oleh

Lihatlah Negeri Ini

-Puisi, Terbaru-Telah Dibaca : 1,022 Orang

Kata Pengantar

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT. atas rachmatnya dan nikmat hidup sehat wal’afiat, jasmani serta rohani, sehingga saya dapat melaksanakan kewajiban dan tugas rutin saya selama ini serta juga telah dapat menyelesaikan penyusunan sebuah buku kumpulan puisi-puisi karya sendiri.

Dalam waktu relatif singkat ini saya telah berusaha menyempatkan diri mencoba menyusun sebuah buku kumpulan puisi atau sajak karya asli saya sendiri dengan judul “LIHATLAH NEGERI INI”.

Buku ini berisikan 50 (lima puluh) buah sajak karya Edy Priyatna. Untuk puisi atau sajak saya ciptakan seluruhnya di Pondok Petir.

Selanjutnya saya berharap mudah-mudahan buku ini akan bermanfaat  atau  dapat  dijadikan  sebagai  acuan  mata pelajaran kesusastraan bagi siswa-siswi, khususnya bagi siswa-siswi yang gemar mempelajari ilmu Kesusastraan / Bahasa Indonesia.

Akhir kata dari saya sebagai penulis/penyusun buku ini, seperti kata pepatah lama yaitu “Tak ada gading yang tak retak”, maka perkenankanlah saya memohon maaf apabila di dalam buku ini ada terdapat kata-kata tidak berkenan.

Dan penulis selalu membuka pintu lebar untuk menerima saran dan kritik sangat bermanfaat tentunya bagi kita semua, apalagi dalam rangka proses belajar dan mengajar. Tak lupa penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada semua pihak telah membantu baik moril maupun materil atas tersusunnya buku ini, semoga keikhlasannya tersebut akan dibalas oleh Allah SWT. Amin.

 

Pondok Petir, 27 Oktober 2020

Penulis,

Edy Priyatna

 

 

 

 

 

Daftar Isi

 

 

Kata Pengantar…………………………………………………………………………..iii

Daftar Isi…………………………………………………………………………………….v

 

Pesona Cinta……………………………………………………………………….  4

Langkah Kemenangan……………..…………………………………………..  5

Lihatlah Negeri Ini…………………………………………………………………  6

Kepada Negaraku………………………………………………………………….  8

Tanpa Rembulan………………………………………………………………………. 9

 

Mengendap di Hatiku………………………………………………………………. 10

Kesan yang Sama..……………………….…………………………………… 11

Tanpa Harus Ada Tanda-tanda…………………………………………………. 12

Menciptakan Lukisan Indah……………………………………………………… 13

Kau Tetap Menyimpan Riwayat……….………………………………………. 14

 

Tak Jemu Mataku…………………………………………………………………. 15

Sajak Cinta Cerah………………………………………………………………….. 16

Hujan Deras………………………………………………………………………. 17

Memberikan Semangat Hidup………………………………………………….. 19

Wajahmu Masih Tertinggal……………………………………………………….. 20

 

Menahan Kerinduan……………………………………………………………… 21

Puisi Malam Gulita………………………………………………………………. 22

Kepada Saudaraku………………………………………………………………… 23

Angin Malam Ini…………………………………………………………………… 25

Tanah Airku…………………………………………………………………………. 26

 

Suara Lantang-lantang Merdeka……………………………….  27

Karna Indonesia………………………………………………………………….. 28

Semangat Keikhlasan…………………………………………………………….. 29

Negeriku Senantiasa Mewangi Sepanjang Masa………………………… 30

Sahabat, Masih Ada Aku Untukmu…………………………………………… 31

 

Negeri Itu Tak Lagi Memiliki Pagi………………………………………….. 32

Lihatmu Rindu, Langkahkan Satu Kaki……………………………………… 33

Tak Seperti Embun Diujung Rumput…………………………………………. 34

Hari Ini Aku Tak Dapat Kembali……………………………………………… 36

Rindu Kembali……………………………………………………………………… 37

 

Kasih Kedekap Dirimu..……………………………………………………….. 38

Bungaku Melayang Terbang…………………………………………………… 39

Pada Malam Sepi………………………………………………………………… 40

Korupsi Para Pejabat Negeri…………………………………………………… 41

Setelah Kemarin Meraih Kebahagiaan……………………………………… 42

 

Untuk Sebuah Cita-cita Mulia……………………………………………….. 43

Tanganmu Menyambut Napasku……………………………………………… 44

Menciptakan Kebersamaan yang Indah……………………………………. 45

Panggilan Suara Nyaring……………….…………..…………………….. 46

Aku Telah Tiada……………………………………………………………………. 47

 

Warnanya Telah Berubah………………………………………………………… 48

Semangatku Tak Pernah Padam………………………………………………. 49

Kepada Pemuda Indonesia………………………………………………………. 50

Lukisan Senja……..……………………………………………………………….. 51

Yang Melepaskan Isi Jiwa.…………………………………………………….. 53

 

Penanam di Desaku………..……………………………………………………. 54

Sajak Dalam Tanah……………………………………………………………….. 55

Maut Menjemputku……………………………………………………………….. 56

Ranum Menatang Telanjang………………………………………….… 58

Semua Racun Dunia……………………………………………….……  60

 

Deskripsi Penulis…………………………………………………………. 62

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pesona Cinta
Puisi : Edy Priyatna

Pada desa negeriku ini
akan kubangun rumah-rumah
disemai dari banyak pohon
hingga tumbuh bunga-bunga indah

Saat kudirikan
akan kubuat pondasi yang kokoh
dibentang dari batu cadas
agar tak goyah kala gempa melanda

Setelah selesai
akan kulukiskan warna-warni
disemai dari banyak bunga
agar indah sejuk dan damai

Pada rumah-rumah itu
akan kutanam benih-benih kasih
yang kubawa dari pondok petir
sehingga menjadi indra cinta

(Pondok Petir, 22 Pebruari 2013)

 

 

 

 

Langkah Kemenangan
Puisi : Edy Priyatna

Sesungguhnya pada hamparan
bumi indah nan luas bebas
warnanya sudah sangat merah putih
dibalik kepekatannya tersirat jelas
seruan memekik keberanian suci
membanggakan segala hati
memacu terus berjuang
semangat kemerdekaan tiada henti

Terjaga dari keterpurukan
dari sebuah permainan emosi
karena pemicu memacu ganggu
pemusatan daya ingat
bukan rasa yang tumbuh
tertutup lapisan kemauan
hingga menghasilkan derita
padahal penderitaan bukan sifat kita

Hilangnya rasa berkemampuan
terganggu tanggapan hati
berganti pada dasar alami
melatih diri untuk biasa
akan kembali sendiri
kemudian membakar semangat
bangkitkan untuk maju kembali
mengikuti jejak para pahlawan

Kini waktunya menampilkan
laga pada hamparan
tanah tumpah darah kita
tanah air bangsa
maju selangkah demi selangkah
dalam kebersamaan
untuk bangkit kembali
untuk kibarkan bendera
semangat dalam berlomba
semangat untuk menang
semangat untuk juara

(Pondok Petir, 23 Pebruari 2013)

 

 

 

 

Lihatlah Negeri Ini
Puisi : Edy Priyatna

Lihatlah negeri ini dengan matamu lebar-lebar
semua orang menjadi malu karena ulahmu
sebentar lagi negara ini akan rusak berantakan
menjadi bulan-bulanan bangsa lain
sekali lagi bukalah mata hatimu
sebelum azab mendatangi dirimu

Sekarang ini kau masih perkasa
pandai sangat luar biasa sebagai professional
namun tapi berjiwa penjahat ulung
kau pintar berkelit dan berdalih
merampas semua uang dari semua sektor
perpajakan, pendidikan, pertambangan
perhutanan, pertambangan dan sebagainya
dari proyek fisik hingga pengadaan
semuanya ingin kau jarah

Belum habis yang satu timbul yang lain
kau sudah berkomplot dalam jaringan
melibatkan banyak orang
dari kroco hingga pejabat
bahkan pesuruhpun diikutkannya
berbagai cara dihalalkan
yang penting dapat kemudahan

