Perpustakaan Keluarga Thamrin Dahlan

Buku adalah muara menulis. Tulisan itu ibarat layang layang, terbang tinggi di awan. Layang itu mempunyai nasib dua saja. Pertama dia akan ditarik kembali oleh pemiliknya dan kemudian disimpan. Nasib layang layang kedua dia lepas, artinya tali atau benang putus. Tali putus bisa karena beradu di awan dengan layang lain. Kemungkinan lain tali putus karena memang sudah rapuh.

Ketika layangan disimpan setelah bemain dia bernasib baik sedangkan layangan putus nasibnya tak beruntung. Bisa jadi layangan itu putus kemudian menjadi rebutan anak anak, dikejar sampai dapat. Tentu ber risiko robek. Atau layang layang itu tersangkut di dahan, atau malah tercebur di empang. Itulah nasib jelek si layang-layang mengikuti takdirnya.

Sesungguhnya analog dengan peruntungan tulisan itu sama dengan layang layang. Artikel yang di-posting di media sosial hampir mirip dengan layang layang. Dia tersimpan di negeri orang dalam kewenangan server. Sang pemilik tulisan bisa jadi cemas ketika server itu tiba-tiba error yang berujung file tulisan ghoib alias hilang. Masih bernasib baik apabila sang empunya punya tulisan memiliki cadangan di file pribadi. Apabila tidak maka karya itu akan hilang selamanya.

Perumpamaan layang layang itulah yang menjadi motivasi kuat awak menerbitkan buku. Sebenarnya lebih tepat bukan menerbitkan buku tetapi menjilid tulisan nan terserak di media sosial. Ada rasa khawatir apabila suatu saat tulisan yang berjumlah 2. 800 artikel itu tiba tiba hilang bersebab sesuatu hal yang tidak terduga.

Oleh karena itulah setelah melihat jumlah artikel yang di posting di media sosial sudah cukup memadai awak berniat menerbitkan buku. Menyelamatkan tulisan intinya. Kemudian bertanya kepada sobat bagaimana sih kok Anda bisa punya buku. Pertanyaan itu mendapat apresiasi dari Mbak Winda. Penulis novel kawakan ini menganjurkan awak untuk menghubungi penerbit Leutikaprio yang beralamat di kota Yogyakarta. Nampaknya ada kemudahan yang ditawarkan dalam arti buku bisa diterbitkan.

Tadinya awak berprasangka bahwa penerbit akan menyeleksi isi buku dan kemungkinan di terbitkan hanya 15 %. Prasangka buruk itu beralasan ketika kita mengirimkan buku ke Penerbit Major. Namun beda halnya di penerbit indie ini, mereka memberikan fasilitas mumpuni dengan syarat segala isi buku menjadi tanggung jawab penulis.

Tahun 2011 Buku “Bukan Orang Terkenal” terbit. Inilah buku pertama seorang anak desa Tempino Jambi yang akhirnya bisa memecahkan rekor diri sendiri dan mungkin keluarga atau orang sekampung. Tidak usah membandingkan dengan Buya Hamka pada zamannya. Penyair kawakan itu dengan segala kesulitan saja bisa menerbitkan demikian banyak buku. Kini di zaman teknologi informasi modern ternyata dengan segala kemudahan ternyata menerbitkan itu tidak sulit.

Menyelamatkan tulisan nan terserak menjadi mootivasi menerbitkan buku. Sekali lagi sesungguhnya muara dari menulis adalah buku. Buku abadi adanya. Buku bisa menjadi pembuka silaturahim ketika berfungsi sebagai hadiah. Hadian nan sangat berharga karena dalam buku terangkum isi pikiran dan ide sang penulis.

Selain itu buku memiliki usia lebih panjang dari penulisnya. Buku bisa mengikuti takdirnya ke mana saja, tak usah risaukan apakah buku itu laris atau tidak atau dibaca atau disimpan saja. Justru roh dari buku itu spektakuler. Tak salah apabila Buya Hamka berucap, biarlah buku itu membela dirinya sendiri, biarlah-bukumu itu mengikuti takdirnya.

Termotivasi dengan ungkapan Buya Hamka tersebut jadinya awak bersemangat sekali menjilid buku. Sebenanya membuat buku mudah sekali dengan catatan anda menulis setiap hari atau paling tidak dalam sebulan menulis artikel lebih dari 20 buah. Setelah 3 bulan terdapat 50-60 artikel. Ini modal utama menerbitkan buku setebal 200 halaman.

