Bersua Kembali Sahabat Bisyri Ichwan

Lama tak bersua, 9 tahun lebih. Alhamdulillah dipertemukan bersebab Buku.  Memang luar biasa keberadaan buku di muka bumi ini.  Persahabatan nan pernah dirajut tak akan pernah hilang.  Pada saatnya anak manusia itu akan dipertemukan  kembali.

Itulah yang awak alami ketika seorang penulis bernama Bisyri Ichwan menghubungi via media sosial. Semua berawal ketika Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan menggagas Program Menerbitkan buku ber ISBN Tanpa Biaya.

InshaAllah mas Busiri akan segera menerbitkan 3 Buku.  Pengalaman seru di tengah gejolak politik selama mondok di Mesir akan segera teman teman baca.  Dalam waktu dekat YPTD akan mewujudkan keinginan Mas Bysiri menerbitkan Buku. Saat ini kami berkomunikasi via dunia maya. Insha Allah selalu ada kesempatan kopdar dengan teman teman penulis kompasiana.

Berikut awak tayangkan kembali posting ketika mengantar Mas Bisyri ke kantor kompasiana.

Belajar Ilmu Agama Umurnya belumlah genap 24 tahun, tapi sudah kelihatan anak muda ini akan menjadi sosok yang diperhitungkan dimasa depan.  Lihatlah sorot matanya, tajam dan percaya diri yang sangat kuat sekali.  Dengan modal disaku seadanya dan tekad yang sangat kuat, Bisyri berangkat ke Kairo untuk melanjutkan kuliah di Universitas Al Azhar.

Keinginan untuk kuliah di Kairo adalah untuk menjawab rasa penasarannya, mengapa  sepertiga kisah kisah para Nabi  dalam Al Qur’an ada di negeri paramid itu. Setelah enam tahun menekuni pesantren di kota kelahirannya di Banyuwangi, anak ketiga dari tiga saudara ini saat ini sudah 2 tahun menekuni ilmu agama di Universitas bergengsi di Mesir bersama 6000 orang Mahasiswa Indonesia lainnya.

Ditahun pertama Bisyri hidup dengan sangat prihatin dalam keterbatasan ekonomi keluarga yang sangat sederhana sederhana, namun takdir mengantarkannya untuk bekerja di bidang logistik ekspor impor.  Saya menerima 3 kali kiriman uang dari orang tua, selanjutnya alhamdulillah bisa mandiri. Bapak Bisyri adalah seorang pemandu wisata religi, khususnya membawa jamaah takziah dan ziarah ke maqam Wali Songo.

Sejak kecil ayahnya telah membawa Bisyri mengunjiugi tempat tempat ibadah peninggalan sejarah, mungkin kenangan masa kecil itulah yang membekali pengalaman pribadinya untuk mencari ilmu pengetahuan agama dari sumbernya yaitu tanah arab.

Pada awalnya sulit berbicara dalam bahasa arab yang dipelajarinya di pesantren, namun dengan kerja keras dan sering bersilaturahmi, kini Bisyri  Faseh berbicara bahasa arab logat mesir, sehingga memudahkan nyai berkomunikasi dengan penduduk pribumi,.

Konsultasi ke Mbah Google Sambil kuliah Bisyri mengerjakan pekerjaan yang memang menjadi cita citanya sejak masih kecil di desanya.  Bisyri berkata apa apa yang ada dalam benak pikiran akan di ijabah oleh Allah SWT dengan jalan yang tak terduga duga.  Bekerja di bidang ekspor impor melayani kiriman barang dari mesir ke tanah air dalam hitungan kontainer seberat 16 ton.

Secara perlahan profesi ini digeluti anak muda berkulit gelap dan berambut cepak ini dengan banyak bertanya kepada pakarnya dan selalu berkonsultasi dengan mbah google. Kuliah bidang agama di Al Azhar agak unik.  menurut Bisyri jumlah mahasiswa dengan jumlah tempat duduk kuliah tidak sebanding, sehinga faktor kehadiran di kelas tidak menjadi ukuran dalam penentuan nilai.

Bayangkan satu kelas bisa terdiri 600 orang, sehingga Universitas lebih mengandalkan sistem kuliah dengan menggunakan multi media.  Ketika saya bertanya bagaimana dengan ujian ?  Anak muda ini menjelaskan bahwa ruang ujian melebar sampai kehalaman dan tempat parkir.

