Habib

Habib

” Dua puluh tahun aku menulis tentang cinta, masih saja aku di halaman pertama” ( Pepatah Arab )

Tadi siang, ya tadi siang aku melihat bapak yang membonceng kedua anaknya di jalanan Risdam, Condet.

Kebetulan lampu merah, jadi aku ” berdampingan dengan mereka” lalu aku mendengar celotehan kedua anak di sampingku.

” Ayah, ayah, ada Habib Riziek, Habib Riziek ayah….”

Pas di depan kami memamg ada dua poster besar, berhiaskan foto habib Riziek Shihab, Imam Besar umat Islam. Foto beliau tampak gagah dan kharismatik.

Kedua anak itu masih menunjuk-nunjuk foto habib, kemudian lampu merah berganti menjadi lampu hijau.

Ya Tuhan, betapa Habib Riziek sangat familiar sehingga kalangan anak-anak pun mengenal beliau.

Beliau di sambut dengan gegap gempita, benar-benar meriah, meriah benar-benar. Sependek pengetahuanku, tidak ada tokoh yang disambut dengan sangat luar biasa ketika pulang dari luar negeri, sebagaimana mereka menyambut Habib Riziek.

Kecintaan kepada Habaib terasa sekali dikalangan masyarakat Betawi, wabil khusus di Condet. Sebelum ada Pandemi, ketika masuk bulan maulid, maka kita akan mendenger petasan dan kembang api menghiasi langit Condet.

Petasan yang dibunyikan, kembang api yang diterbangkan kelangit, minyak wangi disebarkan ke para jamaah, adalah pertanda Habaib sudah datang dan mau masuk majelis.

Setelah reda maka gema sholawat pun menggema, para hadirin berdiri menyambut keturunan nabi yang mulia.

Di antara para Habib, yang paling popular sekarang, tak dapat dipungkiri Habib Riziek termasuk salah satunya.

Hampir disetiap sudut jalan Jakarta, kita akan mendapatkan foto-foto beliau, bertuliskan aneka tema, tapi yang paling banyak adalah revolusi akhlak, revolusi yang dirindukan, ketika bangsa ini babak belur menghadapi degradasi moral yang sangat mengerikan.

Habib adalah tokoh yang fenomenal, dikalangan Habaib, beliau diperbincangkan, beberapa kali aku mengikuti kajian Habaib, disana aku mendapatkan banyak harapan disematkan kepada Habib Riziek.

Kecintaan kepada habib Riziek seperti Pepatah di atas, ” Dua puluh tahun aku menulis tentang cinta, masih saja aku di halaman pertama”

Keterangan  foto

Lagi bersama Khan pada suatu ketika.

 

 

Tinggalkan Balasan