oleh

Salju Pertama di Hari Terakhir di Beograd

-Terbaru-Telah Dibaca : 964 Orang

“Salju, salju’ , demikian teriak saya secara tidak sengaja ketika pagi itu keluar kamar hotel untuk siap-siap cek out dan menuju ke Bandara Nikola Tesla.

Hotel kami kebetulan berada di kawasan Blok 12 Novy Beograd atau New Belgrade dan tidak terlalu jauh dari Sungai Danube yang meliuk-liuk bagai ular membelah ibu kota Serbia yang pernah menjadi ibukota Yugoslavia sekaligus tempat lahir nya gerakan Non Blok di era awal dasawarsa 1960an.

Sudah beberapa malam kami mampir sejenak di Beograd sebagai langkah awal berkunjung ke negara-negara Balkan di Eropa Tenggara.  Walau bulan hari sudah memasuki minggu pertama di Bulan Desember, suhu masih cukup bersahabat  dalam pengembaraan selama tiga hati di Beograd.

Walau sesekali angin dingin bertiup dari utara dan pohon –pohon tanpa daun menghias dimana-mana. Suhu selalu berada beberapa derajad di atas titip nol dan penampakan salju masih belum ada tanda-tandanya.

Namun rupanya hujan salju menerpa kota Beograd malam itu dan salju tebal menutupi jalan dan kota di pagi itu.

Sontak kami segera mengambil berbagai gambar pemndangan sekitar hotel yang memutih.  Dari beranda hotel di lantai 3. Lapangan tempat parkir di depan hotel  tampak memutih.  Tumpukan salju menutpi aspal dan jalanan aserta tanah lapang dan pepohonan. Langit sendiri tampak mendung kelabu walau hari sudah menunjukan sekitar pukul 8 pagi lewat beberapa menit.

Semua kendaraan yang diparkir tampak putih tidak perdulu warna aslinya kecuali sebuah mobil sedan kecil yang asih terlihat warna merahmya.  Sekilas foto berwarna menjadi foto hitam putih. Sementara di kursi dan meja yang ada di beranda pun tidak luput dari serangan badai salju emalam sehingga kita misa mengambil dan menggenggam salju yang embut di tangan. Singkatnya kalau ingin minum es tinggal tambahkan sirup saja.

Setelah menyelesaikan administrai di resepsionis hotel sambil memesan taksi ke Bandara Nikola Tesla, kami segera bersiap-siap meninggalkan hotel.  Tidak lama sebuah taksi dengan pengemudi tua berusia lebih 60 tahunan siap mengantar melalui jalan licin bersalju ke bandara.  Taksinya kendaraan kecil hatchback bermerek Dacia yang konon buatan Inggris berwarna merah.   Jarak ke bandara  hanya sekitar 14 kilometer saja dengan ongkos sekitar 2500 Dinar Serbia.

Taksi berjalan perlahan menyusuri  Bulevar Mihajna Pulpina dimana terdapat halte bus Blok 30 tempat kami beberapa kali menunggu bus ketika jalan-jalan di kota Beograd kemaren.   Terlihat median jalan yang putih tertutup salju dan jalan yang masih basah dan licin. Jalan masih sepi dan hanya terlihat sebuah bus gandeng berwarna kuning  di dekat lampu merah pas di depan halte.  Di belakang bus hanya tampak beberapa pohon tanpa daun dan juga deretan blok apartemen khas negara-negara blok Soviet di era perang dingin.

Setelah melewati  Blok 31, taksi merah mungil kami belok kiri via Omladinski Brigada.  Jalan masih memutih tertutup salju dan pepohonan juga hanya tinggal batang dan ranting yang memutih.

Kembali pemandangan yang menoton menemani sempanjang jalan bebas hambata E 75 menuju ke Bandara.  Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit taksi sudah mendarat di depan terminal keberangkatan Bandara Nikola Tesla.  Nikola Tesla merupakan fisikawan terkenal yang konon  hampir pernah mendapatkan hadah nobel  bersama Thomas Alfa Edison pada 1915.

Di depan terminal kembali terlihat sebuah mobil sedan merek Skoda berwarna hitam yang atapnya tertutup saju putih yang lumayan tebal.

Di bandara, kami masih meninggu cukup lama karena pesawat yang akan membawa kami ke tujuan selanjutnya juga terlambat dikarena cuaca yang sedikit buruk.

Sejenak kami mengintip ke tarmak di bandara yang juga sebagian besar tertutup salju. Tampak sebuah pesawat Air Serbia yang sedang siap-siap berangkat.

Dan sebelum berangkat pesawat kami juga harus dilakukan proses de-icing untuk menghilangkan salju yang menumpuk di atas sayap .

Sebuah pagi yang berkesan di hari terakhir di Beograd. Dan ini hanya sepotong kisah dari sederetan kenangan dalam mengembara ke berbagai tempat di muka bumi ini.

Selamat Tinggal Beograd, Selamat Tinggal Sungai Danube, Siapa tahu akan berjumpa lagi kelak.

Komentar

Tinggalkan Balasan