Kisah TKW Indonesia dari Tulang Bawang ke China

 

 

 

TKW Indonesia dari Tulang Bawang ke China,

Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Oleh :

Susi Anggoro Kasih, S.Si.,M.Pd.

(email : susikasih2@gmail.com)

 

Perjalanan melewati jalan tol Terbanggi-Radin Intan membuat kami berempat banyak diam. Entahlah…meskipun diiringi alunan musik K-Pop dari BlackPink yang berjudul How You Like That kesukaan Titha anaku yang pertama, tapi aneka rasa di dada bercampur aduk seperti di mixer. Tak henti-hentinya Rere anakku yang kedua kupeluk sambil sesekali kuajak berbicara untuk meminta ijin darinya. Hal yang sama pun dilakukan Rere, tangannya memegangi pipiku sambil terus bilang : “eigh…eigh…eeeergh”. Bukan mengucap angka 8 dalam bahasa Inggris yang juga salah, tapi begitulah keajaiban Allah yang diberikan untuk Rere anakku yang istimewa. Ada berjuta makna dari kata tersebut untuknya, tinggal kita saja yang memahami jutaan makna tersebut. Ibunya akan jauh dan cukup lama meninggalkannya. Gimana saat dia mau tidur yang masih selalu “ngempeng” menempelkan bibirnya dihidungku. Aku menarik nafas panjang sambil sesekali mengusap buliran air mata yang sungguh sulit untuk di bendung.

 

Seperti tau isi pikiranku, suamiku yang sedang mengemudikan mobil melihatku dari kaca spion sambil berkata :”Udah…percaya deh, Rere aman ada mbak Mia dan nanti kubawa kerumah Uway (sebutan kami untuk neneknya anak-anak), disana kan banyak anak kecil, pasti nanti dia terhibur, kamu fokus untuk kegiatan ini. Kesempatan yang sulit untuk bisa diperoleh lagi. Ayolah ini saatnya kamu hepi-hepi”. Tak ada sepatah katapun yang kuucapkan, kecuali dalam hati aku mengucapkan Alhamdulillah….Ya Allah, Engkau menempatkanku di tengah-tengah orang-orang baik yang selalu mendukung dan menyayangiku. Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.

 

Menjadi salah satu peserta Pelatihan Guru ke Luar Negeri tahun 2019 tepatnya ke China adalah salah satu Keajaiban yang Allah beri. Program pemerintah melalui Direktorat Pembinaan Guru Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang memberikan apresiasi dalam rangka peningkatan kompetensi guru yang telah mengabdikan dirinya dengan penuh tanggung jawab dan berdedikasi serta memiliki prestasi dalam melaksanakan tugas sebagai guru. Lumayan tersanjung dan bangga sih, tapi rasanya malu dengan apresiasi yang begitu besarnya tetapi aku masih belum banyak melakukan apa-apa, iya..hanya menjadi guru yang bermodalkan tekad untuk bisa aktif mengikuti berbagai perlombaan khusus untuk guru seperti Forum Ilmiah, Inobel, Olimpiade Guru dan Guru Berprestasi. Mungkin karena aku pernah menjadi Finalis Guru Berprestasi tingkat Nasional jenjang SD di tahun 2008 dan juga Finalis Guru Berprestasi tingkat Nasional jenjang SMP di tahun 2018 sehingga terjaring menjadi peserta pelatihan ini. Tapi kuyakin inilah cara Allah menyayangiku agar aku semakin bersemangat untuk banyak berbuat dan bisa bermanfaat. Aku hanya bisa meluruskan niat, yang tidak lebih hanya ingin selalu belajar, belajar, dan belajar. Bahasa kerennya Belajar Sepanjang Hayat.