Ketika ditangkap pun tak merasa menyesal
kau pandai berkelit badan
kau pintar bersilat lidah
tidak mau mengakui salah
padahal sudah jelas terbukti
masih juga lakukan usaha
untuk kebebasan diri
kau pintar bersilat lidah
enggan dituding bermental murah
padahal dirimu manusia serakah

Lihatlah negeri ini dengan matamu lebar-lebar
semua orang menjadi malu karena ulahmu
sebentar lagi negara ini akan rusak berantakan
menjadi bulan-bulanan bangsa lain
sekali lagi bukalah mata hatimu
sebelum azab mendatangi dirimu

Lihatlah negeri ini dengan mata hatimu
semua rakyatnya menjadi miskin
semua rakyatnya menjadi gundah
semua rakyatnya menjadi gelisah
semua rakyatnya menjadi susah
semua rakyatnya harus menanggung akibat

(Pondok Petir, 21 Pebruari 2013)

 

 

 

 

Kepada Negaraku
Puisi : Edy Priyatna

Sentuhlah semangat butir pagi
dengan senyum yang ramah
bunga di taman nan indah
akan selalu kusirami

Sebagai janji bakti kepada ibu pertiwi
mengabdi kasih jiwa dan raga
mainkanlah melodimu
bukalah matamu nan lebar

Berdenyutlah terus jantung hatimu
karena akan kuikuti irama itu
agar membangkitkan gairah
pencinta nusa bangsa

Menuntun langkah-langkah kedepan
sebagai nasionalis sejati
senantiasa memuja tubuhmu
tak seperti embun diujung rumput

Bagai rasa tak berkesudahan
hingga diriku berharap
jiwamu membakar cintaku
tanganmu menyambut nafasku 

(Pondok Petir, 24 Pebruari 2013)

 

 

 

 

Tanpa Rembulan
Puisi : Edy Priyatna

Senjaku terhalang kabut
merah jingga hanya terbayang
dibalik mega-mega hitam
titik-titik rindu mulai mengambang
menggantung diri di atas langit
turun perlahan satu demi satu
di tanah kosong

Lalu kubuka kain pengikat
tinggi di atas kepala luka
terbentur langit kosong
yang kini mendadak menjadi gelap
padahal hari masih petang
ingin rasanya menemani kekasih
memburu ujung rindu

Terlihat wajah nan sendu
tersaruk di belantara ragu
dengan langkah terus ke depan
membuat ku termenung
menanti sebuah susunan kata
sambil mereguk air-air rotan
guna melepas dahaga sesaat

Kini kembali kutatap langit
warna dan garisnya tetap sama
merah tak nyata lagi
walau hujan terlihat reda
malam tiba-tiba saja telah larut
nampak ada pendar cahaya
namun tak kulihat rembulan

(Pondok Petir, 26 Pebruari 2013)

 

 

 

 

Mengendap di Hatiku

Puisi : Edy Priyatna

 

Kau tetap menyimpan riwayat

pada pintu gerbang kecil

sesuatu senantiasa telah terhunus

mengalir cairan pekat berwarna putih

sebagai kelangsungan pemburuan

dapat membuat mati apa saja

 

Membangunkan jiwa

setelah malam berlalu

dan tetap menyimpan riwayat

menyimpan rasa sakit

yang menggerimis di mata indahmu

 

Bila saja kubenam rindu ke dadamu

ketika malam membelah senja

goresan kehidupan kuning jingga kemerahan

juga warna kenangan ada di matamu

 

Penutup hari pada minggu ini memucat

pintu dan jendela menelanjangi rembulan

purnama diam tak bergerak menanti fajar

udara di semesta sekedip bintang merenung

apakah ini

sepi berteduh di tubuhmu

daun-daun berdebu resah

waktu yang kau pinta mengendap di hatiku

 

(Pondok Petir, 06 Maret 2013)

 

 

 

 

Kesan yang Sama

Puisi : Edy Priyatna

 

Sebuah buku buram

mengingatkan aku lagi

akan gempa yang pernah kurasakan

di halaman berisi tumpukan-tumpukan

 

Waktu tersimpul jalin-menjalin tidak keruan

timbunan getaran itu kupikir adalah cobaan

dan orang yang sama denganku

di setiap lembar kata-kata di dalamnya

 

Setiap bunyi huruf yang ku baca

tak lain hanya angan-angan belaka

menyangkutkan cita-cita di atas langit

sungguh mengherankan

 

Di mana letak langit itu dan di mana orang yang sama

keberadaannya sirna bersama langit

tak terlihat oleh kaburnya mataku

saat kurasakan gempa sebelas tahun yang lalu

 

(Pondok Petir, 14 Maret 2013)

 

 

 

 

Tanpa Harus Ada Tanda-tanda

Puisi : Edy Priyatna

 

Tahun dua ribu dua belas

terdengar sebuah lagu yang amat tekenal

dalam sebuah kendaraan hitam

“…….dua-dua Januari tidak sendiri

berteman iblis yang baik hati

jalan berdampingan tak pernah ada tujuan

membelah malam mendung yang selalu datang

ku dekap erat………..ku pandang senyummu

dengan sorot mata yang keduanya buta

lalu kubisikan sebaris kata-kata

putus asa…………….sebentar lagi hujan”

 

Telah terjadi peristiwa besar

di mana dalam waktu beberapa detik

pada tengah hari bolong

namun dari pagi hingga siang tak terlihat adanya mendung

seperti tahun-tahun sebelumnya

ada orang di atas trotoar jalan

di hantam sebuah mobil hitam

delapan jiwa di cabut nyawanya secara bersamaan

atas perintah sang pencipta

tanpa harus ada tanda-tanda

 

(Pondok Petir, 14 Maret 2013)

 

 

 

 

Menciptakan Lukisan Indah

Puisi : Edy Priyatna

 

Air bagi penyair adalah unsur-unsur bahasa tulisan

mengalir menembus jantung gunung

menjadi renungan suatu angan-angan

tanah bagi penyair adalah seluruh keadaan hidup batin

 

Merasuk ke dalam tubuh tumbuhan

menjadi kebutuhan keberlangsungan kehidupan

api bagi penyair adalah pembakar jiwa

memanaskan tubuh mengobarkan semangat hidup

 

Menjadi penghangat gejolak hati

udara bagi penyair adalah impian

menembus mendekati langit jingga

menjadi jarak antara harapan dan kenyataan

 

Memilih angka-angka yang lain

larut dalam semangat

air tanah api udara

menciptakan lukisan indah abadi

 

(Pondok Petir, 15 Maret 2013)

 

 

 

 

Kau Tetap Menyimpan Riwayat

Puisi : Edy Priyatna

 

Kau tetap menyimpan riwayat

pada pintu gerbang kecil

sesuatu senantiasa telah terhunus

mengalir cairan pekat berwarna putih

sebagai kelangsungan pemburuan

dapat membuat mati apa saja

 

Membangunkan jiwa

melirik jam dinding

setelah malam berlalu

dan tetap menyimpan riwayat

menyimpan rasa sakit

yang menggerimis di mata indahmu

 

Suasana dingin hari sewaktu melewati

seperti angin yang berembus

membawa wewangian harum

membuat kuberhasrat mau

merasakan dirimu saat tak ada

saat kutepis adamu menjadi sunyi

 

(Pondok Petir, 16 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tak Jemu Mataku

Puisi : Edy Priyatna

 

Tak jemu mataku

melihat diri sendiri

sementara jari-jari

tangan terus mencari

 

Memilih huruf-huruf

hidup dan mati

otakku selalu berpikir

tanpa putus asa

 

Bergerak merayap

tak peduli kasatmata

untuk mencari kata-kata

merangkai keindahan

 

Tak jemu mataku

melirik jam dinding

yang menggantung di kamarku

mencari angka-angka yang lain

 

Larut dalam semangat

juga larut dalam lelah

namun benakku masih berpikir

lalu kuhisap sebatang rokok

 

Berharap senantiasa

mendapatkan kecerahan

kupandangi langit malam nan indah

menikmati keindahan

 

(Pondok Petir, 17 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sajak Cinta Cerah

Puisi : Edy Priyatna

 

Pagi ini kunikmati langit

berwarna biru segar nan indah

di terangi sedikit cahaya

sinar mentari di ufuk timur

membuatku mengucap syukur berulang-ulang

kepada sang pencipta

berharap senantiasa mendapatkan kecerahan

 

Lama kuikuti datangnya matahari

sambal merasakan kehangatan alami

di soroti bias cahaya

sinar harapan merasuk hati

demi mengharap cinta kasih

dzat yang maha tahu

menciptakan jiwa berseri bahagia

 

Bergerak merayap

terbang tinggi ke angkasa

menuju ujung langit

mengabaikan ratusan hijab

pada awal membantah kenyataan

akhirnya berjalan tanpa kaki

memandang bumi yang raib

tak peduli yang kasatmata

meneropong jauh keliling dunia

menembus ruang-ruang hakikat

 

(Pondok Petir, 17 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hujan Deras

Puisi : Edy Priyatna

 

Sangat indah datang pada hari ini

menggerimis jatuhnya

setitik demi setitik airnya

ikhlas menapaki bumi

di perintahkan oleh sang pencipta

 

Walaupun harus pecah pada atap-atap gedung

pada genting-genting rumah

pada pohon-pohon rindang

pada daun-daun lebat

pada batang ranting kering

pada rumput-rumput ilalang

hingga akhirnya menyerap di tanah

membuatku terpukau

 

Di balik rasa dingin

belaian angin yang lembut

mengantar beberapa rintik

melalui pagar halaman

menuju teras rumah

daun-daun jendela

lalu ke sebagian muka tubuhku

 

Kemudian kau bersendagurau

bercerita panjang tentang cinta

kisah rasa kasih nan abadi

dalam perjalanan jauh

mengenang kembali masa-masa silam

dengan kata-kata begitu mempesona

membuatku tercengang

 

Di balik rasa dingin

ketika kau datang mengirimkan aroma tanah kering

kembali kuingat sesuatu saat kau menemani

saat aku duduk sendiri disini

saat aku baru saja pindah ke tempat ini

saat hutan-hutan lebat

saat masih banyak kebun-kebun

saat sawah-sawah belum menjadi gedung-gedung

membuatku terkesima

 

Di balik rasa dingin

tiba-tiba tubuhku berubah menjadi pohon-pohon

lalu kau datang mengunjungi

airmu jatuh menderas di mataku

 

(Pondok Petir, 18 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Memberikan Semangat Hidup

Puisi : Edy Priyatna

 

Aku terhempas pada batu-batu

yang terpecahkan oleh waktu

padahal baru kemarin pendulang kembali pulang

setelah desa dilanda gempa

kumandang suara pujian pun

masih sayup terdengar

menjadi hiasan batang-batang pohon

berasap wangi-wangian kayu

 

Debu butiran arang melekat pada sandang lusuh

mentari menyoroti sinarnya yang jauh

menghitung noktah titik demi titik

hingga menyerap rasa panas

dari kejauhan kembali terlihat

para petani mulai membersihkan lahan

di atas sawah-sawah kering

menari rentak dengan pacul-paculnya

 

Di pintu halaman masjid seorang sesepuh bergurau

membiarkan angin membasuh dirinya

dengan selingkar sinar cahaya

setelah ia menyapanya dengan zikir

mendorong langkah menuju kearah kiblat

meninggalkan selonggok batu hitam

yang berbentuk kecil-kecil mengkilat jernih

dan ujungnya tajam seperti pedang

 

Akupun menimbun malam setiap hari

segumpal-segumpal kusimpan dalam diri

lentera kerap menerangi hatiku yang kelam

hingga dapat kuintai ujung rembulan

dan juga kutatap bintang-bintang

menyingkap tirai hijab nan gaib

memberikan semangat hidup

membangunkan jiwa untuk melangkah di pagi hari

 

(Pondok Petir, 19 Maret 2013)

 

 

 

Wajahmu Masih Tertinggal

Puisi : Edy Priyatna

 

Setelah tiba di pertemuan

kedua matamu langsung mencari

tempat rasa gembira dalam hariku

pada semua sahabat-sahabat

yang suka berkarya

yang sering berbagi

yang selalu setia

yang senantiasa ada

dalam alam angan-angan

 

Hingga menjadi sebuah pertemuan nan indah

dan membuat rasa cinta dan kasih yang amat mengharukan

 

Setelah kembali pulang

kedua matamu langsung terpejam

terkenang dalam tidurmu

semua masa saat kita bersama

bersedagurau sehari penuh

saling berkarya

saling bercerita

saling bergembira

saling melepas rindu

dalam kebersamaan

 

Hingga kini wajahmu masih tertinggal di hatiku

dan takkan ada seorang yang mampu menghapusmu………

 

(Pondok Petir, 20 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menahan Kerinduan

Puisi : Edy Priyatna

 

Waktu dari pagi ke pagi

telah lama hati tak haru

mencekam dan mendebarkan ketika diadu

di atas roda besi menderu

suara lantang tanpa irama saling bersahutan

rasa harum masa lalu asmara mengayun dada

mengarah ke udara

melesat ke langit

menuju tanah baru

tanah rangkat hijau

 

Di bawah peneduh

kita terus bernyanyi

melesuri jalan berliku

mengarungi arus mega sejuk damai

mengabadikan persahabatan kita di bawah pelangi

 

Sampai tiba waktunya

semua dari awal

pasti kan kembali lagi

harapan terbang melayang dalam angan

suka cita masih jauh di ujung sungai

menahan kerinduan bertemu

kereta terus bergerak bagaikan peluru

menyusuri rel jauh di atas tanah panjang

melewati pos ronda para penjaga

singgah sebentar di stasiun cinta

hingga berhenti selama-lamanya

 

(Pondok Petir, 21 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puisi Malam Gulita

Puisi : Edy Priyatna

 

Senja telah terlewati

mentari pun mulai menyebarkan gelap

sementara beranda hati masih terluka

cemara menderak memanggil kita pulang

saat jingga mulai menghilang

gerak langkah cepat tidak biasa

lambat dan berat mengiring kelam

membuat kita tak tahu arah kembali

hingga kita saling terdiam

dan kita hanya dalam puisi

 

Pada malam telah larut

saat lidahku mulai kelu

tiba-tiba terdengar satu suara

angin hembusan nafasmu

membuat rasa rindu nan mendalam

dan ingin kugambarkan kisahmu

dengan goresan sajak-sajak indah

namun semuanya itu telah berlalu

bagaikan angin lalu yang hembuskan

semua cintaku padamu

 

Ketika perubahan waktu

malam pekat saat ini

aku ingin kamu datang

tanpa harus di jemput lagi

namun bila tak hendak

segera katakan jangan tunda

karena aku akan berteriak keras

kepada diri yang hidup

kepada diri yang mati

bangunlah kembali berdiri dan berlari

 

(Pondok Petir, 22 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

Kepada Saudaraku

Puisi : Edy Priyatna

 

Ketika senja menjadi atap

rumah pemimpin tertinggi

bangsa kita yang selalu berperkara

membuat lelah semua jiwa

di tengah habisnya harapan hidup

saat berkata di nilai sederhana

saat orasi di anggap dusta

tak selalu pernah di gubris

hingga semua kata tak bermakna

pengusaha telah kehilangan hati

kau tiba-tiba hadir dengan ikhlas

tanpa senjata

tanpa atribut

tanpa suara

melakukan unjuk rasa

bertemankan api meninggalkan suara raga

 

Mungkin sejarah pertama bangsa ini

akan bermakna bagi rakyatnya

sementara penguasa amat menyayangkan

kendati simpati maupun sangat prihatin

namun kau telah menyadarkan semua mata

negara sudah dalam keadaan kotor dan harus di bersihkan

 

Sikap tercela yang kau lakukan

membuat semua hormat padamu

kau di sayangkan karena dia tak tahu makna

kau sudah bicara walaupun tanpa suara

 

Sekarang kau tidur terbaring lemah

dengan mata tertutup

di depan orang banyak

dengan matanya terbuka

sunyi telah menggugah masalah-masalah

penderitaan

penganiayaan

pembohongan publik

punyalahgunaan

pendustaan

pengkorupsian

serta asa-asa negeri yang telah sirna

sehingga bermanfaat bagi kemajuan bangsa ini

kami berharap kau segara terjaga

karena kami ingin menanyakan siapa namamu

 

(Pondok Petir, 23 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Angin Malam Ini

Puisi : Edy Priyatna

 

Angin malam ini

damai membilas tubuh-tubuh berpeluh

wajah-wajah pasi tidur berbaris tanpa topi

berbantalkan semangat pada tilamnya

 

Angin malam ini

terus menelusuri jalan-jalan darah

memasuki tulang-tulang belakang

mengibarkan bendera pada tiangnya

 

Angin malam ini

menyentuh dada membuatku terjaga

mengingatkan doa-doa tabur bunga

harum mu tak pernah sirna

 

Angin malam ini

secantik rembulan menjenguk

bumi tatkala tiba

membawa pewangi raut wajah

semua tercipta arena keinginan

saat inginku tak bisa

seakan tak sanggup meraih yang jauh

 

(Pondok Petir, 24 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanah Airku

Puisi : Edy Priyatna

 

Tempat pengumpulan tonggak sejarah

nan melahirkan darah-darah kita

cermin melihat luka-luka

tempat untuk sirna dalam resah

saksi dari semua permasalahan

arena pertarungan merebut kekuasaan

suber mata air dan air mata

 

Sumber semua tulang-tulang

yang memuncratkan sumsum-sumsum

alam yang satu dalam damai

tempat kita selalu berpijak

di mana tonggak-tonggak yang menegakkan

bilakah kita ingat tanah ini

bila kita sedang dalam kesusahan di atas kegembiraan

 

Air jernih mengalir berlimpah

dari mata dalam perut bumimu

semua melihat dan menikmatinya

semua mendengar suara angin mendesing

dari samudera melewati pantai yang indah

menembus kesejukan pengunungan

membuat ikan-ikan menari di riak sungai

 

Burung-burungpun bernyanyi di pepohonan

adalah nyanyian bumi nan kaya raya

sudah letihkah kau melindungi kami

dan kita pemiliknya yang beruntung

karena isi alam ini anugerahNya

kita selalu bersyukur ikhlas kepadaNya

semoga bumi dan langit senantiasa damai karenaNya

 

(Pondok Petir, 25 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

Suara Lantang-lantang Merdeka

Puisi : Edy Priyatna

 

Kini aku terdiam seribu basa

dengan wajah yang masih muram

menghapus peluh air mata kiri dan kanan

mengeja jarak yang melukai hati

mencincang kata-kata yang ku anggap merdeka

dari hidup yang dulu jauh sesudah perang usai

dengan mendengar suara-suara lantang

yang berteriak dengan bahasa asing

 

Dalam mengadu berbagai macam alasan

pada sebuah diskusi yang besar

pada catatan hidup yang belum bersih

dari raut wajah bernoda biru

disiksa atau tersiksa

aku berusaha tersenyum walau membeku

panggailan suara nyaring

tetap tak di dengar oleh para penghuni tanah

 

Rindu yang tulus takkan lekang oleh waktu

adalah senandung pengantar tidur

status yang tertancap dalam kalbu

yang berduka bagaikan mayat tanpa rumah

saat berlari di setubuhi takut

tidak panjangpun tak berani di tunggu

kerinduan bagai api yang selalu menyala

dalam tidur masih tergambar warnanya

 

Ada waktunya kita mengenal lemah

bukan larut dalam kekalahan

ada saatnya kita mengenal kuat

bukan larut dalam ketakutan

suatu saat pasti kan datang

kita tak mungkin lagi selalu penuh rasa

di atasi dengan mantra-mantra

di tidurkan dengan cerita bintang dan rembulan

di beri angan keindahan pelangi-pelangi

sesungguhnya kita butuh keterbukaan dan kenyataan alami

dan nilai kita bukan kalah atau menang

juga bukan sedih dan senang

karena kita yang terbang membelah langit               (Pondok Petir, 26 Maret 2013)

 

 

Karna Indonesia

Puisi : Edy Priyatna

 

Hari hujan semakin dekat

tapi karna semakan dekat

dengan komputer warnet

membuat cemas ayah dan ibu

ketika datang waktunya

harap tenang ada yang ujian

 

Karna tenang menghanyutkan

ia tak gentar menghadapi

lancar laksanakan semua ujian

keluarkan kemampuan daya maksimal

ketika datang waktu usai

harap di kumpulkan dengan tertib

 

Saat pengumuman tiba

hati mulai berdebar

tiba-tiba menjadi kejutan

karna lulus dengan terbaik

nilai rata-rata sepuluh ia dapatkan

sungguh luar biasa sangat membanggakan

 

Karna itu bapak datang……….

pemilik sekolah internasional

mengajak anak untuk bergabung

tanpa harus bayar biaya sekolah

tapi mesti ikut syarat ujian masuk

karna anak jenius lulus di terima dengan baik

 

Ketika bapak datang menjemput

karna menolak dengan alasan

di sana tak ada mata

pelajaran sejarah Indonesia

“Saya orang Indonesia…….,” katanya tegas.

“….bagaimana saya akan menjadi Indonesia,

kalau tidak pernah belajar sejarah Indonesia?”

 

(Pondok Petir, 27 Maret 2013)

 

 

 

Semangat Keikhlasan

Puisi : Edy Priyatna

 

Deretan rindu nan panjang

mengelana tanpa arah

membawa sajak-sajak

kesenyapan malam

hanya berkawan mimpi-mimpi

 

Keinginan bertemu kan datang

senantiasa tak bertuan

mengembara ke ujung negeri

mengejar semua bayang-bayang

untuk rindu yang terus menggelisahkan

 

Langkah kehidupan alam dunia

hanya sekejap saja

tanpa terasa usia

bertambah senja

semakin tiba di penghujung tahun

 

Waktu ini menjadi penilaian

gambaran kualitas hidup

jadikan peningkatan diri

menuju prestasi

lebih baik lagi di masa mendatang

 

Lembaran baru segera tiba

siapkan dengan isi

jangan sampai kosong

semangat perjuangan

harus selalu ada dan terus berkobar

 

Dengan roh kehidupan nan menjiwai

bersimpuh tiada henti

guna kehidupan lebih baik

dengan segala keikhlasan

senantiasa berkah dari Sang Pencipta

 

(Pondok Petir, 28 Maret 2013)

 

 

 

Negeriku Senantiasa Mewangi Sepanjang Masa

Puisi : Edy Priyatna

 

Saat ini aku berdiri di pematang sawah

luasnya sudah mulai berkurang

namun masih melihat indahnya gunung hijau

lukisan sempurna Sang Pencipta

tanah airku

 

Setelah kusebrangi bukit nan sedikit tandus

karena tumbuhannya sirna

akan berlari menuju pantai yang biru

di iringi hembusan angin sejuk

hingga terdengar suara ombak menderu

tanah airku

 

Langkahku terhenti dalam puisi

lalu melukis di dalam benak

gempuran badai mendera hati

letusan gunung menghetak jiwa

getaran bumi membelah hidup

sayup-sayup terdengar jeritan tangis ibu pertiwi

tanah airku

 

Ketika terjaga aku merunduk sedih

karena tak mampu melakukan apa-apa

hanya tangis tertumpah bersama doa

berharap melihatmu kembali bangit

benderamu selalu berkibar tinggi

senantiasa mewangi sepanjang masa

 

(Pondok Petir, 29 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sahabat, Masihkah Ada Aku Untukmu

Puisi : Edy Priyatna

 

Menepi dalam ketenangan

lepas bebas dalam alam kabir

pelangi fatamorgana mengurai

memulangkan luka sendiri

 

Lupakah aku akan segalanya

ketika terjaga dalam sorotan terik mentari

memaknai harfiah realitas

keredupan senja sisipkan sunyi

 

Sahabatku

berpalinglah sebentar walaupun jauh

tempatkan aku di ronggamu

datanglah dari letak diri

sampaikan isi hatimu

aku rindu kebersamaan

 

Sahabatku

tolong tatap raut muka ini

lihat dada nan lapang

sorot tajam mata hati

sahut suara dari mulut

semua yang kumiliki

masihkah ada aku untukmu

 

(Pondok Petir, 29 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Negeri Itu Tak Lagi Memiliki Pagi

Puisi : Edy Priyatna

 

Menurut kata sahibulhikayat

ada sebuah negeri impian

konon negeri ini

menjadi negeri para penangis

berpenghuni jutaan kesedihan

dalam dongeng-dongeng tragis

di mana semua isi buminya hampir sirna

 

Menurut kata sahibulhikayat

ada sebuah negeri impian

sebuah republik

yang para pemimpinnya tertidur

sepanjang hari

di atas kursi-kursi hangat

di balik ruang janji-janji

hingga tak sadar hartanya di curi

 

Menurut kata sahibulhikayat

ada sebuah negeri impian

ternyata negeri ini

sudah tak punya rembulan

bahkan tak punya matahari

yang ada hanya bayang-bayang ilusi

menutupi para penguasa memperkaya diri

 

Menurut kata sahibulhikayat

siapkan dengan isi

jangan sampai kosong

semangat perjuangan

harus selalu ada dan terus berkorban

kini negeri itu tidak lagi memiliki pagi

karena di sini esok tak pernah pasti

 

(Pondok Petir, 30 Maret 2013)

 

 

 

 

 

 

Lihatmu Rindu, Langkahkan Satu Kaki

Puisi : Edy Priyatna

 

Dengar getarannya

dengar suaranya

sajak-sajak kumandang

di langit biru berhitam

 

Ketika mata air menjulang

di bawah rumpun bambu

saat sawah mulai meninggi

batang-batangnya tergerai

 

Di ringi suara tiruan bunyi papan bersangit

kau masih mendengar getarannya

setelah lepas dari pandangan

tak terhindar pada mataku

 

Pada desa negeriku ini

akan kubangun rumah-rumah

di semai dari banyak pohon

hingga tumbuh bunga-bunga indah

 

Saat kudirikan

akan kubuat pondasi yang kokoh

di bentang dari batu cadas

agar tak goyah gala gempa melanda

 

Setelah selesai

akan kulukiskan warna-warni

di semai dari banyak bunga

agar indah sejuk dan damai

 

Pada rumah-rumah itu

akan kutanam benih-benih kasih

yang kubawa dari pondok petir

sehingga menjadi rumah-rumah cinta

 

Lihatmu rindu lihatku juga

langkahkan satu kaki

kuraih tubuh menbentang

kupegang tangan tanah

kupeluk batang sawah

kubelai pulau-pulau

kucium mulutmu demi cinta

 

(Pondok Petir, 31 Maret 2013)

Tak Seperti Embun Diujung Rumput

Puisi : Edy Priyatna

 

Sebenarnya pada hamparan

bumi indah nan luas bebas

warna sudah sangat merah putih

dibalik kepekatannya tersirat jelah

seruan memekik keberanian suci

membanggakan segala hati

memacu terus berjuang

semangat kemedekaan tiada henti

 

Tersadar dari keterpurukan

dari sebuah permainan emosi

karena pemicu memacu ganggu

pemusatan daya ingat

bukan rasa yang tumbuh

tertutup lapisan kemauan

hingga menghasilkan derita

padahal penderitaan bukan sifat kita

 

Hilangnya rasa bertenaga

terganggu tanggapan hati

berganti pada dasar alami

melatih diri untuk biasa

akan kembali sendiri

akan berubah nyata

kemudian membakar semangat

bangkitkan untuk maju kembali

 

Sekarang waktunya menampilkan

laga pada hamparan

tanah tumpah darah kita

tanah air bangsa

maju selangkah demi selangkah

dalam kebersamaan

untuk bangkit kembali

untuk kibarkan bendera

 

Kemauan dalam berlomba

gelora untuk menang

semangat untuk juara

sentulah semangat butir pagi

dengan senyum yang ramah

bunga di taman nan indah

akan selalu kusirami

sebagai janji bakti kepada ibu pertiwi

 

Membaktikan kasih jiwa dan raga

mainkanlah melodimu

bukalah matamu nan lebar

berdenyutlah terus jantung hatimu

karena akan kuikuti irama itu

agar membangkitkan gairah

pencinta nusa bangsa

bangkinkan untuk maju kembali

 

Mengendalikan langkah-langkah ke depan

sebagai nasonalis sejati

senantiasa memuja tubuhmu

tak seperti embun di ujung rumput

namun sebagai rasa tak berkesudahan

hingga diri berharap

jiwamu membakar cintaku

tanganmu menyambut nafasmu

 

(Pondok Petir, 01 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari Ini Aku Tak Dapat Kembali

Puisi : Edy Priyatna

 

Hari ini aku baru sadar

telah terjerumus

telalu jauh kedasar hatimu

menelusuri sawah hijau

menhyebrangi sungai bening

melintasi hutan belantara

gunung-gunung menjulang

awan putih langit biru

berdebar jantung

bungamu amat harum

begerak masuk kesemua urat nadiku

meleleh keseluruh nafasmu

tak pernah ku pikirkan luka

 

Hari ini aku telah terjerumus

terlalu jauh kedasar hatimu

kau sangat menyenangkan

jalan sunyi yang berliku

sebelum mengalir pahit

di sisi rel kereta tepi sawah luas

pengujung jalan ini

 

Hari ini aku tak dapat kembali

karena telah terlalu jauh

memasuki hatimu

tanpa tahu dimana akhirnya

atau hingga waktu tiada kita

 

(Pondok Petir, 02 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rindu Kembali

Puisi : Edy Priyatna

 

Mulanya malam ini aku melewati rumahmu

jalan raya menjadi batas perintang

lamunanku terasa panjang

tentang tawamu duku

di halaman depan rumah

menjadi selambar goresan

terdapat bayangan angan

 

Bias dalam kaca

ada rasa kecewa

yang lepas dalam nafas

semua pembicaraan kita

akan berubah nyata

tercatas jelas di halaman muka

buku rinduku

 

Biarkanlah aku terbang

bersama burung-burung malam

walaupun medannya cukup sulit

dan menelan segala energi

selama waktu masih terus berjalan

untuk kembali turun pada pagi hari

ke kampung halaman

 

Ketahuan ada kasih yang hilang

pada sayap-sayap retak

terbukti ada cinta yang putus

pada ekor terpatuk lawan

terbukti ada rasa rindu yang dalam

pada tembolok merambat ke paruh

membawa dirimu ke mimpi tidurku

 

Kini biarkanlah aku sediri beralih

melepaskan lelah perjalanan

di atas pembaringan putih

panjang membentang harapan

sejenak melupakan segala rasa

menepiskan semua keraguan

untuk senantiasa selamanya bersamamu

                                                                                                           (Pondok Petir, 03 April 2013)

Kasih Kudekap Dirimu

Puisi : Edy Priyatna

 

Andaikan keranjinganku dapat menarik perhatianmu

atau malah merupakan angka nol besar bagimu

maafkanlah aku karena aku suka nol kecil

aku dapat melihat di dalam mataku

pada lintup bayangannya ada sedikit pendar cahaya

ketika senja aku bersandar di pondoknya

 

Kemudian terhantar dalam tidur yang indah

dalam rindu kubelai rembulan

dan kusapa bintang-bintang

kulipat pelepah daun panjang menjadi hiasan

sambal kurebahkan diriku yang letih

lalu kuberi minum bibirku yang dahaga

kepenuhi semua gairahku yang telah menanggung rindu

 

Prima bertemu ketika kita masih terasa asing

tak ada rasa selain dukaku melangkah di jalan itu

bulat polos tidak terselubung

bergerak lemah masygul

sedih seperti gagal

membisu dalam kekecewaan

membelenggu diri yang telah bergulat mati-matian

 

Sebagai sajak………..

