Umroh Koboy

“Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” Qs. 29:20, ayat ini setidaknya menjadi inspirasi utama perjalanan yang saya lakukan untuk menjalani “Umroh Koboy”.
 
Di buku yang saya tulis berjudul “926 Cairo”, ada satu artikel tertulis “Haji Mesir”. Waktu itu saya sudah hendak melaksanakan ibadah haji bersama teman-teman dari Mesir. Semua persiapan sudah kami lakukan semuanya. Termasuk segala jenis administrasi yang dilakukan di gedung Mujamma’ yang menjadi gedung pusat administasi yang berada dekat dengan Tahrir Square di Ramsis, Cairo.
 
Takdir menentukan lain. Uang sudah saya kumpulkan hampir satu tahun dari bekerja bermacam-macam, mulai dari bekerja bersama Bos saya, Pak Nanang yang memiliki cargo pengiriman barang dari ke Indonesia bersama dengan Omar dan Mahmudi.
 
Termasuk juga bekerja mencuci kain-kain milik KBRI yang biasanya saya kirimkan setiap 3 hari hingga satu minggu sekali dan selalu dibayar cash oleh Mas Furqon sebagai penanggung jawab bagian kantin KBRI. Juga terkadang jasa laundry dari mbak-mbak TKW sekitar rumah tempat saya tinggal. Pernah juga membuat tempe tapi hanya beberapa kali dan sering gagal jadi.
 
Satu kendala yang menjadikan saya tidak bisa berangkat haji adalah karena visa yang tidak kunjung keluar. Bukan hanya visa haji milik saya saja, tapi seluruh visa haji teman-teman mahasiswa Al-Azhar yang ada di Mesir. Pemerintah Mesir hanya mengeluarkan visa buat warga negaranya saja, jatah untuk orang Indonesia yang ada di Mesir, kebetulan pada saat saya mendaftar di 2010, sedang tidak mendapatkan izin.
 
“Duit kuwi simpenen ae le, ojo mbok gawe opo2, kecuali gawe neng tanah harom. Kerono wes mbok niati ngono”, “Uang itu kamu simpan saja nak, jangan sampai dibuat untuk kebutuhan lain, kecuali hanya untuk berangkat ke tanah suci. Karena sejak awal sudah kamu niatkan seperti itu”, itulah jawaban bapak saya pada saat memberitahukan kondisi gagal berangkat haji kepada beliau.
 
“Dalem titipaken teng njenengan mawon nggeh, lek dalem seng nyepeng, mangke telas”, “Saya titipkan saja uangnya ke Panjenengan ya, kalau saya yang memegangnya, takutnya malah habis”, saya lanjutkan dengan memberikan amanah kepada bapak untuk memegang uangnya, karena selama ini, kalau saya memegang uang, entah untuk apa saja, seringkali gampang habis.
 
Sampai akhirnya tiba pada tahun 2012, saya membaca pendaftaran umroh yang dilakukan oleh beberapa teman yang ada di Cairo. Yang menarik bagi saya dari iklan umroh itu adalah mereka akan berangkat lewat jalur darat, bukan jalur udara. Harga yang ditawarkan juga lumayan murah, jika dibandingkan dengan biaya umroh pada umumnya. Jangan membandingkan dengan biaya umroh yang ada di Indonesia, tentu tidak sebanding.
 
Umroh dari Indonesia ke Saudi memakan waktu 9 jam naik pesawat melewati banyak negara, sementara umroh dari Mesir ke Saudi kalau naik pesawat hanya membutuhkan waktu 3 jam saja. Sehingga wajar kalau harganya tidak bisa dibandingkan.
 
Harga yang ditawarkan oleh teman-teman adalah Cuma 300 dollar saja, atau sekitar 1500 pound Mesir. 1 Dollar pada saat saya daftar umroh adalah 5 pound Mesir. Saya meminta uang yang dititipkan kepada bapak kembali. Saya langsung menghubungi nomor yang tertera, disitulah saya kenal pertama kali dengan Mas Kiram. Gara-gara daftar umroh ini. Sampai sekarang pertemanan saya masih berlanjut, dia sekarang sudah kandidat doctor dan menjadi dosen di Kudus.
 
Keakraban saya dengan mereka dikarenakan kami sering berkumpul untuk mengurus administrasi bersama. Harus bolak balik di gedung Mujamma’ yang ada di Ramses, hingga memperpanjang visa izin tinggal Mesir di Madinat Buus Islamiyah karena masa berlaku hampir habis.
 