 

Rangkaian kegiatan pembekalan pra keberangkatan di Jakarta kuikuti dengan tertib, maklumlah ini pengalaman pertamaku untuk ke luar negeri sehingga harapanku dengan mengikuti kegiatan pembekalan secara sungguh-sungguh menjadi bekal selama 21 hari kedepan saat di negeri orang yang jauh dari keluarga dan juga bahasa yang juga tak ku kuasai sama sekali. Semua perlengkapan kusiapkan sesuai petunjuk yang ada di buku panduan kegiatan. Satu per satu kuberi tanda ceklist pada daftar barang atau perlengkapan yang harus dibawa. Ada beberapa barang yang menyesuaikan dengan cuaca di China saat itu yaitu antara musim dingin yang hampir usai dengan musim semi. Sehingga dibutuhkan perlengkapan untuk cuaca yang masih lumayan dingin, seperti sarung tangan, syal, dan pakaian long jhon sehingga harus kubeli. Berbekal sangu alias uang saku yang diberi oleh Kemendikbud. Sssst…..bocoran geiis, Aku dan seluruh peserta diberi uang saku loh. Alhamdulillah…..Keajaiban yang keberapa yang sudah Allah beri untukku. Diberi kesempatan untuk belajar, seluruh biaya perjalanan dan hidup selama di China dibiayai, dan ditambah lagi dengan uang saku. Wow…! Amazing…! Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.

 

“Hei, susi bersiaplah untuk Belajar” itulah kalimat seru yang selalu muncul di hati kecilku, dan benar saja sejak bertemu dengan 49 orang peserta dari berbagai daerah seluruh Indonesia banyak ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai hidup yang kudapati dari sosok-sosok hebat mereka. Berlanjut pada petualangan belajar yang diawali dengan terbangnya rombongan Group 1 China yang harus transit di bandara Hongkong. Kurang lebih 2 Jam aku dan teman serombongan menanti keberangkatan ke Nanjing-China. Di ruang tunggu bandara ini aku bertemu dengan 2 wanita asli Indonesia tepatnya dari Kabupaten Lampung Timur tetangga Kabupaten denganku yang juga duduk tidak berjauhan, kami berkenalan dan sempat sedikit berbincang tentang tujuan, mereka akan pulang ke Indonesia mengisi cuti kerjanya. Mereka adalah pejuang devisa di negara Hongkong. Mereka juga sempat bertanya aku mau kemana?. Kujawab :”China”. Sambil sedikit mengangguk terlontar sebuah kalimat dari salah satu wanita itu :  “Kamu Indo kerja dengan majikan di China?”.  Aku pun tersenyum sambil menjawab :”hmm…iya, aku dan rombongan ke China mau kerja sambil belajar”.

 

Langsung dalam hatiku bergemuruh, geli, dan campur-campur ingin terpingkal-pingkal tertawa untuk menertawakan diriku sendiri. Masyaallah….FIX….aku dikira mereka adalah TKW. Entahlah, tidak ada yang salah dari pernyataan mereka, hanya aku langsung bercermin menggunakan layar handphone yang kupegang sambil sesekali membenarkan lipatan jilbab yang kukenakan. Pantas saja, begini penampilanku yang amat jauh dari meyakinkan bahwa aku adalah utusan Indonesia untuk menjadi tamu kehormatan di negara China yang mau belajar bukan pejuang devisa untuk Indonesia. Disitu kembali aku memperoleh ilmu dan nilai-nilai kehidupan dari 2 orang TKW itu, bahwa tingkat pendidikan seseorang sangatlah berpengaruh dalam kemampuannya untuk berkomunikasi dan menghargai orang lain. Nah…keajaiban yang keberapa lagi yang sudah Allah beri untukku yang sudah merasakan mengenyam pendidikan hingga jenjang S-2 sehingga aku bisa ke luar negeri dengan cara dan tujuan yang berbeda dengan 2 wanita itu. Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Semoga segera bisa melanjutkan pendidikan S-3.

 

Hingga nyata kurasakan belajar 21 Hari di China. Satu hal yang paling mendasar adalah pembenaran bahwa Hidup adalah Perjuangan. Yupz..berjuang dengan koneksi internet diluar kebiasaan, google sulit untuk di telusuri, Whatsapp tersendat dengan harus install VPN, Facebook dan media sosial lainnya yang biasa kugunakan di Indonesia menjadi sangat terbatas di China. Komunikasi antar peserta selama di China menggunakan We-Chat dengan terlebih dahulu membeli kartu dan melakukan registrasi yang prosedurnya luar biasa seperti mau membuat KTP di Disdukcapil.