kau di bunuh kehampaan dan kebodohan

membuat jiwa bergetar

saat sorot mataku tak berkedip menatapmu

serasa ada benda tajam mengalir dalam darah

membersihkan seluruh jantungku

dalam bayangan matamu yang bening

jika suatu saat nanti kita bertemu kembali di jalan itu

maka akan kudekap dirimu dan juga jalan itu

 

(Pondok Petir, 04 April 2013)

 

 

 

 

 

Bungaku Melayang Terbang
Puisi :Edy Priyatna

Dihargai semua orang
setiap saat tanpa melihat waktu
bunga lima helai daun mahkota
mengandung cinta kasih sayang
lambang anti kekerasan
senantiasa menerima keadaan
baik dan buruk secara alami

Semerbak pada hembusan angin
mengundang para sahabat
dalam rasa bersukacita
beradaptasi dengan duri lurus
menahan kerusakan melindungi diri
terlihat sejuk dipandang mata
bermanfaat nan amat sangat

Merah putih hingga jingga
daunnya hijau sepanjang jaman
wanginya tak lekang oleh waktu
selalu cantik karena berduri
saat udara bersuhu rendah
mendatangkan rasa menggigil
dan kuteteskan rasa haru

Telah membebani otakku
terus terpatri dalam hati
mendatangkan rasa menggigil
kenapa menjadi lupa pada diri
melayang terbang
tak melihat mata rasa
sehingga mati rasa

Seperti dingin terpaut luka
dan timbul abses cinta
akan kembali sendiri
akan berubah nyata
melayang terbang
dari kesenyapan
terpelesat ke angkasa
                                                                                                         (Pondok Petir, 04 April 2013)

Pada Malam Sepi
Puisi : Edy Priyatna

Barangkali sebagian diriku
akan tetap berdiam di sini
menjadi kenangan lama
namun aku ingin pergi jauh
entah kemana

Selaku warga alam fana lainnya
yang melihat secara baik segala kehidupan ini
sementara semua luka akan kusembuhkan
karena pasti akan sirna sendiri
seperti dulu
ketika kita berjumpa pertama kali

Selepas masih secara paling indah
walau bagaimanapun aku akan tetap
mempertahankan rasa kasih yang tertinggal
pada saat pagi
aku berangkat melangkah
mengikuti arah jejak angan
kembali menelusuri jalan berliku berdebu

Kardia pun berdetak
mengejar waktu berputar
kau sangat melindungi bermanfaat
kau amat berguna bagi siapapun
ketika senja pada bayang sirna
hari masih tetap terus mengalir
aku tak pernah berhenti pada batas
karena dewi fortuna di antara ada dan tiada

(Pondok Petir, 05 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Korupsi Para Pejabat Negeri
Puisi : Edy Priyatna

Musim ini terjadi lagi
bagaikan kompetisi bola dunia
sebuah berita tidak menyenangkan
bukan karena ada kalah atau menang
tetapi kisah kasus pejabat-pejabat lalai
dalam mengemban tugas negara
yang sangat menyedihkan rakyat
seperti selalu tiada henti

Musim ini jumlah tikus-tikus bertambah lagi
tikus-tikus negeri yang menggrogoti uang rakyat
telah tercatat diseluruh media
padahal sudah dijaga ketat agar tidak merajalela
namun masih tetap terulang kembali
lolos dan bebas dari penjagaan
yang lebih menyakitkan
ditangkap pun akan sia-sia

Musim ini penipuan terjadi lagi
bukan sebagai prediksi
bukan basa-basi
bukan kisah fiksi
bukan cerita sensasi
bukan berita informasi
bukan berita ilusi
kicauan burung-burung gereja diatas gedung tinggi

Musim ini terjadi lagi
korupsi para pejabat negeri
kisah nyata senantiasa jadi cerita
yang menjadikan
semua rakyat menangung akibat
semua rakyat menjadi tambah menderita

(Pondok Petir, 06 April 2013)

 

 

 

 

 

Setelah Kemarin Meraih Kebahagiaan
Puisi : Edy Priyatna

Pada pagi hari ini
aku siapkan sebuah anak panah
rasa dukaku yang dalam
untuk dilepaskan keatas langit
setelah kemarin meraih kebahagiaan
yang tak dapat dinilai berapa besarnya

Hujan belum mau jatuh ke bumi
ketika aku melangkahkan kaki kecil
meski kabut senja
membuat samar mata memandang
jauh di depan masih ada seberkas sinar
namun keyakinan masih diserang keraguan kalbu

Pada siang harinya
akan aku sampaikan cerita ini
langsung pada matahari
saat angin mulai bergerak
ditengah datangnya kecerahan
hingga membuat diriku merasa lebih lega

Cerah pada langit mulai bergerak
menandai lubang-lubang hitam
kendati angin badai membelai jiwa putih
menghempas memperpanjang waktu
untuk tiba disudut ruang baru
mengabadikan air kesedihan

Pada malam harinya
aku akan titipkan busur pada bintang
agar mereka menyampaikan
rasa kasihku yang besar
pada rembulan yang telah pergi
agar dapat kembali lagi dengan bulatnya

(Pondok Petir, 07 April 2013)

 

 

 

 

Untuk Sebuah Cita-cita Mulia
Puisi : Edy Priyatna

Demi kutatap matamu
tergambar ada cinta tertahan
menanti indikasi luapan mendung
tanpa terucap peluklah daku
leburkan aku dalam hujanmu
sebuah kebimbangan di depan pintu hati
yang masih terkunci rapat
ketika kita memegang lilin
kolaborasi akhir waktu lalu

Ketika itu aku tahu kau tak tahu
telah datang rintik-rintik kesejukan
yang terbaring diatas mega kelabu
tertahan turun oleh kegalauan
dalam benak nan kacau
sebuah ketidaktahuan yang mendebarkan
yang membuat sirna rasa sakit
lama membenam tahun-tahun lalu
sebelum pertemuan itu tiba kemarin

Waktu akhirnya titik-titik air berjatuhan
terasa deras hati ini tersiram
ketenangan telah menyelimuti
jiwa yang terbanjiri kehangatan
oleh tujuh pasang mata nan indah
sebuah kenangan cinta abadi
takkan terlupakan selama-lamanya
tercatat pada langit biru
untuk sebuah cita-cita mulia

(Pondok Petir, 08 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tanganmu Menyambut Napasku
Puisi : Edy Priyatna

Singgunglah semangat butir pagi
dengan senyum yang ramah
bunga di taman nan indah
akan selalu kusirami

Selaku janji bakti kepada ibu pertiwi
mengabdi kasih jiwa dan raga
mainkanlah melodimu
bukalah matamu nan lebar

Bergeraklah terus jantung hatimu
karena akan kuikuti irama itu
agar membangkitkan gairah
pencinta nusa bangsa

Mengendalikan langkah-langkah kedepan
sebagai nasionalis sejati
senantiasa memuja tubuhmu
tak seperti embun diujung rumput

Laksana rasa tak berkesudahan
hingga diriku berharap
jiwamu membakar cintaku
tanganmu menyambut napasku

(Pondok Petir, 09 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menciptakan Kebersamaan yang Indah
Puisi : Edy Priyatna

Sebentuk realisasi kehidupan yang berjalan
suka dan duka
dalam cerah membentang mega kelabu
dalam kegembiraan ada kesusahan
dalam suka terbesit kesengsaraan
kaki tidak dapat digeraki
tetapi hidup tidak untuk disesali

Jagat terkadang tak seindah yang terlihat
biru dan hitam
dalam gulungan kerap mangsai
dalam senyum besar para pemimpin
ada tangisan kecil rakyat
saat epidemi tiba dari muka hingga ke batas
saat itu pula penyelewengan naik ke permukaan
hati ini ingin menjerit

Bukit nan selalu ramahpun menjadi murka
sejuk dan membara
dalam gelap tangannya berdarah
dalam menuntut rasa kemanusiaan
penuh perjuangan hidup hingga mati
setiap bala bantuan datang bagi rakyat
setiap itu pula kebahagiaan pemimpin tiba
masuk ke dalam kalbu nan resah

Aktif penuh cita-cita
suka dan duka
namun lidah ini terasa kelu
kehidupan adalah bangkit
dari putaran dan keterpurukan
betapa beruntungnya kita ini
telah hidup di negeri berdaulat
walau keadilan masih belum begitu dijunjung tinggi

Menggembirakan kita belajar hidup
kendati belum maksimal
kesinambungan berjalan perlahan
bertahan dalam damai tanpa perang
negeri sejuk karena kerukunan
menciptakan kebersamaan yang indah
menuju masa depan dengan keihklasan
dalam perlindunganNya pada setiap waktu
(Pondok Petir, 10 April 2013)

Panggilan Suara Nyaring
Puisi : Edy Priyatna

Saat ini aku terdiam seribu basa
dengan wajah yang masih muram
menghapus peluh air mata kiri dan kanan
mengeja jarak yang melukai hati

Melenyapkan kata-kata yang ku anggap merdeka
dari hidup yang dulu jauh sesudah perang usai
dengan mendengar suara-suara lantang
yang berteriak dengan bahasa asing

Suara hidup suka dan duka
dalam mengadu berbagai macam alasan
pada sebuah diskusi yang besar
catatan hidup yang belum bersih

Tentang raut wajah bernoda biru
aku berusaha tersenyum walau membeku
panggilan suara nyaring
tetap tak di dengar oleh para penghuni tanah

(Pondok Petir, 11 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku Telah Tiada
Puisi : Edy Priyatna

Mencapai tiba waktunya
aku akan tunjukan pada kalian
sekaligus aku tutup diriku
tapi jangan kalian anggap aku ini siapa
anggap saja aku makhluk baru

Telah hampir setahun bersamamu
dan setiap hari selalu kalian robek diriku
atau anggap saja aku makhluk lama
yang bangkit dari keterpurukan
lalu akan segera beranjak pergi

Mendarat mampir diruang diri
semua tercipta karena keinginan
saat inginku tak bisa
seakan tak sanggup meraih yang jauh
takkan pernah kembali lagi

Tanpa kalian sesali diriku
harapku agar kalian pahami ini
aku belum menginginkan kalian saat ini
namun jika aku telah membeku
kalian pasti tahu bahwa aku telah tiada

(Pondok Petir, 12 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Warnanya Telah Berubah
Puisi : Edy Priyatna

Sikunya amat tajam
diasah goresan hitammu
menusuk dan membakar dengan gemas
membuat kobaran api sepi menjadi kelam

Saat menjadi bunga dalam mimpi
durinya menjalar pada ranting
tak ada tangan-tangan yang datang
hingga tak terpetik lagi

Akan datang setelah bait-bait dalam sajak
terlulis dengan kegosongan
hitamnya dimasukkan ke dalam gelas
raut wajah terlihat tak jelas

Saat ini warnanya telah berubah
hingga membuatku terjaga
dan sadar bila membiarkan emosi
bagai tak memiliki cermin untuk introspeksi

(Pondok Petir, 13 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semangatku Tak Pernah Padam
Puisi : Edy Priyatna

Engkau selalu memiliki matahari
yang mencari sajak indah
untuk kusunting sebagai hiasan kata-kata
pada tiap lekuk cantiknya

Senggat melahirkan berahi sepanjang hari
setiap malam kucumbu dengan senandung
alunan gita lembut nan merdu
ketika pagi menjelang kupeluk dengan puisi

Bagi karena kejauhanmu
yang tak pernah ingin berhenti mencuri
maka kau tak pernah tahu
dengan mimpi-mimpi aku mencarimu

Ibarat asa yang tertandu di kelopak mata
tertahan ditelan prahara
terlihat wajahmu berona putih
ranum bercahaya indah

Sore ini kau kembali bertakhta
merajut ulang keramaian masa lalu
bersenda gurau nikmat nan syahdu
meskipun semuanya tak pernah nyata

Lamun aku mampu merasakan hadirmu
laksana angin sejuk dalam perjalanan
tawa ekspresifmu yang tanpa suara
lentera ruang mimpiku

Celoteh keinginanmu
yang terdengar dari kejauhan
adalah halaman kehidupan
semangatku tak pernah padam

(Pondok Petir, 14 April 2013)

 

 

 

 

Kepada Pemuda Indonesia
Puisi : Edy Priyatna

Nang dulu telah berjuang
kemudian menjadi pahlawan
kini telah mewarisi
janji sumpah yang senantiasa bergema

Jangan berhenti di seluruh penjuru nusantara
kami putra dan putri Indonesia berjanji
akan menjaga untuk tetap bersatu
mengabadikan lentera nusantaramu

Untuk melebur semangat
menjadi pedang yang tajam
untuk selalu menjaga tetap bergema
kami putra dan putri Indonesia

Mengaku bertanah air satu, tanah air Indonesia
mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
mengaku berbahasa satu, bahasa Indonesia
sebatas mentari tenggelam di seberang timur

(Pondok Petir, 24 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lukisan Senja
Puisi : Edy Priyatna

Jarum jam di dinding terus berputar
tak pernah berhenti
hari pertama mulai berkesan
penantian mendebarkan hati
menyentak rasa suka citaku

Kecil hati selalu putaran itu
geraknya begitu cepat
padahal belum sempat berkata maaf
pada mereka semua
orang tuaku
keluargaku
saudaraku
sahabatku
atas kesalahan yang melimpah dalam hidup

Jarum jam di dinding terus berputar
tak pernah berhenti
pagi terlihat sangat cerah
embunnya menguap pancarkan sinar
membangunkan jiwa pelangiku

Beradulah sebentar
aku akan mengatakan sesuatu
ampunilah dosa-dosaku ya Allah
ampunilah dosa-dosaku ibu
ampunilah dosa-dosaku ayah
ampunilah dosa-dosaku istriku, anakku
ampunilah dosa-dosaku adik-adikku, kakak-kakakku
ampunilah dosa-dosaku saudara-saudaraku, sahabat-sahabatku

Jarum jam di dinding terus berputar
tak pernah berhenti
siang datang begitu pesat
serupa terang mentari melayang
menembus batas rinduku

Sanggupkah menunggu barang sejenak
mengapa kau tak menjawab pertanyaanku
goresanmu telah melingkari hati
melepas semua rindu pada malammu
bayangmu biaskan jiwa yang tenggelam

Jarum jam di dinding terus berputar
tak pernah berhenti
malam masih tetap terjaga
bagai gelap yang telah sirna
menghilang dibalik rembulanku

Mewujudkan mimpi-mimpi indah
kenangkan di dada tentang jiwa
teteskan kesejukan dalam damai
torehkan keindahan dalam ramai
hingga tembus dalam ruang dan waktu
akan kuterbangkan angan

Terhadap lukisan senjamu
kunyanyikan kidung-kidung malam
untuk penutup langitmu
lalu kutulis dalam lembar-lembar hati ini
tentang cerita malam serta pesan dan kesan
agar tetap dapat tersimpan semua cita-cita kita

(Pondok petir, 25 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang Melepaskan Isi Jiwa
Puisi : Edy Priyatna

Hayat ini mulai ringkih
setelah melangkahkan kaki
pada malam tak bergairah
kemudian………..
dibiarkannya langit hitam nan kosong

Sayur tak bersuara
ketika datang hampa udara
menunda turunnya hujan
dibiarkannya lembar goresan beku
dengan setangkai pena kaku

Tercatat tajam dalam sajak
menusuk dada yang sesak
dibiarkannya matahari melumat tubuh
memancarkan cahaya sinar
yang melepaskan isi jiwa

Beramanat damai di dalam ramai
di atas segala bentuk isi jantungmu
sambil menghitung dengan pasti
panggilan yang mampir di ruang diri
padahal kematian bukan sekedar kepindahan

(Pondok Petir, 26 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penanam di Desaku
Puisi : Edy Priyatna

Bangkitlah dengan semangat kebahagiaan
lupakan keresahan-keresahan
bercahayalah dengan keseimbangan
cerahlah dengan senyum matahari
berawan putih di langit biru

Berladang kuning di sawah hijau
di tanah merah berlapis coklat
lapisi abu-abumu dengan jingga
lalu hujanlah untuk melepas segala kerinduan
keindahan hati…..
kesejukan ruang……
kedamaian jiwa…….
keramaian desa……..

