Menjaga Konsistensi dalam Profesi

Sumber gambar:Zahiraccounting.com

 

Konsisten adalah suatu sikap yang teguh pada satu pendirian dan tidak tergoyahkan dalam menghadapi berbagai rintangan untuk meraih sesuatu yang menjadi tujuan. Untuk melahirkan sikap yang konsisten dalam menjalankan aktifitas profesi tidaklah mudah, paling tidak dibutuhkan sifat-sifat positif yang mendukung, di antaranya:

1. Ikhlas

Untuk memiliki sikap ikhlas dalam melaksanakan aktivitas profesi dibutuhkan kesadaran tentang hakikat dan eksistensi keberadaan kita sebagai manusia, bahwa setiap aktivitas kita dilandasi oleh nilai-nilai ibadah dan karena untuk mencari ridho-Nya semata.

Sering terjadi apa yang diinginkan tidak sesuai dengan apa yang didapatkan, bahkan terkadang hasil kerja yang dilakukan belum mendapatkan penghargaan yang sesuai dari pihak terkait. Di sinilah dibutuhkan jiwa ikhlas, jiwa yang murni dan bersih dari keinginan-keinginan dipuji oleh manusia.

2. Optimalisasi dalam tindakan;

Setiap tindakan atau aktivitas yang dilakukan haruslah dilakukan dengan sepenuh hati, dengan kerja keras dan kerja tuntas. Pribadi yang konsisten dalam menjalankan profesinya tidak akan berbuat setengah-setengah, semua dilakukan dalam upaya optimalisasi kinerja demi membuahkan hasil yang efektif dan efisien.

3. Berlaku moderat;

Dalam menjalankan aktivitas profesi, seyogianya kita bersikap moderat, tidak berlebihan atau sebaliknya terlalu menyepelekan kewajiban.

Pribadi yang konsisten tidak akan mudah terpengaruh dengan lingkungan kerja yang tidak ideal. Meskipun ia berada pada kondisi yang bad mood, namun ia akan tetap berusaha datang tidak terlambat, menyelesai tugas tepat waktu, dan sebagainya.  

Untuk memiliki sikap yang konsisten dalam menjalankan aktivitas profesi, sering dijumpai bermacam-macam hambatan dan tantangan. Hambatan dan tantangan tersebut bisa datang dari 2 faktor, yaitu:

1. Faktor keorganisasian dari suatu lembaga atau institusi

a. Pembinaan sumber daya manusia yang lemah
Segi pembinaan dalam aktifitas suatu lembaga profesi kadang hanya mendapat porsi yang sedikit, dibanding segi lain yang bersifat administratif,  organisatoris, dan praktis.

Dengan kurangnya pembinaan, maka hubungan sosial organisasi menjadi kering kerontang dari keindahan hubungan sosial dan kemanisan hubungan inter personal. Seorang pimpinan dalam suatu lembaga profesi sering menyangka telah mencapai puncak aktifitas dan berada di puncak kemenangan, tanpa merasakan kehampaan jiwa dan sosial para sumber daya yang ada di dalamnya.

Pengontrolan setiap individu dengan pembinaan mental rohani– baik bawahan maupun atasan- haruslah menjadi agenda utama suatu lembaga profesi.

Di sini kita harus menolak pendapat yang memandang sebagian individu telah mendapat cukup pembinaan, atau tidak butuh lagi pembinaan. Ingatlah bahwa setiap kita selalu mendapat  ujian  dalam hidup dan kehidupan ini.

b. Penempatan individu yang tidak tepat
Ketidaktepatan menempatkan seorang individu pada posisinya yang cocok, selalu menyebabkan kegagalan aktifitas dalam profesi dan kerugian para anggota dalam suatu lembaga atau institusi.

Suatu lembaga profesi yang memiki kesadaran dan kematangan adalah lembaga yang mengenali kemampuan, kecenderungan, dan pembawaan para anggotanya, serta mengenali titik-titik kekuatan dan kelemahan mereka, sehinga dapat memilih yang cocok dengannya, sesuai dengan kemampuan, kecenderungan, tabiat, dan levelnya.

c. Tidak ada pantauan terhadap anggota
Di antara faktor yang menyebabkan seseorang tidak konsisten dalam aktifitas profesinya adalah tidak atau kurangnya pantauan (monitoring) dari pimpinannya. Juga kurangnya perhatian lembaga terhadap situasi-situasi khusus atau umum yang mempengaruhi anggota.

Para anggota dari suatu lembaga profesi juga seperti manusia lainnya, yamg mengalami situasi sulit dan kritis, serta problema yang bermacam-macam, baik yang bersifat emosional, kejiwaan, keluarga, ekonomi, dan lain sebagainya.

d. Kepemimipanan yang tidak ahli dan layak

Di antara faktor penyebab langsung terpuruk dan tidak konsistennya seseorang dalam menjalankan aktivitas profesinya adalah kelemahan kepemimpinan secara umum serta ketidakmampuan merangkul dan memelihara barisan pada setiap  situasi dan kondisi.

Kelemahan pemimipin biasanya muncul dari dua sebab utama, yaitu : lemahnya penguasaan leadership secara umum dan lemahnya kemampuan organisatoris.

2. Faktor Internal Individu 

a. Watak tidak disiplin

Setiap orang yang bekerja pada suatu lembaga profesi harus memiliki sifat yang disiplin, dan tidak mencampurbaurkan antara hak-hak pribadi, kewajiban-kewajiban anggota, dan tuntutan organisasi. Tidak boleh hanya karena dalih pertemanan lantas menganggap enteng disiplin kerja .

b. Menghawatirkan Nasib Pribadi dan Keluarga

Tidak konsistennya seseorang di dalam profesinya bisa disebabkan adanya kekhawatiran akan nasib pribadi dan ekonomi keluarga atau karena mereka takut miskin.

Hal ini biasa terjadi pada lembaga profesi yang memang belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap kesejahteraan anggota atau karyawan di dalamnya, sehingga komitmen dan loyalitas anggota belum bisa maksimal terhadap institusi dimana mereka bernaung.

Apabila seseorang sudah dapat mengenali siapa dirinya sesungguhnya, untuk apa dia ada, dan kemana tujuan akhir daripada perjalanannya di dunia ini, maka sikap konsisten akan ia miliki.

Ia tidak akan mudah terombang-ambing dalam menjalankan aktifitas profesinya . Apapun profesi nya, ia akan menjalankan setiap kewajiban profesi dengan penuh rasa ikhlas dan tanggung jawab,sehingga pada akhirnya berkat ketekunan dan kekonsistenannya maka buahnya akan ia rasakan, cepat ataupun lambat.***

Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta

Tinggalkan Balasan