 

Berjuang berikutnya adalah kemampuan beradaptasiku yang kurang bagus pada suhu dingin. Dengan perawakan kurus kebanyakan orang bilang tentang postur tubuhku, sehingga timbunan lemakku bisa dibilang tidak ada, menjadikanku selalu kedinginan hingga menggigil dalam setiap perjalanan selama di luar ruangan. Berikutnya lagi perjuangan dengan cara berjalan orang-orang di China. Haduh…..aku seringkali Kepontalan alias ketinggalan.

 

Kebiasaan jalanku yang klenyak klenyek sambil tolah toleh melihat sekitaran tidak bisa dipakai di negeri ini. Mereka luar biasa cepat saat berjalan, mirip kalo aku berlari kecil-kecil. Begitupun cara makan mereka yang sangat lahap dan cepat, menurutku seperti Mukbang. Dan hmm…kutak sanggup. Pantas saja negeri ini menjadi sangat luar biasa majunya, karena orang-orangnya sangat cekatan dan profesional di bidangnya masing-masing. Mereka mengerjakan sesuatu yang menjadi keahlianya yang memang ditempa sejak saat mereka belajar di sekolah dasar.  Orang tua bekerja sama dengan guru-guru yang memang sangat profesional untuk memoles potensi dan keahlian masing-masing peserta didik. Pemerintahanya sudah membangun sebuah sistem pendidikan yang bisa ditarik garis merahnya selaras dengan tantangan kehidupan di segala bidang yang langsung bisa diterapkan.

 

Dari keseluruhan rangkaian kegiatan belajar di China ke kampus CUMT (China University of Mining and Technology); kunjungan ke sekolah untuk mengetahui model pembelajaran, gaya mengajar dan administrasi guru, serta penerapan ICT di kelas dan pembelajaran; robotic; mengenal kaligrafi China; dan mengenal hasil peradaban kebudayaan masa Dynasty Han dan Confisius Temple; hingga menjelajah tembok China akhirnya ada makna STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang secara nyata kudapati dalam pembelajarannya yaitu setiap individu digali kemampuanya dalam berfikir kritis berliterasi sains, mengembangkan kemampuan untuk berkolaborasi, berkreasi, berinovasi dan komputasi teknologi untuk membantu memenuhi dan mempermudah kebutuhan kehidupannya, yang dimulai sejak usia dini.

 

Semoga hal ini dapat ditiru oleh guru-guru sebagai agen perubahan di Indonesia untuk mengaplikasikan STEM dalam pembelajaran sehari-hari.  Jika saat ini China jauh meninggalkan kita sangatlah wajar, karena sudah menerapkan pembelajaran STEM sejak 11 tahun yang lalu seperti peserta didik diajarkan sebuah pengetahuan tentang bangun ruang untuk mendesain sebuah gedung sederhana, memanfaatkan sumber daya alam dengan langsung praktik membuat makanan olahan hasil fermentasi, merakit robot sederhana, membuat rangkaian elektronik sederhana, mendesain aplikasi game sederhana, melakukan wawancara langsung kepada narasumber, melakukan simulasi mitigasi bencana alam, dan sebagainya sehingga belajar menjadi lebih bermakna bukan hanya sekedar teori dan konsep melainkan bisa menggali keterampilan peserta didik secara maksimal.

 

Tak lupa masih ada pembuktian yang lain dari makna belajar setelah ke China yaitu menghargai dan melestarikan budaya bangsa sendiri menjadi kunci jati diri. Sikap disiplin, kerja keras, dan integritas yang tinggi adalah karakter Indonesia asli yang harus pasti bisa terus digali sebagai kunci kesuksesan diri. Terima kasih ya Allah… untuk kesempatan belajar yang luar biasa ini.  Ijinkan aku bisa terus istiqomah belajar semata mencari Ridho-Mu.  Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

Tinggalkan Balasan