Kisah-Kisah Perjalanan: Apakah Swafoto Perlu Ada Rambu-Rambu

Ke bromo

Dengan semakin bagusnya kualitas kamera bawaan telepon pintar, dan semudah mudahnya terkoneksi internet, maka berfoto pun seolah-olah sudah menjadi kebutuhan. Di setiap tempat wisata pun banyak yang menjadikan sudut-sudut yang cantik atau tempat ikonik sebagai lokasi yang digemari untuk swafoto.

Tapi rupanya kebiasaan swafoto wisatawan seringkali merugikan wisatawan lainnya. Perlukah mereka yang berswafoto mengetahui rambu-rambu?

Suatu ketika di Museum Angkut, Batu, seorang remaja perempuan tiba-tiba mendorong badanku. Aku yang sedang memerhatikan koleksi sambil membaca deskripsinya terkejut. Ia mendorongku dengan posisi punggungnya membenturku. Mau tak mau aku jadi bergeser. Rupanya ia sedang berswafoto alias selfie.

Aku merasa kesal ia tak minta maaf. Rupanya tak hanya satu yang bertingkah seperti itu. Mereka tak benar-benar ingin ke museum ini untuk menambah wawasan. Tujuannya sepertinya hanya mengumpulkan foto dengan latar menarik sebanyak-banyaknya.

Mereka juga tak hanya remaja. Kaum dewasa pun juga ada yang seperti itu. Sendiri atau beramai-ramai mereka membuat kehebohan berfoto. Ulah mereka di antaranya membuat risih dan kurang nyaman bagi wisatawan lainnya yang hanya ingin refreshing sambil menambah wawasan.

Dalam hati, aku bertanya-tanya, apa mereka tidak tahu dalam setiap bertindak itu perlu tata krama. Mengambil foto itu kegiatan umum tapi ketika merugikan orang lain maka pelakunya harus paham bahwa tindakannya salah.

Bagaimana jika kode etik alias rambu-rambu tentang berswafoto dan berfoto ramai-ramai itu disosialisasikan dan diketahui oleh masyarakat terutama netizen? Dengan demikian sama-sama enak dan nyaman, antara mereka yang doyan berswafoto maupun yang hanya berfoto secukupnya.

Di beberapa museum terkenal dan obyek terkenal internasional, sudah muncul larangan berswafoto. Pastinya ada keluhan sebelumnya dan kekuatiran terkait dengan kegiatan ini sehingga kemudian dilakukan pelarangan.

Memang belum ada kode etik atau rambu-rambu yang baku tentang aturan berswafoto. Namun yang utama, jangan sampai kegiatan berswafoto mengganggu kenyamanan orang lain.

Berikut rambu-rambu berswafoto versiku. Yang pertama lihatlah posisi sekitar, apakah ada antrian untuk berfoto di tempat tersebut. Jika ya, maka lakukanlah swafoto secukupnya dan secara cepat. Tempat itu bukan milik pribadi lainnya. Ada sejumlah wisatawan yang datang dari jauh dan membayar untuk ingin berfoto di tempat tersebut.

Jika berfoto grup jika lihat sikon. Juga sudah ada yang menunggu maka mintalah ijin untuk menunggu sejenak dan segeralah berfoto. Jangan semua anggota grup minta foto dengan kamera masing-masing, hasil foto dari satu kamera bisa disebarluaskan, bukan?!

Yang kedua, lihat posisimu ketika berfoto. Jangan sampai Kamu nyemplung sungai karena ingin mendapatkan angle yang baik. Juga jangan sampai Kamu mendorong orang lain gara-gara aksimu tersebut.

Lebih baik lagi jika Kamu permisi dulu untuk berswafoto jika ada orang lain di sekitarmu karena bisa jadi mereka tak nyaman jika ada wajah mereka di fotomu.

Lalu jangan keasyikan berswafoto. Lagi-lagi ingat itu tempat umum, kecuali kamu berliburan di tempat sepi.

Yang ketiga, jika sudah ada larangan berswafoto maka patuhilah. Ada beberapa tempat yang menerapkan secara ketat untuk dilarang mengambil foto. Alasannya banyak dan hargailah. Ingat hal tersebut menentukan masa depan berwisata.

Ada satu kampung adat yang kemudian menutup kampungnya karena ada saja wisatawan yang mencuri foto padahal pihak kepala adat sudah mengingatkannya berulang kali. Akhirnya wisatawan lainnya yang hendak mendapatkan wawasan malah tak bisa ke sana karena ulah segelintir orang yang banci kamera.

Berswafoto memang menyenangkan. Tapi ingat rambu-rambunya ya.

Tinggalkan Balasan