Semua soal di berikan dalam bentuk essay dan yang lebih enak open book. Peran kompasiana  Setelah dua tahun mondok di Kairo, Bisyri banyak menulis di kompasiana. berkenalan dengan kompasiana atas jasa seorang penguasa kuliner.  Pada awalnya anak muda ini banyak menulis tentang politik, namun setelah ber inbox an dengan Bapak Prayetno Ramelan pakar intelijen, yang menganjurkan sebaiknya Bisyri lebih fokus ke masalah humaniora saja, dengan resiko yang lebih sedikit.

Maklum politik sedang hangat hangatnya di negeri padang sahara ini. Mbak Linda Djalil koresponden senior merupakan pembimbing Bisyri dalam menulis, terutama tulisan tulisan yang mengangkat sejarah kuno, parawisata dan hal hal yang berkaitan dengan pendidikan serta akar budaya Mesir yang tidak duanya di dunia…

Hasilnya sudah kita rasakan, dari sekian ratus tulisan nya sebagian besar mesuk dalam jajaran head line.  Hari ini Bisyri diminta datang ke Kampus Universitas Indonesia  oleh  Mbak Linda Djalil untuk mengutarakan kisah nya di interograsi polisi dan militer Mesir, sebagai saksi sejarah  dalam pergolakan politik di Kairo. Posting  akan di buku kan 

Dalam kunjungan silaturahmi ke dapur kompasiana.com bersama Mas Achsin jagoan dan dedengkot LSM dibidang jurnalistik,  kami diterima dengan sukaria oleh petinggi media maya ini secara lengkap.   Ada Mas Inu atau lebih dikenal dengan Serial Pak Beye , ada Kang Pepih dan so pasti juragan Iskandar Zulkarnain.

Sekarang saja Bisyri sudah mempunyai nilai jual apalagi nanti dimasa datang. Buktinya kompasiana menyediakan kapling khusus untuk jurnalis amatir ini dalam kolom mesir bergolak.  Tentang perbincangan selama tatap muka dengan redaktur kompasiana sudah disampaikan dalam posting Mas Bisyri, namun yang patut dibanggakan adalah janji redaktur dan editor kompasiana yang akan membukukan semua tulisan Bisyri.

Dalam perjalannan pulang ke wilayah Ceger, Bisyri mengungkapkan bahwa cita citanya untuk mengembangkan ekspor impor akan dilakoninya  secara serius, karena selama ini dia hanya sebagi pegawai saja, atau meng kaya kan orang lain istilahnya.  Dalam usia yang masih belia itu Bisyri sudah bercita cita ingin mendirikan perusahaan ekspor impor sendiri berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang selama ini sudah dipetiknya.  

Berniaga cara rasulullah Rasulullah Nabi Besar Muhammad SAW bersabda bahwa sembilan puluh sembilan persen pintu rezeki itu ada dalam perniagaan.  Rasulullah adalah seorang pedagang yang jujur sehingga kepercayaan didapatkan beliau dari siapa saja.  Kejujuran adalah mata uang yang paling tinggi kurs nya, dan sikap amanah ini laris dan laku dimana saja   tanpa memandang suku bangsa..

Perniagaan  Kayu Manis, ya ekspor kayu manis mempunyai peluang yang besar untuk didatangkan ke timur tengah.  Bisyri sudah menjajagi beberapa perusahan di tanah air sebagai pemasok sumber devisa tersebut.   Terus bagaimana dengan kuliah ? Anak muda bermata elang ini meyakinkan bahwa dia harus selesaikan kuliah tepat waktu kemudian menyandang gelar LC yang di akui keabsahannya di seantero dunia.

Sambil terus menimba pengalaman dibidang ekspor secara komprehensif dan integratif. Ilmu agamanya untuk apa ?  Bisyri Ichwan menjawab, semua akan berjalan secara simetris, dunia dan akherat.  saya akan mewakafkan diri saya dengan modal dana yang kuat untuk berdakwah, Masya Allah , Allah Akbar. Kita tunggu dan perhatikan perjalanan seorang anak bangsa ini, teriring doa semoga seluruh cita – cita mulianya di ijabah oleh Allah SWT, amin

Tinggalkan Balasan

1 komentar