Hidup 100 Persen Ala BNN

Menghadiri Forum Disukusi Trending Topik P4GN di kalangan Media, dengan Tema: “Menggelorakan Kampanye Nasional #HIDUP100PERSEN Sadar, sehat, produktif, dan bahagia.

Diskusi yang dilaksanakan di Hotel Bidakara ini, di prakarsai oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). Melalui forum ini, BNN sekaligus ingin mengkampanyekan Hastag baru BNN yakni, #HIDUP100PERSEN, menggantikan hastag yang lama #StopNarkoba.

Di tengah Pandemi Covid-19, tentunya forum diskusi ini dilaksanakan mengikuti protokol kesehatan, seluruh peserta di diskusi terlebih dahulu menjalani Ravid Test, sesuai dengan prosedur protokol kesehatan. Bersyukurnya, seluruh peserta dinyatakan negatif, maka diskusi pun berjalan dengan tanpa ada kekuatiran.

Sesuai jadwal yang tertera di undangan, diskusi akan berlangsung sejak pukul 8:00 – pukul 12:00, dan peserta wajib hadir dengan waktu yang sudah di tentukan tersebut. Mengingat ada proses Ravid Test, yang wajib di ikuti oleh seluruh peserta. Diskusinya sendiri baru di mulai pada pukul 10:00.

Kalau melihat dari tema tersebut diatas, BNN ingin mengubah ‘mindset’ penanggulangan semakin berbahayanya peredaran Narkoba. Kampanye #HIDUP100PERSEN ini adalah upaya persuasif untuk menyadarkan masyarakat, bahwa betapa pentingnya ‘hidup sehat’ tanpa narkoba.

Tiga Narasumber yang di hadirkan dalam forum diskusi ini, antara lain: 1. Drs. Purwo Cahyoko, M.Si, (Direktur Imformasi dan Edukasi BNN), 2. Suci Arum Sari (Pendiri ALODOKTER, Super APP Kesehatan No. 1 di Indonesia), 3. Amanda Valani (Head Content of Narasi).

Pemaparan tiga Narasumber dalam forum diskusi ini, sesuai dengan kompetensi masing-masing. Purwo Cahyoko lebih kepada penjelasan apa yang ingin dicapai oleh BNN dalam mengkampanyekan #HIDUP100PERSEN. Sementara Suci Arum Sari, lebih kepada esensi seperti apa hidup 100 persen itu. Dan Amanda, memaparkan bagaimana strategi efektif dalam mengkampanyekan hidup 100 persen tersebut.

Sinergisitas antara ketiga Narasumber ini, kalau pada pelaksanaan kampanye #HIDUP100PERSEN di gelorakan, maka akan sangat efektif. Persoalannya, BNN bukanlah satu-satu lembaga yang akan menentukan efektif atau tidaknya kampanye menyadarkan masyarakat, tentang pentingnya hidup sehat tanpa narkoba.

Dua lembaga lain yang juga mempunyai kewajiban untuk melakukan pencegahan peredaran narkoba, yakni, institusi Polri dan Kehakiman. Kampanye ini menjadi sia-sia kalau kedua institusi ini tidak berperan dengan semestinya. Polri tidak maksimal dalam penanggulangan pemberantasan narkoba, dan Kehakiman masih memberikan keleluasaan bagi bandar narkoba, mengedarkan narkoba dari dalam Lapas.

Apa yang dilakukan BNN dalam menggelorakan #HIDUP100PERSEN ini, harus di dukung semua pihak, termasuk juga masyarakat. Kampanye ini akan efektif jika dilakukan dengan tepat sasaran, masuk kelembaga pendidikan, mulai dari pendidikan dasar, sampai ke perguruan tinggi. Bahkan juga masuk ke instansi pemerintah.

Penulis sangat menikmati diskusi yang berlangsung, terutama dalam proses tanya jawab antara peserta diskusi dengan para Narasumber. Target yang ingin di capai BNN sangat tergantung seperti apa kampanye yang dilakukan. Proses menyadarkan masyarakat dalam hal bahaya narkoba, memang harus di gelorakan.

BNN tidak bisa bekerja sendiri dalam menggelorakan #HIDUP100PERSEN, bandar narkoba di lapas jangan di kasih kendor, dan itu tugas institusi kehakiman. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa bandar narkoba merasa lebih nyaman mengedarkan narkoba dari dalam Lapas. Inikan sangat membuat kita miris, tidak ada artinya apa yang lakukan BNN, kalau hal seperti itu masih terus terjadi.

Begitu juga dengan institusi Polri, tidak ada kompromi dengan kejahatan narkoba. Tidak ada oknum kepolisian yang bermain dengan para bandar, dan pengedar narkoba. Kalau kedua instansi ini bekerja efektif, kampanye #HIDUP100PERSEN, akan sangat efektif.

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar