oleh

Lamunanku (End)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 93 Orang

Untung sabut timbul untung batu tenggelam, aku menghebuskan napas kasar, termenung di tepi ranjang mengingat apa yang baru saja terjadi di ruang tengah. Raut wajah Pak Cik sungguh membuat hatiku pilu, dengan sangat terpaksa aku harus meninggalkan rumah Pak Cik yang selama ini menampungku. Aku akan kehilangan kasih sayang Pak Cik yang sudah aku anggap sebagai penganti ke dua orang tuaku.

Tak dapat lagi membagi bahagia atau memberikan sedikit rezeki yang aku terima jika aku melangkahkan kaki keluar dari rumah Pak Cik, jika aku tidak pergi pasti aku akan di jodohkan dengan Pak Duad oleh Mak Cik.

Pikiranku bercelaru, semua menjadi susah untuk dicerna. Akhirnya aku membaringkan diri di kasur dan melayari alam mimpi mencari kedamaian dari kesulitan hidupku selama ini.

***

“Pak Cik, Mak Cik halalkan segala makan minum serta maafkan segala kesalahan yang sengaja ataupun tidak sengaja.” Ucapku lirih sambil mencium tangan Pak Cik dan Mak Cik, airmataku mengalir tanpa aku sadari.

“Sinta, dah besar Pak Cik yakin Sinta bisa menjaga diri. Hanya satu pesan Pak Cik jangan lupa sholat dan sempatkan diri untuk datang berjumpa Pak Cik.” Ucapan Pak Cik hanya mendapatkan anggukan kepalaku, lidahku kelu untuk menjawab Pak Cik.

“Jangan lupa, kalau dapat gaji ingat Pak Cik.” Sela Mak Cik yang langsung mendapat tatapan tajam dari Pak Cik.

Langkahku gontai, sebenarnya berat hati untuk meninggalkan Pak Cik, tapi ini semua demi masa depanku. Lamunkan terhenti ketika taxi yang membawaku ke tempat kexi yang membawaku ke tempat kediamanku yang baru, semoga semua menjadi lebih baik di tempat baruku ini. Semua lamunan masa silam bersama Mak Cik dan Mira hanya tinggal kenangan. Langkahku mantap menuju rumah kontrakan sambil tersenyum aku membuka pint.

“Assalamualaikum rumahku, semoga kehidupan lebih berkah di sini.(AZ)

Komentar

Tinggalkan Balasan