Tiga hari sebelum berangkat umroh, pada waktu itu menjelang awal bulan romadlon, kami berkumpul rapat di markaznya teman-teman Madura dengan organisasinya bernama FOSGAMA. Di sana diinformasikan perihal teknis keberangkatan umroh yang kami lakukan.
 
“Kita semua akan Umroh Koboy”, kata Mas Faiq sebagai pemimpin rombongan. Dia yang bertanggung jawab untuk komunikasi dengan travel Afwaj yang menjadi mandub, penanggung jawab visa umroh yang dikeluarkan oleh negara Saudi Arabia. “Umroh Koboy karena kita melewati jalur darat”, lanjutnya.
 
Semua sepakat, kami akan umroh lewat jalur darat, namun belum ada kesepakatan jalur mana yang akan kami lalui. Masih ada waktu tiga hari untuk mencari info jalur mana yang terbaik. Nantinya Mas Faiq dan timnya yang akan gerilya mencarikan informasi dari beberapa travel Mesir yang selama ini memberangkatkan jama’ah umroh dari jalur darat.
 
Ternyata tidak menunggu sampai tiga hari, malam itu juga beberapa teman yang ikut rapat, mulai menghubungi jaringannya masing-masing. Teman-teman di Mesir memang banyak, yang disamping kuliyah di Al-Azhar, nyambi bekerja, termasuk diantaranya menjadi guide travel dari turis-turis dari Indonesia dan negara Asia Tenggara.
 
Masing-masing informasi yang kami dapat dipadukan, akhirnya Mas Faiq memutuskan untuk melewati jalur darat dari Cairo menuju ke Nuaeba. Nuaeba merupakan jalur menuju ke Sinai, wilayah ini akhir-akhir ini menjadi daerah yang cukup rawan. Beberapa waktu lalu, ada kasus turis dari Jerman ditembak oleh orang-orang badui Mesir. Sehingg jalur Sinai menjadi penjagaan ketat oleh militer.
 
Malam dua romadlon kami berangkat dari Cairo dengan menggunakan bus merC yang disewa oleh Mas Faiq dan timnya. Dari rumah di Toubromly, saya diantar oleh Erick dan Mahmudi. Kami berangkat dari Bawwabah Tiga, Nasr City. Jama’ah yang berangkat umroh bukan hanya laki-laki saja, tapi ada beberapa cewek mahasiswi Al-Azhar juga.
 
Perjalanan dari Cairo menuju ke Nuaeba sekitar 6 jam. Di sana ada Pelabuhan dengan nama yang sama dengan daerahnya. Laut yang hendak kami seberangi adalah laut merah, yang dulu pernah diseberangi oleh Nabi Musa saat dikejar oleh Fir’aun Ramses II.
 
Sampai di Pelabuhan Nuaeba, rupanya banyak juga para jama’ah umroh dari Mesir yang juga hendak ke Saudi. Entah dari travel mana, saya tidak mencari tau. Yang jelas, teman-teman sempat bertanya ke salah satu dari mereka, jawabannya adalah mereka juga mau umroh lewat jalur darat.
 
Saya bersama teman-teman lumayan lama menunggu setelah mendapatkan tiket penyeberangan. Bus yang kami tumpangi hanya bisa mengantarkan sampai di Pelabuhan Nuaeba saja, karna di balik laut merah sana, sudah bukan negara Mesir lagi. Kami sebenarnya bisa memakai bus tadi, tetapi urusannya akan tambah ribet, karena harus berurusan dengan pihak imigrasi kendaraan juga.
 
Satu catatan penting ketika saya di Pelabuhan Nuaeba adalah semua toilet yang ada sangatlah jorok sekali. Di Mesir, toilet umum memang banyak yang seperti itu, jorok dan bau. Belum ada tradisi membayar toilet di negeri ini, sehingga toilet tidak ada yang jaga dan tentu karena gratis, maka jarang dibersihkan.
 
Setelah melaksanakan shalat ashar, ada panggilan agar kami semua naik ke dalam perahu cepat. Saya berjalan beriringan dengan semua calon penumpang yang ada dan mayoritas tentu warga negara Mesir. “Enak sekali kamu bro, cuma bawa tas ransel doang”, kata Mas Faiq mengomentari bawaan saya.
 
