Manusia: Antara Akal, Perasaan, dan Ruh

Sumber gambar : jalan akhirat wordpress.com

 

Manusia adalah hewan yang berpikir, demikian kata Aristoteles . Dari sini dapat dikatakan bahwa ciri khas manusia adalah pikirannya, jika ia sudah tidak lagi menggunakan pikirannya berarti tak ubahnya seperti hewan.

Kalau manusia makan dan minum, hewan pun makan dan minum. Kalau manusia berkembang biak, maka hewan pun berkembang biak dan seterusnya. Pikiran merupakan produk dari akal, dan keberadaan akal merupakan suatu hal yang paling membedakan antara manusia dan hewan.

Manusia dikarunia akal untuk berpikir, yang dari produk pemikiran tersebut lahirlah budaya dan peradaban. Dengan adanya akal, manusia dapat membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk.

Keberadaan akal merupakan hasil dari pengembangan sistem kerja otak yang terdiri dari jutaan sel syaraf yang saling tersambung satu sama lain. Volume otak manusia sekitar 1.350 cc dan mempunyai 100 juta sel saraf atau neuron di dalamnya yang sangat memungkinkan manusia untuk mengembangkan potensinya, berbeda dengan hewan yang memiliki volume otak jauh lebih kecil dibanding manusia.

Selain dikarunia akal dan pikiran, manusia juga dikarunia perasaan. Perasaan dan emosi sebenarnya juga masih bagian dari kerja otak. Dalam ilmu psikologi maupun biologi sering dikenal istilah otak besar (cereberum), dimana otak besar ini dibagi menjadi dua belahan, yaitu otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri biasanya bekerja untuk hal-hal yang sifatnya logika dan matematika, sedangkan otak kanan bekerja untuk hal-hal yang sifatnya estetika, seni , dan keindahan. Disinilah dapat dikatakan dua unsur utama manusia yaitu akal (logika) dan perasaan yang keduanya merupakan produk dari otak manusia.

Manusia dikatakan sehat, tidak hanya sehat secara jasmani saja, namun juga sehat secara rohani. Manusia yang sehat rohaninya berarti manusia yang mempunyai akal yang sehat. Orang yang berakal sehat, akan mampu mengambil sebuah kesimpulan yang benar dan tepat dalam setiap mengahadapi permasalahan.

Keterampilan seseorang dalam mengambil sebuah kesimpulan atau keputusan yang benar dan tepat dalam sebuah permasalahan, merupakan buah dari pemberdayaan akal yang tidak didapat secara instan. Namun merupakan hasil pembelajaran panjang yang berdasarkan pengalaman hidup.

Kecerdasan seseorang dalam mengambil keputusan dan kesimpulan yang benar dalam sebuah masalah, tidak semata-mata ditentukan  oleh seberapa besar IQnya, Namun juga ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan spiritualnya(SQ).

Kalaulah banyak teori yang mengatakan bahwa kecerdasan IQ dan EQ merupakan hasil dari optimalisasi fungsi kerja otak (otak kiri dan kanan), bagaimana dengan kecerdasan spiritual atau SQ?

Berbicara spiritual tidak lepas dari unsur Ruhani dalam diri manusia. Berdasarkan proses penciptaan manusia, setelah unsur jasad/biologis manusia sempurna dan mengalami diferensiasi (sekitar 4 bulan dalam kandungan), maka Tuhan meniupkan Ruh ciptaanNya ke dalam janin manusia. Inilah yang menjadikan manusia sebagai sebaik-baik kejadian/penciptaan. Ada unsur jasmaniah (jasad), unsur akal (Aqliyah), dan Rohani (Ruhiyah).

Manusia yang sempurna adalah manusia yang dikarunia jasmani yang indah, akal yang sehat, dan Ruhani yang bersih yang kalau semua itu dijaga sesuai kodratnya maka manusia akan menjadi pemimpin di bumi dan menciptakan peradaban yang tinggi.

Namun jika manusia tak mampu menjaga kodratnya sebagai makhluk yang dikaruniai akal dan pikiran serta ruh yang suci, maka ia akan seperti hewan bahkan lebih rendah daripada itu.***

Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta

Tinggalkan Balasan