Belajar dari Secangkir Kopi

Sumber gambar :Suaraislam.com

 

Hidup adalah salah satu nikmat Tuhan yang teramat dasar. Dengan adanya hidup kita dapat merasakan nikmat-nikmat Tuhan yang lain. Terlalu banyak nikmat Tuhan yang dapat kita rasakan, baik yang tampak maupun yang tak tampak, sampai-sampai kita tak akan mampu menghitungnya.

Dengan adanya hidup, kita dapat berbuat banyak hal yang bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain dan alam sekitar. Salah satu tujuan diciptakan dan dihidupkannya kita sebagai manusia di dunia adalah untuk beribadah. Ibadah dalam arti kita bersyukur kepada Allah yang Maha Pencipta atas segala nikmat yang dikaruniakannya kepada kita seraya menyembahNya sesuai ketentuan yang ada.

Selain menyembah Allah, salah satu wujud syukur adalah menggunakan segala potensi yang diberikan Allah kepada kita dengan menggunakannya untuk menyebarkan rahmat dan kasih sayang kepada seluruh alam.

Sudah menjadi rumus dalam kehidupan bahwa selalu ada dua sisi yang berlawanan dan mewarnai dinamika kehidupan itu sendiri. Akan ada dalam setiap zaman orang-orang yang memerankan tokoh baik maupun jahat. Semuanya telah tercatat dalam tinta emas sejarah bahkan tertuang di kitab suci.

Hidup adalah pilihan, apakah kita mampu memilih peran baik atau tak berdaya dan terbuai dengan bujuk rayu setan menjadi peran jahat. Tuhan tidak pernah memaksa hambaNya untuk menjadi penyembah yang baik, semua berpulang pada pilihan manusia. Namun, manusia dikarunia akal, pikiran, dan hati nurani yang mampu menyaring mana jalan benar dan mana jalan yang sesat.

Untuk menjadi orang baik, kita tidak perlu mengejar penilaian dari manusia. Mengejar penilaian dari manusia hanya akan membuat hidup kita tersiksa dan tidak lebih dari hiasan atau topeng belaka.

Marilah kita belajar dari sesendok gula pada secangkir kopi yang nikmat. Dalam meracik secangkir kopi adakalanya kita mengatakan,” kopi ini kurang gula!”, atau sebaliknya,” kopi ini kemanisan!”. Kita selalu menyalahkan gula yang kurang pas pada takaran kopi, terlalu sedikit atau berlebihan. Namun bila takarannya pas, sering kita mengatakan,” kopinya mantap!”. Dimanakah peran gula yang membuat rasa kopi mantap?, sering dilupakan orang.

Di sinilah kita perlu belajar keikhlasan. Ikhlas dalam arti murninya hati pada satu tujuan dan cita-cita yaitu menggapai ridho dari Allah semata. Tidak peduli apakah orang lain mengapresiasi perbuatan baik kita atau tidak.

Dalam hidup ini ini sering pula kita dapati masalah atau problem. Tidak ada manusia yang tidak punya masalah. Justru dipertanyakan kemanusiaan seseorang kalau dia merasa tidak punya masalah. Sebaliknya, seseorang dikatakan bermasalah pula kalau dia selalu merasa hidupnya punya masalah.

Masalah ibarat segenggam garam. Jika ia diletakkan di segelas air, maka akan asinlah air di gelas tersebut. Namun, jika ia dicelupkan di sebuah telaga yang luas , maka garam tersebut tak akan mampu membuat asin air telaga, dan air telaga pun tetap terasa segar. Jika masalah tadi kita ibaratkan garam, maka air diibaratkan hati.

Kalau kita menerima masalah dengan hati yang sempit ( segelas air) maka masalah akan semakin rumit dan terasa buntu. Namun, jika kita menerima dan menghadapi setiap masalah dengan hati yang luas (seperti telaga), maka solusi akan terbuka lebar.

Manusia bukanlah hanya seonggok tubuh, yang hanya hidup untuk makan, minum, dan berkembang biak. Eksistensi manusia bukanlah semata dilihat dari keberhasilannya dalam bisnis, jabatan , mengumpulkan harta, atau lainnya.

Manusia bisa berwujud tidak semata dari kumpulan sel-sel yang membentuk jaringan, kumpulan jaringan yang membentuk organ dan kumpulan organ yang bentuk  sistem organ. Namun, eksistensi manusia adalah adanya peran Ruh yang Tuhan tiupkan di jasad yang fana ini.

Untuk itu, marilah kita berani untuk terus mengambil peran baik dengan beragam dinamika dan tantangan yang ada karena kita berasal dari yang Maha baik.

Tidak peduli pada penilaian orang lain, yang kita cari hanya kebaikan untuk sesama dan seluruh alam sebagaimana maksud dan tujuan diciptakannya kita di atas muka bumi ini oleh Allah SWT. ***

Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta.

Tinggalkan Balasan