Alhamdulillah semangat menulis tetap bisa dipertahankan dari berbagai ide dan inspirasi menulis.  Dari hasil tulisan telah dirangkum dalam 10 buku berikut  ini :

32 buku karya diterbitkan periode 2011-2020

  1. Bukan Orang terkenal (2012)
  2. Hadiah Terindah (Kumpulan Puisi) (2012)
  3. Catatan Seorang Purnawirawan Polri edisi 1 (2013)
  4. Catatan Seorang Purnawirawan Polri edisi 2 (2013)
  5. Celoteh Kompasianer Tede (2013)
  6. Prabowo Presidenku (2014)
  7. Prabowo Presiden Kita [ E- Book] (2014)
  8. Magnet Baitullah (2015)
  9. Kasidah (2015)
  10. Bukan Hoax (2016)
  11. Sebelas (2017)
  12. Dua belas (2017)
  13. Jalan jalan (2017)
  14. Saya Indonesia Saya Pancasila (2017)
  15. Polisi Juga Manusia (2017)
  16. Ustazd Abdul Somad Hadir Disini (2018)
  17. Kylian Mbappe Pele Zaman Now (2018)
  18. Azka Zafran Alzam Saksi Asian Games 2018 (2018)
  19. Tjerito Boedak Tempino (2018)
  20. Doea Poeloeh (2018)
  21. Kumpulan Pantun (2019)
  22. Bunga Rampai 22 (2019)
  23. Biografi Bundo Kanduang (2019)
  24. Selamat Bekerja Kabinet Indonesia Maju (2019)
  25. Catatan Alumni Akper Palembang Angkatan 4 (2019)
  26. Nasehat Kehidupan Media Sosial (2020)
  27. Riak Riak Birokrasi (2020)
  28. Banjir Merendam Jakarta (2020)
  29. Pandemic Covid 19 Melanda Dunia (2020)
  30. PSBB Jakarta (2020)
  31. Iktikaf (2020)
  32. Hari Jum’at Bapakku (2020)

Tadinya awak tidak begitu perhatian dengan buku buku yang telah diterbitkan. Maksudnya setelah buku terbit kemudian dihadiahkan kepada sanak saudara dan teman tidak terpikir untuk menyimpan. Memang buku buku awak tidak dijual, hanya untuk koleksi pribadi dan perpustakaan Bunda Kandunag Hj Husna di Bogor dan Perpustakaan Kasidah di Tempino Jambi. Hanya buku Prabowo Presidenku yang dijual terkait dengan kampanye Pemilihan Presiden 2014. Buku ini best seller bahkan dibajak kemudian dijajakan di lampu merah.

Ternyata setelah diperhatikan buku buku nyaris habis. Sampai sampai di rumahpun tidak ada stock buku Bukan Orang Terkenal dan Hadiah terindah serta Celoteh Kompasianer TD. Terpaksa awak memesan kembali ke penerbit atau mengopi ulang dengan sistem digital. Kini 10 buku itu sudah lengkap terhimpun dengan persediaan yang tidak boleh lagi dihadiahkan kepada orang lain.

Terkait dengan memuliakan buku maka kami sekeluarga telah membeli rak buku yang agak besar dan lebar. Selama ini buku buku itu disimpan di lemari biasa, tertumpuk dan tidak terawat baik. Kini buku buku koleksi keluarga sesuai dengan peminatan masing masing telah disimpan terkelompokkan di lemari. Jadi inilah perpustakaan keluarga kami.  Aset yang tak ternilai karena dari buku lah kami mendapatkan kepintaran dan wawasan sehingga bisa hidup sejahtera sesuai dengan kemampuan.

Perpustakaan keluarga kini mampu menampung semua buku termasuk 30 buku awak yang telah nyaman berada di habitatnya. Selama ini buku buku terserak entah di mana, namun dengan keberadaa Perpustakaan Keluarga kini lebih mudah mencari buku yang diperlukan. Putri bungsu Amalia Muflihat Alumni Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Perpustkaan Universitas Indonesia berjanji akan membuat katalog perpustakaan.

Semoga pemuliaan buku dengan cara menempatkan di perpustakaan keluarga akan semakin memberikan berkah. Koleksi buku buku Agama dalam bentuk serial seperti ensiklopedia kini tampak rapi dan gagah di lemari buku. Insha Allah buku buku tersebut akan tersentuh ketika kami atau siapapun yang membutuhkan untuk mencari referensi terkait dengan kegiatan menulis.

Salamsalaman

TD

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Ping-balik: Buku Hartaku - YPTD