Belajar dari Kepemimpinan Muhammad S.A.W

Sumber gambar: republika.co.id

Kepemimpinan atau Leadership merupakan hal yang sangat urgen dan penting dalam tata kelola kehidupan manusia sejak dahulu hingga saat ini. Berbicara tentang kepemimpinan tidak akan terlepas dari dua hal utama yaitu pemimpin dan yang dipimpin. Seorang pemimpin dinilai bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kepemimpinannya.

Salah satu yang terpenting adalah kemampuan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dan membuat kebijakan, efektifitas sebuah kebijakan dan bagaimana dampak atas kebijakan tersebut. Seorang pemimpin tidak lahir begitu saja secara instan, namun melalui sebuah proses panjang penempaan karakter dan kompetensi yang sudah dimulai bahkan sejak dini.

Dalam buku “Seratus Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah (The 100 A Rangking of The Most Influential Persons In History)” yang ditulis Michael H.Hart, dituliskan bahwa Nabi Muhammad berada pada urutan teratas. Penulis buku tersebut beralasan bahwa Nabi Muhammad adalah satu-satunya manusia yang meraih kesuksesan luar biasa, baik ditilik menurut ukuran agama maupun duniawi serta tampil sebagai pemimpin yang tangguh, tulen, dan efektif.

Sebagian besar dari kita pernah mendengar tentang kepemimpinan seorang Muhammad S.A.W. Dalam masa kurang dari 23 tahun beliau sanggup mengangkat derajat bangsa Arab dari bangsa jahiliyah yang diliputi kebodohan dan keterbelakangan menjadi bangsa terkemuka dan berhasil memimpin banyak bangsa di dunia.

Orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya merasakan kelembutan, kasih sayang dan penghormatan dari seorang pemimpin bernama Muhammad bin Abdullah. Sejak kecil Nabi Muhammad S.A.W sudah ditempa dengan nilai-nilai kemandirian, hidup sebagai yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya, kemudian setelah kakeknya meninggal hidup bersama Abu Thalib pamannya.

Muhammad bin Abdullah tidak seperti anak kebanyakan yang hidup bermanja-manja dalam buaian ayah dan ibunya yang dilengkapi dengan beragam fasilitas dan kemudahan. Memasuki masa remaja, Muhammad bin Abdullah diperkenalkan dengan sebuah pendidikan karakter tentang bagaimana mengelola kesabaran dan kematangan emosi melalui sebuah pengembalaan ternak kambing dan unta. Ini bukanlah sebuah pekerjaan mudah, butuh keuletan, kesabaran, dan juga kejujuran.

Pada tahapan selanjutnya Muhammad bin Abdullah memasuki fragmentasi baru dalam hidupnya yaitu sebagai seorang pedagang, tidak hanya dalam skala lokal namun sudah termasuk skala regional bahkan internasional.

Dalam tahapan ini kembali kompetensi dan skill Muhammad S.A.W ditempa, khususnya yang terkait tata kelola dan manajerial bisnis. Dalam bisnis tidak hanya Sumber Daya Ekonomi, Namun juga melibatkan pengelolaan Sumber Daya Manusia dan piranti lainnya yang menuntut sikap profesional agar bisnis tersebut berkembang.

Cara berpikir Muhammad S.A.W yang lurus terlahir dari cara pandangnya yang juga lurus terhadap hidup dan kehidupan ini. Cara berpikir yang lurus tadi menghasilkan sebuah keputusan yang tepat sekaligus dapat diterima semua pihak. Karakter dasar Muhammad S.A.W yang sudah melekat sejak kecil, seperti jujur, amanah, serta memiliki integritas merupakan hal-hal yang sangat berperan dalam membentuk pengaruh beliau di tengah-tengah masyakat kala itu.

Cara berpikir Muhammad S.A.W adalah menganut asas-asas sebagai berikut :

1). Asas Fungsional, artinya dalam menentukan orang atau subyek yang membantunya dalam sebuah pekerjaan, beliau tidak memandang penampilan atau faktor luar (casing) namun lebih dilihat dari aspek fungsi dan tujuannya. Muhammad S.A.W mampu membentuk sosok empat sahabat yang utama, yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khattab, Usman Bin Affan, dan Ali Bin Abu Thalib  memiliki fungsi sendiri-sendiri dalam era kepemimpinannya.

2). Asas Manfaat, artinya Muhammad S.A.W lebih mengutamakan kemanfaatan daripada kesia-siaan. Tidak ada ucapan, perbuatan, bahkan diamnya yang tidak bermanfaat dan mempunyai nilai arti.

3). Asas Prioritas, artinya Muhammad S.A.W mengutakan hal yang mendesak daripada hal yang bisa ditunda.

4). Asas Sosial, artinya  Muhammad S.A.W lebih mementingkan orang lain dan kaumnya daripada diri sendiri.

5). Asas Kemudahan bagi pengikutnya, artinya Muhammad S.A.W memilih hal yang mudah untuk kaumnya dan hal sukar untuk dirinya.  Ketika orang lain disuruh mencari jalan yang termudah dalam beragama, maka Beliau memilih untuk mengurangi tidur dan makan serta shalat sampai bengkak kakinya.

Selain asas-asas di atas yang tidak kalah pentingnya adalah penanaman visi dan misi Muhammad S.A.W kepada para pengikutnya. Muhammad S.A.W memiliki visi Yaumil Akhir dan misi Rahmatan Lil ‘alamiin. Dengan penanaman visi Yaumil Akhir, para pengikut Muhammad S.A.W sadar bahwa setiap perbuatan dan pekerjaan semuanya itu akan ada pertanggungjawabannya, sehingga tidak akan dijalankan secara sembarangan dan tak bertanggung jawab. Tingkat pertanggungjawaban tertinggi berada pada mahkamah Tuhan Allah S.W.T nanti di akhirat. Sehingga para pengikut Muhammad S.A.W dididik apapun peran dan fungsinya, semuanya itu tidak lepas dari misi mensejahterakan kehidupan di muka bumi, menjaga kedamaian, keseimbangan alam, serta hubungan harmonis antara sesama manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Tuhannya.

Itulah kunci dari kepemimpinan Muhammad S.A.W. Beliau berhasil memimpin dunia dengan suara hatinya, dan diikuti pula oleh suara hati pengikutnya. Pemimpin sejati adalah seorang yang selalu mencintai dan memberi perhatian kepada orang lain, sehingga ia dicintai. Memiliki integritas yang kuat, sehingga ia dipercaya oleh pengikutnya. Selalu membimbing dan mengajari pengikutnya. Memiliki kepribadian yang kuat dan konsisten, dan yang terpenting adalah memimpin berlandaskan atas suara hati yang  berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang sesuai dengan fitrahnya.

Tidak ada salahnya bila semua pemimpin saat ini mencontoh Muhammad S.A.W dalam memimpin manusia dan menciptakan peradaban yang beradab. Sejarah sudah membuktikan bahwa dengan kepemimpinan yang dilakukan Muhammad S.A.W dalam kurun waktu yang relatif singkat telah mampu melahirkan masyarakat yang siap memimpin dan dipimpin, yang mencintai pemimpinnya dan pemimpinnyapun mencintai mereka, masyarakat yang maju, tidak hanya secara lokal namun juga secara global. Kata kuncinya adalah kapasitas, kapabilitas, dan integritas. Pemimpin masa kini harus punya kapasitas yang mumpuni meliputi kompetensi dan kualifikasi dalam hal-hal penting yang harus ia kuasai. Seorang pemimpin harus memiliki integritas, apa yang diucapkan harus sesuai dengan apa yang dilakukan, amanah dan dapat dipercaya oleh semua elemen masyarakat.***

Tinggalkan Balasan