Daripada Menakar Rasa Nasionalis Orang Lain

 

Bukankah Lebih Baik Menakar Rasa Nasionalisme Diri Sendiri?

Apakah Benar WNI Yang Tinggal di Luar Negeri Sudah Kehilangan Rasa Nasionalisme?

Bahwa memang ada sebagian orang Indonesia yang tinggal di luar negeri terus seperti kacang lupa kulit, tentu tak dapat dipungkiri karena walaupun pahit rasanya, tapi hal ini adalah sebuah kenyataan.

Bahkan ada yang begitu terpesona oleh berbagai fasilitas yang diperoleh di negeri orang, seperti misalnya bebas pajak, bebas biaya pengobatan, bebas menggunakan transportasi umum dan seterusnya, ada juga yang tega menjelek jelekan negeri asalnya. Tetapi tentu tak elok bila hanya karena ulah beberapa orang terus semua orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dianggap sebagai orang yang sudah kehilangan rasa nasionalismenya.

Karena urusan warna paspor dan surat surat lainnya adalah sebatas formalitas yang sebatas legalitas diri dalam mematuhi hukum dan aturan yang berlaku di negeri orang.

Belum tentu saya dan istri yang walaupun sudah mendapatkan Permanent residence sejak tahun 2016, namun masih memegang paspor berwarna hijau, lebih tinggi rasa nasionalisme kami dibandingkan dengan orang Indonesia lainnya yang sudah mengganti warna paspor. Karena ikatan batin ,tak dapat ditakar hanya dengan melihat warna paspornya.

Warna Paspor Tidak Dapat Dijadikan Tolok Ukur Kedalaman Rasa Ke Indonesian Seseorang

Bukan tidak mungkin, teman-teman sesama orang Indonesia yang sudah berganti paspor dengan paspor di negeri di mana mereka berdomisili, rasa nasionalismenya jauh lebih tinggi dibandingkan kami. Karena takaran besar kecilnya rasa cinta akan negeri sendiri, mustahil dapat diukur hanya lewat dari warna selembar kertas yang membungkus paspor.

Begitu juga penampilan seseorang, apakah ia berkulit sawo matang atau kuning dan bermata sipit ataupun tidak, bukan takaran yang dapat dijadikan tolak ukur dalam mengukur kedalam cintanya terhadap Ibu Pertiwi.

Salah satu bukti nyata, bahwa orang Indonesia yang menetap di luar negeri tetap memiliki kecintaan mendalam terhadap Ibu Pertiwi adalah disaat diadakan Pemilu.

Puluhan ribu orang mengenyampingkan segala urusan lain, mengemudikan kendaraan berjam jam dan masih harus antri lagi berjam jam untuk dapat memberikan suaranya di pemilu.

Hal ini adalah salah satu bukti bahwa tinggal di negeri orang tidak menyebabkan orang Indonesia melupakan tanah tumpah darah mereka. Bahwa apa yang dilakukan oleh segelintir orang Indonesia, tentu tidak dapat dipukul ratakan bahwa semua orang Indonesia yang tinggal di negeri orang,sudah kehilangan rasa cinta terhadap tanah tumpah darahnya.

Sedalam mana rasa cinta tanah air, tentu hanya Tuhan dan diri kita yang tahu. Sedangkan orang yang melihat hanya mampu menilai dari apa yang tampak secara kasat mata. Nah, daripada kita sibuk menilai orang lain, alangkah eloknya bila masing masing mengukur kedalaman cinta masing masing.

Mana yang lebih baik,merantau jauh ke negeri orang ,bekerja di sana dan mengirimkan uang ke tanah air ataukah tetap tinggal dan menjadi benalu di negeri sendiri ? Mari kita tanya pada diri masing masing,karena disana akan ada jawabannya.

Janganlah terlalu cepat men justic seseorang,hanya karena ia tinggal di luar negeri. Bukankah sebaiknya demikian ?

Tjiptadinata Effendi

 

 

Tinggalkan Balasan

News Feed