oleh

Kalau Saja Waktu Bisa Diulang

-BUKU, Filosofi, Gaya Hidup, Humaniora, Sosbud-Telah Dibaca : 136 Orang

KALAU SAJA WAKTU BISA DIULANG

Ada satu peristiwa yang pernah aku alami dan menjadi penyesalan sampai saat ini. Dimana aku sebagai anak kurang mampu memenuhi kebutuhan orang tua, kurang peka mengetahui apa yang dibutuhkan Bakku. Dan itu baru aku sadari setelah Bakku tidak lagi ada, meninggal untuk selama-lamanya.

Orang tua meminta sesuatu pada kita tentunya dia sudah melihat bahwa kita bisa memenuhinya. Dia tidak asal meminta tanpa mengukur kemampuan kita. Aku pun sekarang kalau meminta sesuatu pada anak, setelah aku melihat dalam pandanganku dia mampu untuk memenuhinya.

Begitu juga ketika Bakku dulu meminta dibelikan alat Bantu dengar kepadaku, pastinya dia berpikir bahwa aku mampu untuk membelikannya. Yang menjadi penyesalan aku, aku tidak memberikan alat bantu dengar yang dia butuhkan, tapi membelikan alat Bantu dengar yang fungsinya kurang maksimal.

Apa yang terjadi setelah itu,? Alat tersebut mubazir tidak bisa digunakan secara maksimal. Padahal secara kemampuan, aku mampu membelikan alat Bantu dengar yang bisa digunakan Bakku secara maksimal dan sesuai dengan kebutuhannya, tapi itu tidak aku lakukan. Itulah kesalahanku yang sangat fatal.

Apa kejadian berikutnya,? Bakku harus masuk rumah sakit karena disentri. Biaya yang aku keluarkanpun melebihi harga alat Bantu dengar yang seharusnya aku belikan. Begitulah cara Tuhan menegur kesalahanku. Aku menghemat untuk membelikan kebutuhan Bakku, disisi lain Tuhan kasih ujian aku harus keluarkan uang lebih dari yang aku hemat.

Bukan cuma itu ujian yang aku terima, usaha yang aku jalankan pun menemukan banyak masalah. Usahaku ambruk, dan aku terpaksa boyong keluarga pulang ke daerah. Bertubi-tubi ujian datang, yang pada akhirnya aku menyadari, satu kesalahan kecil bisa menghancurkan semuanya.

Semua berbalik 360 derajat, aku yang pada masa itu seharusnya bisa menjadi tulang punggung orang tua, malah berbalik menjadi beban orang tua. Yang ditanggung bukanlah aku sendiri, tapi juga anak dan isteriku.

Memang sebab utamanya bukanlah soal ketidakberbaktinyaku pada orang tua, tapi soal kepekaan memahami bagaimana seharusnya memperlakukan orang tua, bagaimana menyenangkan hating orang tua. Dan Tuhan memberikan ujian lewat beberapa peristiwa yang aku hadapi.

Sekarang sebagai orang tua, aku sendiri suka sensitif jika kurang diperhatikan anak-anak. Dari situasi inilah pada akhirnya aku memahami situasi hati orang tuaku saat mereka masih hidup. Kadang memang kita diajarkan oleh berbagai keadaan, itupun kalau kita mau memetik hikmah dari setiap kejadian yang dialamai.

Kalau masih memiliki orang tua, sayangilah mereka sepenuh hati, karena memang Ridho Allah itu tergantung Ridho orang tua. Istimewakanlah orang tua, karena tidak ada ruginya terhadap kewajiban tersebut. Senangkan mereka sepenuh hati dengan tulus dan ikhlas.

Ajinatha

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar