oleh

Say,….

-Kuliner-Telah Dibaca : 80 Orang

Kreatif Abiiizz

“Tupat Say,…”

Catatan Kuliner Thamrin Dahlan

Entah disengaja atau tidak.  Entah dia paham atau tidak.  Entah dia peduli entah tidak, sudah tidak menjadi persoalan lagi.

Dia terus saja berjalan lambat ketika tidak hujan.  Berjalan bergegas ketika hujan.  Dialah penjual ketupat sayur  keliling yang saya temui di Gang Said depan Pasar Induk Jakarta Timur.

Bagi seorang jurnalis segala sesuatu bisa ditulis.  Contohnya kehidupan seorang penjual jajanan keliling yang menjadi inspirasi ketika di belakang sepeda dagangan tertulis kosa kata TUPAT SAY.

Seketika awak tertawa dalam hati,  Pasalnya ada kata say….

Terbanglah imajinasi ke soal cinta cintaan anak muda kasmaran nan acap mengucapkan “Say…”  kepada sang kekasih.

Sodara, Say itu kependekan dari sayang.  Tentu semua warga paham bersebab mereka pernah mengucapkan kosa kata itu pada zamannya.

Si penjual ketupat sayur  itu terus saja berjalan sembari berteriak “tupat tupat tupat “.  Entah mengapa para penjaja keliling ini suka menyingkat komoditas dagang.

 

Tetapi memang demikianlah adanya, ketupat di singkat jadi tupat.

Sate disingkat Te Te Te..

Roti, ti, ti, ti….

Siomay disingkat May may may…

Bakso , so so, so,…

Sekali lagi tulisan dipikulan itu seharusnya tertera kosa kata “ketupat sayur”.   Entah mengapa menjadi tupat say.  Apakah huruf “ur” yang ter-eliminasi.  Atau huruf itu terkelupas karena kena terik panas matahari atau pula tergerus basah hujan gerimis.

Lucunya kata sayur menjadi say tentu menjadi bahan gelak ketawa. Yes ketupat sayur jajanan untuk makan pagi sebenarnya.  Tetapi si abang terus saja berjalan mengikuti rute harian.  Biasanya dia berjualan sampai siang hari.

Nah ngomong ngomong jajanan ketupat sayur, awak  memiliki langganan sendiri di kedai si Uni dekat Perumahan Bumi Harapan Permai ( BHP).  Bukan karena si Uni orang minang sehingga ketupat sayurnya memang spesial maknyus.

Di kedai si Uni awak  bisa pesan teh talua (teh telor).  Inilah keistimewaan kedai ini walau warung kecil tetapi selalu ramai bersebab masakan khas padang memang enak enak sekali.

Tupat Say, terus berjalan.  Awak tidak sempat melakukan wawancara  si Abang.  Mungkin pada lain kesempatan mau tanya tanya juga apakah dia sadar tulisan tupat say itu sudah di posting di website YPTD terbitkanbukugratis.id

Bisa jadi kosa kata  “say”  si abang penjaja kuliner  jalanan dia sengaja menulis say untuk sensasi saja.

Point yang ingin saya sampaikan disini bahwa kehidupan warga dengan segala macam pekerjaan ternyata memang sangat unik.

Ambil positif saja sebagai hiburan bahwa segala sesuatu yang kita jumpai dalam kehidupan sehari hari adalah inspirasi untuk di khabarkan kepada khalayak.

Say… itu  bisa dipanjangkan menjadi sayur, saya, sayu dan,…sayang,…

hahahahaha

Salam Literasi Indonesia

BHP 301020

Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan

terbitkanbukugratis.id

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed