Marilah Berbuat Baik Kepada Binatang

MARILAH BERBUAT BAIK KEPADA BINATANG

Oleh: Nanang M. Safa

 

Melakukan kebaikan pastilah akan mendatangkan kebaikan juga. Saya sangat yakin tentang hal ini. Maka seringkali saya menyampaikan kepada anak-anak saya, juga kepada siswa saya agar tidak menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik, tak terkecuali kepada binatang.

Berbuat baik kepada sesama manusia tentulah bukan hal asing dan hampir setiap orang pernah melakukannya. Namun berbuat baik kepada makhluk Allah yang bernama binatang seringkali banyak orang mengabaikannya.

Binatang adalah makhluk Allah yang tentu penciptaannya tidak sia-sia. Bahkan di dalam Al Qur’an pun beberapa binatang diabadikan menjadi nama surat dalam Al Qur’an. Sebut saja misalnya sapi betina (al Baqarah), lebah (an Nahl), semut (an Naml), laba-laba (al Ankabut), dan gajah (al Fil). Banyak juga binatang yang diceritakan dalam Al Qur’an semisal unta, kuda, anjing, lalat, burung gagak, rayap, burung hud-hud, keledai, katak, kutu, babi, serigala, nyamuk, ikan paus, ular, dan domba. Binatang-binatang tersebut masing-masing memiliki kelebihan.

Pada kesempatan ini saya ingin bercerita tentang si semut. Binatang kecil ini hampir bisa ditemui di setiap tempat dan setiap waktu. Bahkan di rumah saya dan rumah Anda pun seringkali dijumpai si semut. Maka tak salah kata pepatah yang menyatakan, “Ada gula ada semut”. Kata pepatah ini menggambarkan tentang semut yang sangat mudah ditemui.

Di rumah saya si semut juga sangat mudah ditemukan. Di lantai, di dinding, dan di tempat-tempat tertentu, saya sering menjumpai semut hitam dan semut kecil berwarna merah kelabu. Sedangkan semut merah besar (angkrang) paling sering saya temui di pepohonan di sekitar rumah saya.

Dalam Wikipedia Indonesia disebutkan, semut memiliki lebih dari 12.500 jenis (spesies). Sebagian besar semut hidup di kawasan tropika. Sebagian besar semut merupakan serangga sosial yang memiliki koloni (kelompok) yang beranggotakan ribuan semut pada setiap koloni (https://id.wikipedia.org/wiki/Semut).

Sebagian semut sangat bermanfaat bagi manusia. Sebagian semut juga bertindak sebagai agen pengontrol biologis. Semut juga membantu penyebaran benihpenyerbukan tanaman, serta membantu meningkatkan kualitas tanah. Semut juga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan manusia yakni sebagai sumber potensial untuk obat-obatan baru terutama antibiotik (https://theconversation.com/enam-fakta-menakjubkan-dari-semut-yang-perlu-anda-ketahui-119386).

Pertanyaannya, apakah yang Anda lakukan ketika menemui semut di rumah Anda? Membiarkannya, mengusirnya atau malah membunuhnya? Sepertinya tiga kemungkinan inilah yang akan dilakukan banyak orang. Saya sendiri memilih membiarkannya. Tentu saja saya sudah melakukan langkah-langkah pengamanan untuk meminimalisir makanan di rumah saya agar tidak dijamah si semut. Misalnya ketika saya menaruh makanan di atas meja maka di kaki-kaki meja saya taruh wadah berisi air. Cara ini bisa menghalangi si semut naik ke atas meja dan menjarah makanan di sana. Selanjutnya, jika si semut sudah terlanjur merubung makanan maka saya akan memberikan makanan tersebut kepada si semut. Toch makanan sisa si semut juga tidak akan saya makan lagi. Maka sekalian saja saya sedekahkan kepada si semut.

Dulu saya sering melihat orang membunuh semut yang ngendon di rumah mereka secara massal dengan cara ekstrim. Mereka mbrongot (membunuh semut dengan cara membakarnya dengan obor), atau menyiramnya dengan air panas, atau juga menyemprotnya dengan menggunakan minyak tanah. Coba berapa ribu nyawa yang sudah terbunuh dengan sia-sia? Bukankah mereka datang ke rumah kita juga karena kesalahan kita sendiri?

Marilah kita menengok sebentar kisah Nabi Sulaiman a.s yang juga seorang raja diraja pada zamannya. Beliau memperlakukan si semut dengan penuh kasih. Padahal bisa saja raja Sulaiman membiarkan si semut terinjak-injak pasukannya dengan bermacam alasan yang masuk akal. Namun raja Sulaiman justru menyuruh pasukannya berhenti dan setelah semua semut masuk ke sarangnya barulah raja Sulaiman memerintahkan pasukannya melanjutkan perjalanannya. Mengapa kita tidak mengambil ibrah (pelajaran) dari apa yang dilakukan raja Sulaiman?

Baiklah, saya lanjutkan cerita saya tentang si semut. Pernah saya menjumpai seekor semut tercebur di kobokan (bak tempat mencuci piring kotor). Saya amati si semut berusaha keluar dari kobokan dengan sisa-sisa tenaganya. Entah sudah berapa lama si semut tercebur di lautan kobokan di dapur saya. Tanpa pikir panjang saya mengambilnya lalu saya taruh di dinding. Rupanya si semut sudah benar-benar kelelahan. Setelah beberapa menit barulah si semut mampu berjalan. Saya terharu memandanginya. Jika saya bisa mengerti bahasa si semut barangkali saja si semut berucap “terima kasih” kepada saya.

Rasulullah Muhammad SAW juga pernah menyampaikan berita dalam sebuah haditsnya tentang seorang wanita yang terseret ke neraka cuma gara-gara kucing yang dikurungnya mati kelaparan (https://bincangsyariah.com/khazanah/kisah-wanita-masuk-neraka-sebab-membiarkan-seekor-kucing-mati-kelaparan/). Pada hadits yang lain Rasulullah Muhammad SAW juga menyampaikan berita tentang seorang wanita yang diridloi Allah SWT masuk surga hanya gara-gara menolong memberi minum seekor anjing yang sedang sekarat karena kehausan (https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6192490/kisah-pelacur-bani-israil-masuk-surga-usai-menolong-anjing#:~:text=Rasulullah%20SAW%20dalam%20haditsnya%20pernah,anjing%20kala%20hewan%20tersebut%20kehausan).

Bukankah kedua hadits di atas memberikan sinyal kepada kita agar lebih berhati-hati memperlakukan binatang?  Maka saya ingin mengajak Anda untuk melakukan kebaikan kepada binatang sekecil dan seremeh apapun termasuk semut. Bukankah saya dan Anda tidak pernah tahu amalan apa yang akan membawa kita ke surga. Dan sebaliknya, bukankah kita juga tidak pernah tahu perbuatan apa yang akan menyeret kita ke neraka.

Selanjutnya terserah Anda.

 

#kmab#37

Tinggalkan Balasan