Setiap bepergian, saya paling malas ribet, sehingga termasuk umroh koboy kali ini, saya hanya membawa barang satu ras ransel saja, bahkan saya tidak membawa bekal makanan sama sekali. Sekarang kondisi puasa ramadlan, makan bisa beli di kapal cepat nanti. “Biar gesit mas geraknya”, jawab saya ke Mas Faiq sambil tersenyum.
 
Benar saja kapal di depan saya disebut kapal cepat. Tidak seperti kapal feri yang ada di Pelabuhan Merak, Banten, atau Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kapal feri cepat yang ada di Pelabuhan Nuaeba ini besar dan panjang, desainnya seperti kapal skocy. Tidak ada area terbukanya.
 
Barang yang berisi makanan dilarang dibawa masuk di kabin atas, sehingga teman-teman yang membawa bekal makanan harus rela meninggalkan barangnya di kabin bawah, dekat dengan parkiran mobil. Kami naik ke atas, kabin juga tertutup semua. Desain bangkunya seperti di pesawat, begitu juga jendelanya.
 
Satu-satunya hiburan yang bisa kami nikmati adalah layar besar yang ada di tengah, layaknya tv yang biasanya ada di kapal fery. Namun, saya lebih memilih untuk ngobrol bersama teman-teman yang lain.
 
Jam di hp saya lihat. Rupanya sudah hampir jam 7. Di dek depan, ternyata ada ruangan terbuka, walaupun terbilang sempit. Terlihat ada beberapa pemuda Mesir yang sedang melaksanakan shalat maghrib, “Jama’ah ikut orang Mesir yuk”, saya mengajak Mas Kiram untuk sholat.
 
Kami menyusul sholat berjama’ah bersama. Baru saja selesai salam, seorang awak kapal menghampiri kami. Menyuruh kami semua untuk masuk ke dalam kembali. Angin mulai terasa kencang. “Dul Wilayati Israil. Inta tattagih hunak”, “Itu adalah wilayah negara Israel. Kamu barusan sholat menghadap Israel”, dia berkata demikian. Tetapi dia menutupnya dengan, “Robbuna yataqobbal insya Allah”, “Tuhan kita menerima kok, insya Allah”.
 
Ketika awak kapak itu masuk ke dalam, saya bersama beberapa orang Mesir melanjutkan terlebih dahulu shalat isya’ dengan qosor. Orang-orang yang lain ada yang langsung masuk ke dalam tanpa melaksanakan shalat isya’ secara qosor. Usai shalat, saya memesan indomie yang dijual di kantin kapal, “Bikam dih?”, “Ini harganya berapa?”, “10 Pound”, kata dia.
 
Indomie memang luar biasa, tidak di Mesir, tidak di negara-negara arab, produknya bisa ditemukan di mana-mana, termasuk di kapal cepat yang menghubungkan antara Mesir dan Yordania. Baru saja selesai kami berbuka, rupanya kapal sudah bersandar di Pelabuhan Teluk Aqabah, negara Yordania.
 
Kami turun dari kapal, Mas Faiq dan timnya langsung mencari ruangan imigrasi negara Jordan. Masing-masing passport teman-teman dikumpulkan. Saya bersama Mas Kiram dan yang lain, melanjutkan buka puasa dari bekal yang mereka bawa. Makanan khas Indonesia yang mereka masak di Cairo, karena di kapal cepat tadi hanya makan indomie dan bekal ada di dek bawah.
 
Sekitar satu jam kami menunggu Mas Faiq yang sedang negosiasi dengan pihak imigrasi wilayah Aqabah, negara Yordania. Di Pelabuhan Aqabah ini banyak sekali terpampang di dindingnya foto-foto anggota kerajaan. Jordan memang negara monarki, dengan pemimpinnya adalah seorang raja. Sejak dulu seperti itu, belum pernah menjadi negara republic. Untungnya, negara ini adalah negara yang kaya raya akan minyak dan rakyatnya lebih terkenal Makmur dari pada negara tetangganya, yakni Mesir.
 
“Ayo kita ke bus”, kata Mas Faiq kepada teman-teman. Dia bersama timnya sudah mendapatkan bus yang mau mengantarkan dari Aqabah menuju ke Madinah, Saudi Arabiya. Biayanya adalah 5000 riyal Saudi. Nanti dari 5000 riyal itu kami bagi bersama sebanyak 40 orang rombongan kami.
 
“Perjalanan dari Aqabah ke Madinah sekitar 24 jam, jadi kita nikmati saja perjalanan ini”, lanjut Mas Faiq. Saya mendapatkan kursi agak belakang. Perjalanan malam yang kami lalui, tidak ada pemandangan yang istimewa, layaknya perjalanan di negara arab, kanan kiri jalan adalah padang pasir.
 
Jalannya juga sangat lurus, tidak ada belokan sama sekali, kami melewati tol tanpa hambatan. Selama perjalanan, lebih banyak kami gunakan untuk istirahat. “Kita sahur di mana?”, tiba-tiba suara dari speaker di bus membangunkan kami semua.
 
“Perwakilan yang ada di depan ketika ada restoran arab, tanya saja, menyediakan makanan nasi tidak? Kalo ada jualan nasinya, kita turun dan sahur di sana”, Mas Kiram memberikan masukan. Di manapun, walaupun di negara arab, kami masih mencari nasi sebagai makanan pokok, meskipun nasinya adalah nasi arab.
 
Sampai beberapa kali bus berhenti, perwakilan teman-teman, terkadang Mas Faiq terkadang Mas Turmudzi, yang turun untuk menanyakan perihal apakah restorannya menjual menu yang dari nasi atau tidak, bukan hanya menjual roti dari gandum saja.
 
Rezeki belum mengarah ke kami semua. Sampai banyak sekali restoran arab yang kami singgahi, belum ada satupun yang menjual menu yang ada nasinya. Semuanya berupa Isy, roti dari gandum. Sampai hampir jam 3. “Gimana ini enaknya?”, kata Mas Faiq.
 
“Kita berhenti di peristirahatan yang ada masjidnya mas, sahur seadanya dari sisa perbekalan yang dibawa dari Cairo kemarin”, kata Mas Kiram mewakili teman-teman. Bus berhenti di sebuah halaman masjid. Di depannya ada seekor onta yang sedang makan rumput.
 
Saya langsung menuju toilet, selama di bus, kami tidak bisa menggunakan toilet, karena dikhawatirkan mengganggu penumpang yang lain. Teman-teman menggunakan waktu untuk istirahat kembali, ada beberapa yang sedang asyik makan sahur.
 
Rupanya ada seorang penjaga masjid yang bisa kami ajak ngobrol. Kami bertanya onta yang berada di depan masjid itu, kata penjaga masjid, onta yang ada di depan itu akan disembelih nanti pagi untuk menu buka puasa sore harinya. Setiap hari di masjid ini menyembelih satu onta untuk buka puasa bersama. “Subhanalloh”, saya mengucap sebagai bentuk keheranan.
 
Setelah sholat subuh kami melanjutkan perjalanan kembali. Sehari penuh, bus melewati jalan raya di Yordania yang sepi dan kendaran dengan kecepatan yang luar biasa jika dibanding dengan jalan-jalan di Indonesia. Kesan saya di Jordan, kotanya bersih dan rapi, sampah tidak terlihat berserakan di mana-mana.
 
Sore hari kami masuk di perbatasan Jordan – Saudi Arabia. Mas Faiq turun melaporkan kondisi kami. Saya tidak tau persis apa yang dia katakan kepada seorang petugas imigrasi Saudi. Dia kembali ke bus dan meminta pak sopir untuk menuju tempat parkir.
 
“Semuanya harus turun, kita menuju ke imigrasi untuk dicek pasportnya satu persatu dan nanti sekalian ada pendataan di computer”, lanjut Mas Faiq menjelaskan. Kami semua berjalan beriringan menuju gedung imigrasi yang sangat luas namun sangat sepi. Hanya terlihat beberapa rombongan mobil pribadi dari Jordan yang juga hendak masuk ke Saudi.
 
Giliran saya yang dipanggil, seorang petugas meminta passport. Lalu menyuruh untuk menghadap ke kamera yang ada di depan saya. Selanjutnya saya menunggu. Entah apa yang dia catat. Ketika selesai, saya diminta untuk kembali dan dia memanggil teman-teman yang lain.
 
Semua dari kami lolos melewati imigrasi Saudi Arabia. Kami berjalan kembali menuju bus yang terparkir lumayan jauh dari gedung imigrasi ini. “Kalau musim haji, di sini penuh sekali”, kata Mas Faiq yang ternyata menurut penuturannya dia sudah pernah haji lewat darat sebelumnya.
 
Maghrib berkumandang, kami berhenti di sebuah masjid di dekat jalan raya Saudi Arabiya. Masjid terlihat sepi, sekitar masjid hanya ada beberapa rumah yang depannya terparkir beberapa truk container. Baru saja kami berhenti di masjid. Entah kabar dari mana, tiba-tiba ada sebuah mobil pick up yang membawa makanan penuh satu mobil.
 
“Maidaturrahman”, mereka menyebut makanan itu adalah makanan sedekah, rezeki dari Tuhan. Kami menyambut dengan gembira. Seketika masjid ramai dengan kehadiran kami. Buka puasa pertama di negara Saudi. Benar saja negara ini disebut dalam al-qur’an sebagai negara yang dipenuhi dengan keberkahan, saya membuktikannya sendiri dengan datangnya makanan yang banyak sekali ini tanpa memesannya terlebih dahulu.
 
Kami memasuki Madinah menjelang jam 10 malam, tadi selesai berbuka, saya sengaja sholat maghrib dan isya secara jama’ dan qoshor. Memasuki tanah Madinah rupanya kami dicegat oleh beberapa polisi penjaga lalu lintas, karena bus yang kami tumpangi plat nomornya bukan plat nomor Saudi, melainkan Jordan.
 
Kami digiring memasuki tempat parkir yang sangat luas. Saya tidak tau pasti apakah itu kantor polisi atau bukan. Yang jelas kami ditahan di sini hingga hampir jam 12 malam. Bahkan, pihak kepolisian hampir menahan seluruh passport yang kami miliki. Boleh diambil nanti ketika sudah selesai umroh dan hendak pulang ke Mesir.
 
Sampai akhirnya Mas Faiq menghubungi pihak travel Afwaj yang menjadi penanggung jawab kami selama di Saudi. Perwakilan dari travel Afwaj bersedia datang. Mereka melobi para polisi Saudi itu. Saya bersama teman-teman menunggu santai di parkiran dekat bus.
Jam 12 malam, Mas Faiq dan timnya keluar dari kantor dengan senyuman, “Pasti kabar indah ini”, kata Mas Kiram. Benar saja, akhirnya mereka berhasil melobi para polisi itu dan passport kami tidak jadi ditahan. Namun, ternyata para polisi itu meminta jaminan kepada pihak travel Afwaj untuk mengantarkan kami hingga ke hotel di Madinah.
 
Padahal kami belum booking hotel. Tidak mungkin pesan hotel di Madinah sekarang, malam ini adalah malam romadlon, saat ramadlan tiba, hotel-hotel di Makkah dan Madinah selalu penuh. Apalagi sekarang jam 12 malam. “Coba saya telpon abang saya ya, siapa tau dia bisa bantu”, kata Basyir, salah satu rombongan kami, kakaknya sudah lama hidup di Saudi ini.
 
Basyir memberikan kabar yang menyenangkan, kakaknya membantu untuk mencarikan hotel di dekat masjid Nabawi. Kami menuju ke sana ditemani salah satu perwakilan dari travel afwaj tadi. “Kita iuran ya, satu kamar diisi 4 orang”, Mas Faiq bicara setelah sampai hotel, ada beberapa kamar kosong, kami memesan 10 kamar, karena kami orang 40, satu satu kamar 4 orang.
 
Pagi harinya, saya mendapatkan telpon dari Ust. Anwar, beliau dapat nomor saya dari Bapak yang telah mengabarkan kepada Ust. Anwar bahwa saya sedang umroh. Sehingga saat itu juga saya pisah rombongan teman-teman dan bergabung dengan rombongan Ustadz Anwar hingga sampai di Makkah.
 
—————————
Masih banyak sekali cerita perjalanan dari pelaksanaan “Umroh Koboy” yang saya jalani bersama teman-teman Universitas Al-Azhar Mesir ini. Semua kisahnya adalah seru karena bermodalkan nekat. Secara lengkap kisahnya sudah saya tuliskan di serial buku “Catatan Mahasiswa Al-Azhar Mesir” untuk buku ketiga, berjudul “Umroh Koboy”. Silahkan cari bukunya dan selamat membaca.
Pemesanan buku : WA 081213598444
 
https://www.kompasiana.com/bisyriichwan/5f887fc2d541df5e045b5252/umroh-koboy

Tinggalkan Balasan

News Feed