Pengalaman Berobat di Selandia Baru, Ada Jasa Penerjemah

Wellington merupakan  ibukota New Zealand yang terletak di tengah-tengah negri yang terdiri dari tiga pulau utama yaitu Pulau Utara, Pulau Selatan, dan Pulau Stewart ini. Lokasi kota Wellington sendiri terletak di bagian selatan Pulau Utara. Walaupun berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kebudayaan, Wellington bukanlah kota terbesar dan terpadat di negeri yang cuma berpenduduk sekitar empat juta jiwa ini. Kota yang terbesar dan teramai adalah Auckland di bagian utara pulau Utara.

 

Namun, Wellington merupakan salah satu kota terindah di Selandia Baru dan bahkan dijuluki “the coolest little capital in the world” .Selain itu karena kompaknya kota ini, maka daerah pusat kota hanya memiliki luas sekitar empat atau lima kilometer persegi saja sehingga hampir semua tempat menarik di pusat kota dapat dinikmati dengan berjalan kaki.

 

Letaknya yang strategis di tepi pantai “Scorching Bay” membuat lautnya selalu tenang dengan airnya yang biru menawan. Sementara di pusat kota , tepat di tepi “Lambton Harbour” terdapat pantai yang memanjang menjadikan Wellington benar-benar sebuah water front city yang menawan. Demikian lah informasi yang didapatkan dari buku “Travel Guide” yang saya dapatkan di kendaraan super shuttle yang membawa saya dari “Wellington International Airport” menuju hotel di pusat kota.

 

Bahkan di buku tersebut sudah terdapat beberapa tempat yang wajib dikunjungi kalau kita ke Wellington, di antaranya “Museum of New Zealand Te Papa Tongarewa”, yang kebetulan letaknya tidak jauh dari hotel saya. Selain itu berbelanja di Cuba Street, dan juga melihat pemandangan kota Wellington dari Mount Victoria Lookout., juga merupakan agenda wajib kunjungan ke Wellington.

 

 

Akan tetapi, hari pertama saya di Wellington, tidak dihabiskan dengan berjalan-jalan melihat tempat-tempat yang dianjurkan di buku tadi, melainkan harus mengunjungi sebuah “Medical Centre” yang terletak di Adelaide Road , yang terletak di daerah di New Town, kira-kira dua kilo meter sebelah barat pusat kota Wellington. Informasi mengenai lokasi ini saya dapat setelah bertanya ke resepsionis hotel yang kebetulan orang Indonesia yang berasal dari Bali.

 

 

Dengan taksi berwarna putih, saya pun meluncur ke “Adelaide Road”, dan perjalanan sekitar delapan menit itu pun memakan ongkos yang lumayan mahal untuk ukuran Jakarta, yaitu sekitar 14 Dollar NZ, karena tarif buka pintu sudah sekitar 3.50 NZD dan setiap kilometer tambahan sekitar tiga Dollar. Letak medical centre ini kebetulan di seberang sebuah pompa bensin Caltex, dimana tertera harga BBM di New Zealand yang ternyata memang cukup mahal.

Medical Centre yang saya kunjungi bernama cukup keren yaitu “Accident and Urgent Medical Centre”, merupakan sebuah tempat semacam Instalasi Gawat Darurat yang dikelola oleh dokter umum sehingga bisa dikunjungi tanpa perjanjian sebelumnya. Sebenarnya sebelum berkunjung ke tempat ini, saya sempat menghubungi “Wellington Hospital”, namun disarankan ke tempat ini dulu , dan selandainya tidak bisa ditangani , akan dirujuk ke spesialis di Wellington Hospital.

 

 

 

Gedungnya tampak sederhana dengan pintu masuk pintu geser yang otomatis terbuka kalau kita masuk. Memasuki ruang resepsionis, seorang wanita berambut pirang berumur 35 tahunan menyambut saya dengan ramah. Dia menyuruh saya mengisi formulir pendaftaran, dan kemudian bertanya apakah saya penduduk Wellington atau pendatang.

 

Ketika saya menjawab bahwa saya hanyalah seorang “visitor”, maka dia menjelaskan bahwa biaya konsultasi untuk dokter adalah sebesar ‘178 Dolar” belum termasuk obat yang bisa diambil di apotek atau “Pharmacy” yang ada di gedung yang sama

 

Di ruang tunggu, terdapat beberapa orang yang sedang menunggu giliran. Di papan pengumuman , ditempelkan dengan jelas besarnya biaya konsultasi dokter, dan juga sebuah jasa penerjemah dalam berbagai bahasa, seandainya kita perlu jasa penerjemah dalam konsultasi dokter ini. Ada beberapa bahasa yang ditunjukkan berikut contohnya seperti Bahasa Spanyol, Rusia, Arab, Dari, Mandarin dan sebagainya. Sedangkan, walaupun Bahasa Indonesia ada di dalam daftar, tetapi tidak termasuk di dalam contoh.

Di bagian dinding lain, juga terdapat papan pengumuman mengenai hak-hak kita sebagai pasien yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Bahasa Maori. Bahasa Maori, memang merupakan bahasa resmi kedua selain Bahasa Inggris di Selandia Baru ini.

 

Sekitar lima menit menunggu, seorang wanita memanggil saya, ternyata wanita berumur 50 tahunan ini merupakan seorang perawat, yang kemudian bertanya mengenai keluhan penyakit yang diderita, dan juga mengambil tekanan darah dan temperatur badan saya. Dia mencatatnya di komputer dan kemudian menyuruh saya menunggu lagi sampai dipanggil dokter jaga.

Sang dokter  , seorang lelaki berusia 50 tahunan, berbadan tinggi besar dan mengenakan sweater berwarna biru. Setiap satu pasien selesai, dia sendiri yang keluar menuju ruang tunggu dan memanggil nama pasien. Setelah tiga orang pasien sebelum saya selesai akhirnya giliran saya masuk ke ruang dokter.

 

Pemeriksaan berjalan seperti umumnya di dokter, dia bertanya kembali mengenai gejala penyakit, dan kemudian memeriksa, diakhiri dengan memberikan selembar resep, sambil berkata seandainya dalam waktu tiga hari belum ada perkembangan diharapkan berkunjung lagi.

 

Sebuah resep akhirnya berpindah tangan dan saya pun ke apotek untuk menebusnya. Obat anti biotik dan obat tetes yang diresepkan harus ditebus dengan harga 66.50 dolar, dan akhirnya saya pun meninggalkan medical centre tadi untuk kembali ke Hotel.

 

Sebuah pengalaman menarik dan unik berobat di Selandia Baru. Untuk itu saya harus mengeluarkan uang sekitar 244 Dolar atau hampir 1.8 juta rupiah. Semoga tidak sakit lagi selama di Selandia Baru!

 

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar