Bijak Menyikapi Perbedaan Pendapat

Deskripsi Perbedaan Pendapat

Perbedaan pendapat adalah keniscayaan.  Perbedaan pendapat tidak bisa dihindari, semakin banyak kepala semakin beragam pula pendapat yang beredar.  Justru perbedaan itulah suatu dinamika kehidupan dimana dengan adanya perbedaan pendapat seharusnya  memperkaya wawasan. Perbedaan pendapat lebih banyak terjadi dimasalah sosial budaya atau non eksak.  Perbedaan di bidang eksakta akan bermuara kepada suatu persamaan pendapat, karena perbedaan itu sudah pasti disebabkan karena terjadinya kesalahan hitung.

Perbedaan pendapat antara bidang eksakta dengan bidang sosial  budaya akan lebih jelas bila di deskripsikan dalam bentuk pertanyaan. Dalam bidang eksakta,  walaupun terdapat ribuan pertanyaan.  jawabannya sudah dapat dipastikan hanya satu saja.  Sebaliknya dalam bidang sosial budaya satu pertanyaan bisa mendapatkan jawaban ribuan bahkan lebih.  Contoh di bidang matematika, pertanyaan berbentuk 1/2+1/2, 5-4, 1×1, 4:4 jawabannya adalah satu. (hanya ada satu jawaban tidak ada jawaban lain). Dalam bidang sosbud contohnya begini : bagaimana pendapat anda tentang pemerintahan saat ini ? maka jawaban yang diberikan responden pasti lebih banyak, bahkan jawaban yang diterima bisa jadi  sebanyak kepala yang menjawab.

Sebagai ilustrasi bagaimana perbedaan itu adalah keniscayaan, baik diambil permisalan sebagai berikut.  Tiga  orang tuna netra di minta menjelaskan bagaimana bentuk gajah.  Guna memantapkan jawaban mereka maka ke tiga orang  tunanetra itu di bimbing mendekati gajah dan dipersilahkan meraba makhluk super besar itu.  Nah setelah itu kita bisa mendapatkan jawaban yang berbeda tentang definisi gajah dari masing masing tunanetra sesuai dengan perabaan mereka.  Seorang tunanetra mengatakan bahwa gajah itu bulat panjang karena dia memegang belalai.  Rekannya mengatakan gajah itu tebal dan keras, tunanetra ini meraba perut. Terakhir defenisi yang kita dapat bahwa gajah  itu lebar dan tipis, tidak salah karena tunanetra ini meraba telinga sang gajah.

Perbedaan Pendapat Adalah Keniscayaan

Analog dengan kisah gajah dan tunanetra maka perbedaan pendapat yang terjadi di masyarakat bisa dimaklumi.  Perbedaan itu tentu saja berlatar belakang dari wawasan seseorang warga.  Wawasan bisa diperinci dari variable umur, tingkat pendidikan, pengalaman, tingkat pergaulan dan jenis pekerjaan serta variabel lainnya yang menyangkut semua aspek kehidupan.  Jadi wajar saja bila perbedaan itu selalu dan akan selalu terjadi di setiap komunitas ketika terjadi persinggungan pada permasalahan yang menyangkut kepentingan bersama.

Anda sudah pasti sering menonton perdebatan pendapat di lembaga terhormat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).  Demikian pula di televisi debat semakin seru ketika perbedaan itu semakin di kompori oleh presenter.  Nah bagaimana dengan perbedaan pendapat di sosial media atau tepatnya di facebook, twitter, kompasiana.com atau di media online lainnya. Tentu saja perbedaan itu tetap ada bahkan semakin melebar karena perdebatan di dunia maya bisa dilakukan secara cepat dan memiliki durasi luar bisan lama nya.

Ketika seseorang penulis menpublish opini, maka selalu ada resiko yang akan diterima.Tulisan itu bisa jadi dianggap kontroversial oleh para pembaca. Sehubungan Admin kompasiana .com menyediakan fasilitas komentar maka wadah ini menjadi ajang saling silang pendapat.Dilihat dari komentar yang masuk dalam perdebatan itu tanpa di sadari akan terbentuk 4 kubu.Keempat kubu meliputi :

1.Kubu cuek (emang gue pikirin)

2.Kubu pro opini penulis

3.Kubu kontra opini penulis

4.Kubu netral

Sikap Simpatik

Syukurlah dinamika perbedaan ini hanya di dunia maya sehingga resiko adu jotos antar perseteru seperti yang terjadi di gedung bundar senayan bisa dihindari. Beradu pendapat, mengeluarkan jurus argumentasi dan segala macam cara untuk mempertahankan pendapat dilakukan oleh para pendebat. Sejatinya mempertahankan pendapat itu berbanding lurus dengan harga diri, sehingga wajar saja bila kedewasaan dan keluasan wawasanlah yang akhirnya mengakhiri perdebatan tersebut. Syukurlah akhirnya perbedaan itu akhirnya mencair ketika kehabisan peluru dan biasanya bermuara kepada kesamaan pendapat bahwa kita memang tetap berbeda paham. …hehehehe.

