambore Pramuka Tingkat Nasional di Sibolangit Sumatera Utara pada tahun 1977 sangat meriah sebagai wadah pertemuan Pramuka seluruh Indonesia.

Pada Jambore Tingkat Internasional Pramuka Indonesia pun ikut berperan serta. Selanjutnya ada Jambore di Taman Nasional Pramuka Cibubur yang masih merupakan kebanggaan Pramuka. Namun setelah itu terutama Pasca Orde Reformasi , nampaknya Jambore hanya tinggal kenangan, demikian pula dengan kepedulian Pemerintah terutama dalam bentuk peng Alokasi an Anggaran untuk Kwarnas / Kwarcab Gerakan Pramuka.

Padahal apabila dilihat dari fungsi pembinaan generasi muda, Gerakan Pramuka adalah satu satunya gerakan yang mampu  memproteksi anak anak Indonesia dari segala macam pergeseran budaya negative. Suasana  lingkungan kondusif komunitas Pramuka sangat mendukung pembentukan karakter bangsa secara berjenjang tanpa terputus.

Keberhasilan Gerakan Pramuka pada era 70-90 bisa dilihat dari kecilnya angka kenakalan remaja, seperti tawuran dan penyalahgunaan narkoba serta bentuk kenakalan remaja lainnya. Serangan informasi begitu gencar pada era teknologi informasi saat ini tidak bisa hanya mengandalkan ekstra kurikulum pendidikan nasional yang tidak terintegrasi dan terarah mulai dari tingkat Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi.

Dimana Political Will Pemerintah

Pemerintah harus serius menangani pembinaan generasi muda Indonesia. Anak anak muda kita harus mendapatkan lingkungan yang aman dan nyaman dalam komunitas yang bebas dari intervensi jahat serta mereka terlindungi sepenuhnya oleh Program Integrasi yang langsung di kendalikan oleh Pemerintah.  Oleh karena itu Gerakan Pramuka harus di galakkan kembali.

Kita rindu kepada suasana dimana Bapak Guru dan Ibu Guru serta anak anak setiap hari mengenakan busana Seragam Pramuka. Kita ingin melihat lagi anak anak mengucapkan Dasa Dharma Pramuka dan bertepok tangan Pramuka. Kita ingin menyaksikan lagi anak anak berlajar sandi morse, anak anak bersemangat mengasah ketrampilan dalam P3K serta pandai menggunakan tali temali serta tongkat Pramuka. Anak anak kembali semangat berkemah ke hutan mempertautkan nilai nilai kecintaan kepada tanah air.

Kepedulian Pemerintah tentu saja harus di dukung oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang memberikan otonomi kepada Kementerian Pendidikan untuk meng hidupkan Gerakan Pramuka Indonesia. Kementerian Pendidikan yang selalu gonta ganti kurikulum seharusnya menyadari bahwa Gerakan Pramuka adalah solusi terbaik untuk pembinaan generasi muda Indonesia secara berjenjang dari Tingkat Sekolah Dasar berupa Pramuka Siaga, lanjut ke Pramuka Penggalang, Pramuka Penegak dan berakhir sebagai Pramuka Pendega di tingkat Perguruan Tinggi. Kesinambungan generasi muda menjadi Pandu Indonesia harus menjadi Program Prioritas

Unggulan Kemendikbud.

Tentu saja Political Will Pemerintah berkuasa sangat di andalkan. Kita berharap komitment Presiden Republik Indonesia bukan hanya sebatas mengenakan Seragam Pramuka pada tanggal 14 Agustus saja. Presiden dan jajaran Kabinet sampai ke Pemerintah Daerah harus mampu menghidupkan kembali Gerakan Pramuka dengan indikator terlaksananya Jambore Pramuka mulai dari Tingkat Kecamatan sampai ke Tingkat Nasional secara berkesinambungan.

Gerakan Pramuka memang memerlukan biaya yang tidak sedikit, namun apabila dibandingkan hasil yang didapat dari pembentukan karakter generasi muda maka dana yang dikeluarkan tersebut adalah investasi yang sangat menjanjikan bagi kejayaan Indonesia. Semoga Presiden Republik Indonesia Periode 2024-2029 (siapapun dia) melalui Kementrian Pendidikan menjadikan Gerakan Pramuka sebagai Program Prioritas Utama yang di masukkan dalam Kurikulum dan kegiatan Ekstra Kurikuler. Alokasi APBN sebesar 20 persen yang ditetapkan Undang Undang untuk Kementerian Pendidikan sangat cukup bahkan lebih dari cukup untuk menggeliatkan kembali Gerakan Pramuka Indonesia.

Kita tunggu Realisasi pernyataan Presiden RI pada HUT Pramuka ke – 62    Gerakan Pramuka harus terus di pupuk  sebagai wadah bagi pembentukan Nasionalisme dan Patriotisme Kita. Momentum Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia hendaknya kita jadikan sebagai  Penetapan Pramuka sebagai Gerakan Nasional Pembentukan Karakter Bangsa. Untuk itu Pemerintah berkuasa harus menetapkan dalam Keputusan Presiden yang mengikat seluruh birokrat dan rakyat Indonesia.

Tepuk Pramuka !!!

  • BHP, 14 Agustus 2034
  • Thamrin Dahlan

 

Tinggalkan Balasan

News Feed