Cita-Cita Nur Ailia Safitri

Halo, perkenalkan nama saya Nur’Ailia Safitri. Biasa dipanggil Ailia/Ai/Lia. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Saya mempunyai 2 orang adik, adik pertama saya seorang perempuan dan adik kedua saya seorang laki-laki. Ayah saya seorang Polisi dan ibu saya seorang ibu rumah tangga. Dan juga keluarga saya termasuk keluarga yang alhamdulillah berkecukupan.

Saya mempunyai seorang ayah yang mempunyai hobi bermain badminton (bulu tangkis). Dahulu ketika saya duduk dibangku Sekolah Dasar (SD) pada saat kelas 4 SD saya pernah bercita-cita menjadi seorang atlet/ menjadi seorang pemain badminton yang handal, dan profesional, sehingga nanti bisa dijadikan oleh orang-orang motivasi bagaimana perjuangan sebagai seorang atlet, juga nanti bisa dikenal orang banyak dan bahkan nama saya akan dikenang terus oleh orang banyak diluar sana.

Motivasi saya di saat itu mengapa ingin menjadi seorang atlet badminton karena ayah saya. Ayah saya masuk ke dalam club badminton di lingkungan rumah pada saat itu yakni Jakarta Pusat, lalu keluarga kami pindah rumah ke salah satu daerah di Jakarta Selatan dan tentunya ayah saya memutuskan untuk berhenti mengikuti club badminton di lingkungan rumah kami yang dahulu (Jakarta Pusat) dan melanjutkannya di lingkungan yang baru dengan tentunya club badminton yang berbeda.

Tetapi cita-cita saya harus terpendam didalam hati karena tidak di asah. Pada saat itu juga orang tua saya tidak terlalu mendukung saya untuk terjun dibidang olahraga tersebut, karena pada saat itu saya sedang mengikuti banyak les private sehingga orang tua saya takut jika saya masuk kedalam club badminton itu akan membuat fisik saya menjadi menurun, dan jika sudah bermasalah dengan kesehatan tentunya orang tua akan begitu was-was dengan kesehatan anak-anaknya.

Karena dahulu cita-cita saya sudah kandas menjadi seorang atlet badminton, adik kedua saya saya menggantikan saya menjadi calon atlet badminton nantinya. Dia di dukung orang tua saya menjadi atlet badminton sejak dia masih duduk di Taman Kanak-kanak (TK) hingga sekarang kelas 3 Sekolah Dasar.

Akhirnya ketika saya memasuki SMP (Sekolah Menengah Pertama) saya bercita-cita menjadi seorang Polwan (Polisi Wanita). Saya menyukai bekerja terjun langsung di lapangan, saya suka jika hari-hari saya sudah terjadwal. Pada saat itupun saya pernah rajin berolahraga (renang) karena itu juga termasuk kedalam hobi saya, saya juga sangat menjaga gigi saya dengan cara menjaga makanan yang saya makan dan rajin menggosok gigi. Hingga pada suatu saat saya tidak bisa mengontrol nafsu makan saya yang di mana membuat saya menjadi malas untuk berolahraga dan melupakan begitu saja projek awal saya dalam mengejar cita-cita.

Dampak dari perbuatan yang saya lakukan dengan tidak menjaga pola makan dan malas untuk berolahraga yaitu terjadi perubahan drastis pada tubuh saya. Tidur saya sangat tidak teratur, tugas-tugas mulai semakin padat, tidur diatas jam 12 malam setiap hari untuk mengerjakan tugas, sehingga pola hidup saya sangat tidak baik bagi kesehatan pada saat itu. Tinggi badan saya pun tidak memadai untuk mendaftar menjadi calon anggota Polwan. Oleh karena itu, saya menjadi tidak percaya diri untuk melanjutkan kembali projek awal saya dalam mengejar cita-cita menjadi seorang Polwan.

Di saat saya memasuki SMA (Sekolah Menengah Atas) saya hanya memikirkan bagaimana saya bisa mendapatkan nilai diatas rata-rata, mengumpulkan tugas tepat waktu, mendapatkan nilai rapor dengan di atas rata-rata dan persaingan dibidang pelajaran pun semakin ketat. Saya masuk SMA dengan jurusan MIPA. Disaat itu saya merasa saya mengambil jurusan karena saya lemah dibidang hitung-hitungan (fisika, matematika minat dan matematika wajib) dan biologi. Tetapi entah mengapa ketika sudah lulus SMA saya memilih masuk jurusan Keperawatan yang nantinya ini akan menjadi langkah awal saya dalam menentukan masa depan saya nantinya.

 

 

 

Tinggalkan Balasan