Sebagai penulis yang sudah mondok 3 tahun lebih di kompasiana, awak banyak belajar dalam menyikapi perbedaan pendapat.Pada tahun pertama ber social media awak terkadang terpancing emosi juga terutama ketika menerima komentar yang rada rada nyeleneh.Namun akhirnya awak agak berubah sedikit, coba belajar memahami dan menghargai pendapat orang lain, bisa jadi awak yang kurang teliti atau kurang referensi ketika men publish suatu opini.Selanjutnya awak semakin menyadari bahwa perbedaan itu adalah bentuk umpan balik (feed back) yang sangat berguna untuk introspeksi yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas tulisan kita sendiri.Sikap simpatik seperti ini ternyata membuat diri awak terasa nyaman, aman dan tentram serta enak tidur setelah menekan tombol publish.

Satu hal yang awak hindari adalah jangan sampai terjebak perdebatan tentang agama.Selain memang bukan ahlinya, perdebatan antar satu agama (khilafiah) saja sudah sangat melelahkan apalagi ketika dihadapkan dengan perbedaan paham antar agama.Admin telah menghilangkan rubric agama, walaupun terkadang masih saja ada permasalahan agama yang nylonong melalui rubrik lain. Kalau boleh awak saran kiranya sobat kompasianer menghindari hal hal yang menyangkut menyinggung masalah agama kecuali reportase kegiatan hari hari besar agama atau kegiatan taklim di masjid.

Dilihat dari Kepentingan yang Lebih besar

Dalam kehidupan kenegaraan sistem pemerintahan demokratis pasca reformasi nampaknya penyampaian aspirasi warga berupa  perbedaan pendapat  mulai kehilangan arah. Kondisi seperti ini semakin menggelora ketika aspirasi itu disampaikan secara membabi buta bahkan anarkis ditenggarai pula oleh ketidaksiapan para pemangku kekuasaan (birokrat) menampung segala bentuk unjuk rasa itu.  Peran pejabat dan tokoh masyarakat di tataran supra struktur dan infra struktur menjadi hambar rasanya karena kehilangan kewibawaan.  Seharusnya pemerintah mengajarkan kepada warga agar dalam menyampaikan perbedaan pendapat melihat kepentingan yang lebih besar.  Kepentingan tersebut  terkait masalah keamanan dalam upaya melancarkan pembangunan nasional  dalam artian tentunya para penguasa ini memulai aksi dengan memberikan contoh teladan yang baik.  Contoh baik pesan reformasi birokrasi tidak muluk muluk hanya tranparansi dan akuntabel dalam setiap pelayanan publik.

Sila k 4 Pancasila ” Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan”  hanya tinggal slogan.  Pesan sakti Pancasila ini seolah dilupakan ketika para pihak perseteru menyampaikan dan menyikapi  perbedaan pendapat tidak dalam koridor 4 pilar kebangsaan yaitu Pancasila,  UUD 45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.  Kondisi bentrokan fisik antar warga akibat sepele kesalahpahaman seharusnya bisa diselesaikan dengan lapang dada, kepala dingin mengacu kepada sila ke 3 Persatuan Indonesia.  Justru benturan tersebut semakin marak terjadi akibat pihak yang mengambil kepentingan terhadap kerusuhan semakin merajalela belum tuntas di tumpas aparat penegak hukum.

Dengan motto sharing and connecting yang di canangkan kompasiana dan diselaraskan dengan motto awak penasehat, penakawan dan penasaran maka sampai saat ini awak enjoy enjoy saja menghadapi perbedaan pendapat di kompasiana. Kata orang bijak kenapa kita harus berseteru yang berujung pemusuhan, bukankah satu musuh saja sudah sangat memusingkan kepala, kenapa tidak kita memperbanyak teman yang bisa saling membahagiakan.Terakhir satu hal yang masih bisa diperdebatkan antar kompasianer (versi TD) adalah apabila terjadi perbedaan PENDAPATAN dari hasil menulis …hahahahaha.

Salamsalaman

12 September BHP 2020

YPTD

Tinggalkan Balasan