Ramadan Indah Selalu Kudamba

39 Bu Kanjeng

Ramadan Indah Selalu Kudamba

Oleh: Sri Sugiastuti

Ramadan tiba, Ramadan tiba, Ramadan tiba. Marhaban ya Ramadan. Begitulah sukacita Bu Kanjeng saat hatinya menyambut datangnya bulan Ramadan yang mulia. Bulan dimana umat Islam diwajibkan berpuasa sebulan penuh.

Mengapa Allah turunkan QS Al Baqarah ayat 183 ”
Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ramadan identik dengan ibadah puasa. Ketika kita berpuasa karena Allah, insyaallah ketakwaan kita bertambah. Sementara bila puasa dikaji dari kesehatan jiwa raga kita akan selalu merindukan bulan puasa. Betapa tidak, karena puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan jiwa dan raga.

Bila di Ramadan kemaren Bu Kanjeng fokus untuk berbagi dan aktif di banyak masjid juga TPQ yang ada di sekitar rumah, puasa tahun ini harus lebih berkualitas dari tahun sebelumnya. Ia ingin mengupas dan memaknai puasa dari segi kesehatan.

Bu Kanjeng berselancar dan mendapatkan artikel yang menguatkan pemikirannya untuk berbagi apa yang dipahami. Postingan Prof. Dr. H. A. Rafiqi Tantawi, Ms.tanggal 12/16/2019 membahas masalah puasa dan kesehatan. Bu Kanjeng tertarik dengan kajian bahwa puasa menyembuhkan penyakit jiwa atau membersihkan jiwa yang kotor.

Seperti sabda Rasul yang mengatakan”
Ketahuilah di dalam jasad kita ada segumpal daging, kalau baik segumpal daging itu maka baik seluruh jasadnya, kalau rusak segumpal daging itu maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” sangat jelas kalimatnya.

Saat puasa penyakit hati terobati. Orang yang pusa harus bisa menahan marah. Berlomba dalam bersedekah, penyakit sombong, angkuh, iri dan dengki otomatis pergi karena saat puasa keimanan meningkat. Keinginan untuk meraih ampunan dan bertobat mendekat. Teringat bahwa semua kebaikan yang dilaksanakan pahalanya akan dilipatgandakan.

Di dalam satu sabda Rasulullah Saw. mengatakan, “Hati itu bisa berkarat dan penyembuhannya adalah dengan Al-Qur’an.” Saat Ramadan, membaca AlQuran sangat dianjurkan.

Hati menjadi tenang. Ketahuilah bahwa hati yang berkarat itu termasuk hati yang sakit, karena ada tumpatan pada hatinya sehingga sulit menerima ajaran Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah Saw. Dengan puasa insyaallah rohani jadi sehat. Muncul motivasi dan tindakan untuk berbuat baik.

Berusaha memiliki resolusi agar kualitas ibadah puasanya dari tahun ke tahun, di mata Allah punya nilai plus. Ia juga ingin di sisa usia yang ada masih diberi kesempatan menjalankan ibadah puasa dan rangkaiannya di bulan Ramadan dengan memanfaatkannya semaksimal mungkin.

Di hati kecil yang paling dalam, terbesit keinginan untuk bisa umrah di 10 hari terakhir Ramadan. Belum yakin akan kesiapan mental saat umrah tanpa didampingi suami, dan juga faktor usia yang sudah tidak prima seperti di usia 45 tahun saat ibadah haji tahun 2006, atau umrah bersama suami di November 2017.

Tahun 2023, usia sudah 62 tahun. Suami diajak umrah Ramadan berkeberatan. Sementara hanya bisa berdoa. Semoga Allah memberikan yang terbaik sesuai kehendak-Nya.

Tinggalkan Balasan