Kisah-Kisah Perjalanan: Hotel Menyatu dengan Pusat Perbelanjaan

Hotel di sumedang

Eh hotelnya menyatu dengan mal ya? Aku menggaruk-garuk kepala. Semangatku makin redup ketika kami harus menyeret koper dan membawa ransel kami melalui lorong mal sebelum menuju ke ujung, tempat lobi hotel berada. Di situlah sebuah hotel di Sumedang berada.

Kini kejadian itu berulang seperti sebuah dejavu, hanya tempatnya berbeda. Tak terlihat ada bangunan yang menunjukkan ada hotel di sekitar itu. Bagian bawah adalah semacam supermarket berukuran menengah dan lantai-lantai berikutnya menjual pakaian. Kata salah satu petugas, penginapan ada di lantai empat, bagian paling atas bangunan ini.

Untungnya keadaan lebih baik. Ada lift khusus bagi mereka yang menginap. Tak perlu kami menyeret-nyeret koper dan membawa tas diiringi beberapa tatapan pasang mata yang merasa penasaran.

Aku menggerutu ke pasangan karena memilih hotel di atas pusat perbelanjaan. Ia meminta maaf karena ia berfokus melihat lokasi dan fasilitas kamar

Untungnya dua penginapan tersebut, baik yang di kota Sumedang maupun di kota Sukabumi tersebut cukup memadai. Setiba di lobi hotel di Sumedang tak terasa lagi suasana mal. Ada kolam renang dan tempat bersantai di bagian luar kamar.

Sementara hotel di kota Sukabumi membuatku merasa terisolir. Kami harus menaiki tangga lagi menuju kamar. Ketika kami sampai kamar rasanya sudah enggan kemana-mana karena agak ribet. Untunglah dari lobi hotel kami bisa melihat pemandangan laut dengan tempat pelelangan ikan.

Plus Minus Hotel Menyatu dengan Pusat Perbelanjaan
Konsep hotel menyatu dengan pusat perbelanjaan sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Di beberapa tempat ada hotel yang di bagian bawah atau sampingnya ada restoran umum, juga minimarket. Kadang-kadang juga ada yang memiliki kedai kopi.

Hotel di sumedang

Di Bekasi aku juga pernah menginap di hotel menyatu dengan mal. Hanya bagian hotelnya masih bisa dijangkau tanpa harus melewati mal sama sekali. Lebih nyaman dan lebih privat.

Bagian plusnya sih memang kita tak perlu direpotkan dengan banyak bawaan selama menginap. Tak perlu bawa banyak pakaian dan menyiapkan makanan ringan, toh bisa beli di sana.

Mau makan juga mudah. Ada foodcourt juga pilihan berbagai tempat makan.

Yang di Sumedang malah ada bioskopnya. Untungnya kami ke sana sebelum pandemi, sehingga ketika bosan di kamar dan malas ke luar, kami memilih turun ke satu lantai dan menyaksikan film horor di bioskop. Harga tiketnya juga terjangkau jika dibandingkan dengan di Jakarta.

Minusnya aku dan suami merasa privasi kami kurang terlindungi. Apalagi jika harus melalui bagian-bagian mal sebelum tiba di lobi.

Jika misalkan aku ke luar kota untuk menghadiri konferensi dan menginap sendirian di hotel seperti itu, rasanya bakal akan kurang nyaman. Karena memang masih ada stigma kurang baik ketika perempuan menginap sendirian. Kekurangan ini bisa diatasi jika ada jalan akses tersendiri untuk ke hotel.

Poin minusnya lagi bagiku yang kurang suka main ke mal, nuansa kenyamanan penginapan tersebut jadi berkurang. Ingin menikmati suasana tenang penginapan, eh rasanya malah seperti sedang kongkow di mal. Inginnya bersantai dan menyepi, eh malah masih terasa seperti di Jakarta.

Tinggalkan Balasan