Musim telah lewat walau perlahan tapi amat pasti
kenangkan pertemuan-pertemuan
simpanlah dengan rasa kasih
sayangilah dengan cinta suci nan abadi
berkesan indah di dalam sejuk

Beramanat damai di dalam ramai
di atas segala bentuk isi jantungmu
kibarkan bendera semangat
lalu beningkan mata airmu untuk kebersamaan
sahabat sehati………
sahabat seruang……….
sahabat sewaktu………..
sahabat sejati…………

Yaum adalah lembaran baru bagimu
jejak langkah-langkah mulai tertanda lagi
akan ada banyak pelangi yang menghiasi sawahmu
senantiasa memberikan nikmat para petaninya
perkenankanlah aku menuturkan goresan hati

Secantik rembulan menjenguk bumi
semua tercipta karena keinginan
semangat ulang tahun
tolong catat dihatimu
aku juga penanam di desaku

(Pondok Petir, 27 April 2013)

Sajak dalam Tanah
Puisi : Edy Priyatna

Detail sajak-sajak sunyi
terukir data-data penyair
pada batu-batu pualam indah
yang ditanam sebagai tonggak

Di arah tanah kavling
lalu setelah selesai membaca
tak perlu ditanyakan lagi
siapa yang terdahulu dilahirkan

Keadaan ini aku pergi ke desa
membawa pesan dari sahabat
kabar gembira dari semesta
dikala langit sedang berwarna-warni

Lapisan bianglala indah
kemudian air jatuh membawa nasihat
memberi kekuatan penuh semangat
pada hujan dalam bulan

Kurun memberi harapan
sementara angin menggerakan tubuhku
tunas dan buah pun tumbuh
karena pergumulan tabu

Siapa aku, siapa kamu
siapa kita, siapa waktu
sehingga berjalan begitu akrab
langkah hati mewujudkan percakapan

Mewujudkan sajak-sajak yang terus mengalir
maka disinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala
dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan
untuk hari esok……………

(Pondok Petir, 28 April 2013)

 

 

 

 

Maut Menjemputku
Puisi : Edy Priyatna

Manakala maut menjemput
tiada seorangpun mampu menolak tuk turut
tubuh menggigil penuh rasa takut
tak berdaya melawan malaikat maut

Seketika jiwaku terasa sarat
entah mengapa tubuhku menjadi berat
apakah ini yang dinamakan sekarat
jiwa masih tak yakin

Maka maut telah menjemput
terlalu banyak dosa yang kuperbuat
tanpa ada waktuku untuk bertaubat
kemarin aku masih tertawa ria

Musim ini diam seribu bahasa
kemarin aku masih berlari gembira
hari ini berdiripun tak kuasa
kemarin aku masih menulis cerita

Tanggal ini menggerakkan jaripun aku tak bisa
tubuhku terbujur kaku tak bernyawa
tak pedulikan jerit tangis mereka
yang membawaku menuju peraduan terakhir raga

Merindukan hingga kiamat tiba
yang entah berapa tahun lagi lamanya
kini dalam gundukan tanah aku sendiri
tiada suatu apapun yang menemani

Tetaplah pada jalur jiwaku
semua harta milikku kini tak berarti
anak, orangtua, keluarga, saudara dan teman
meninggalkanku seorang diri

Serta aku benar-benar sendiri
menyaksikan siang dan malam tanpa matahari
membiarkan cacing dan serangga menggerogoti jasad ini
dalam gelap yang pekat dalam sunyi dan sepi

Seketika mataku terbuka lagi
aku terjaga dari mimpi
tanpa terasa air mata membasahi pipi
subhanallah ternyata Tuhan telah membuka mata hati

Karena takut tak kan menyesakkanmu
dengan serangkaian peristiwa ini
dihadapanMu kubersujud berserah diri
bertaubat dan melaksanakan kewajiban Illahi

(Pondok Petir, 29 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranum Menantang Telanjang
Puisi : Edy Priyatna

Gerimis belum mau jatuh ke bumi
ketika aku melangkahkan kaki kecil
meski kabut senja membuat samar mata memandang
jauh di depan masih ada seberkas sinar
namun keyakinan masih diserang keraguan kalbu

Sebaran pada lendir kelemayar memberi petunjuk
jalan berliku kian sarat kelelahan
mengikis habis sedikit demi sedikit
setubuh daya raga memberi pilihan
patah atau semangat yang hinggap

Jeluk hati yang selalu ada keluh
mengganggu benak untuk berperang
setelah habis mengasah pikiran
jejak-jejak dapat tertapak
meninggalkan rasa sia-sia

Bening pada langit mulai bergerak
menandai lubang-lubang hitam
kendati angin badai membelai jiwa putih
menghempas memperpanjang waktu
untuk tiba disudut ruang baru

Melestarikan air kesedihan dan gelas kegembiraan
pada dinding yang melukiskan angan
tempat membuat cinta dan cita
untuk dipersembahkan Sang Pencipta
dengan harap terhingga pada kelemahan hati

Binar itu akan datang
disetiap tarikan hembusan nafas
disetiap detak-detak jantung
akhir sebuah keyakinan kiranya takkan sia-sia
Ingin angin malam mendekap kesunyian

Saya yang sendiri berjalan dipersimpangan
bulan hilang ditelan kelam awan
memandang lelap wajahmu
kuharap ada kepastian
manakala kau terjaga di keesokan fajar

Pacak seksi bertubuh padat
penuh coretan hitam
terurai panjang menggemaskan
tergambar jelas dilembar daun kuning nan kering
terlihat membentang merangsang

Jangan terbalut sehelai benang
tampak buah yang ranum menantang telanjang
meronta-ronta mengelak menggelinjang
ketika kelopak keriput dibelai puisi
lalu tangan-tangan menyusuri kembang

(Pondok Petir, 30 April 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Semua Racun Dunia
Puisi : Edy Priyatna

Berkenaan kisah sebuah cerita
tentang negeriku negerimu dan negeri kita
menebus jiwa hilang
dan rembulan hadir memayungi kita
dirimu mendekapku dalam rengkuhan gelora

Kampung dengan masa kejayaan membentang
seisi negeri gegap gempita, bersukacita
mabuk kepayang hingga bencana menyerang
memporakporandakan bumi pertiwi
hancurkan tanah leburkan air

Sederhana bila kalian kerap egoistis
sulit untuk bersatu padu
karena kesadaran sirna
keangkuhan terus merajalela
bukankah segala sesuatunya perlu pakai hati nurani

Termangu dan pikirkan
banyak peristiwa yang telah terjadi
musibah besar dalam negeri ini
adalah pertanda kita semua
sadar berbuat dan bertaubat pada Sang Pencipta

Dogma banyak contoh yang baik yang bertebaran
bangunanlah bangsa ini dengan benar
hindari pertikaian dan jauhi kekerasan
menjadi pemimpin jujur dan
bijaksana perlu kau camkan

Bentuk adalah tanah kelahiranmu
tanah tumpah darahmu berjuang
membaur bersama pacu detak rindu
untuk kemajuan bangsa kita
seterang dan menderangnya sang surya

 

 

 

Ekspres bangkit dan bekerja
hapuskan miras dari benak
juga tebaran narkoba jahanam
karena semua itu racun dunia
membuatmu saling bertikai tanpa berpikir panjang

Berpeluk dalam buaian purnama yang mulai menyembul
memacumu saling berlomba kemaksiatan
menjadikan dirimu rajin bermalas-malasan
menciptakan rasa resah dan gelisah
hingga terperosok ke jurang penyesalan

Gelegaklah tanpa batas
belajarlah tiada henti
berkreativitaskah tanpa putus asa
berjuanglah setiap saat
berperanglah pantang mundur

Tidak pernah berhenti
jangan pernah surut
untuk sebuah cita-cita mulia
memajukanlah negeri dan bangsa ini
tempat jiwamu bersemayam di masa depan

(Pondok Petir, 01 Mei 2013)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan