Inilah Musuh Penulis Sesungguhnya

Ada sebagian penulis yang menganggap sebagai penulis itu banyak musuhnya. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar, lain soal kalau menjadi penulis kontroversial, yang karya tulisnya selalu memancing keributan.

Memang ada penulis yang seperti itu? Jelas gak ada, masak sih bikin tulisan cuma buat ngajak ribut. Tapi yang jelas penulis punya musuh tapi tidak banyak, cuma satu. Itu kata saya.

Ada penulis yang menganggap kemalasan sebagai musuhnya, karena kalau sudah datang kemalasan atau rasa malas, maka rasa malas itu sangat menganggunya.

Tapi ada juga yang menganggap kesibukan lain sebagai musuhnya, di samping aktivitas menulis. Dia menganggap kesibukannya di luar menulis sangat mengganggu aktivitas menulis, sehingga membuat dia kurang produktif.

Kalau kesibukan seperti itu saya rasa bukanlah musuh ya, justeru itu penunjang aktivitas kita menulis. Itu bagi yang memilih menulis sebagai profesi utama tentunya.

Selain itu, ada juga yang menganggap ketidaknyamanan sebagai musuhnya. Menurutnya suasana yang tidak nyaman itu sangat mengganggu konsentrasinya dalam menulis, sehingga dia berusaha setiap menulis harus dengan kondisi yang nyaman.

Namun Ada juga yang menganggap musuh terberatnya sebagai penulis adalah rasa kantuk, karena kalau rasa kantuk datang, maka tidak ada yang bisa di lawan selain daripada tidur. Kalau sudah tidur disaat sedang mood menulis, maka buyarlah semua Inspirasi dan konsentrasi.

Semua yang dianggap musuh di atas, kalau menurut saya adalah satu rangkaian yange memang sering dihadapi penulis. Namun Hal seperti itu bagi seorang penulis masih bisa disiasati, dan mudah diatasi.

Tapi sesungguhnya musuh terberat seorang penulis itu adalah “orang yang tidak ingin membaca”. Enak gak sih udah menulis dengan berbagai ekspresi dan aksi, kadang sampai nungging dalam mengekspresikan tulisan, begitu di-posting atau di publish ke publik tidak ada yang baca.

Bagi sebagian orang mungkin alasannya ‘klise’ banget, saya sih nulis aja, mau ada yang baca atau gak saya gak peduli. Oke sih bisa kasih alasan begitu, tapi pada kenyataannya tetap saja kalau sudah menulis dan di publish, pasti rindu ada yang membaca.

Hakikat kita menulis bukan sekadar menuangkan dan mengekspresikan pikiran dan perasaan, membagikan imformasi atau Inspirasi yang bermanfaat saja. Jelas kita juga mengharap apa yang kita bagikan terbaca, ada yang baca dan bisa mengambil manfaat dari tulisan tersebut.

Yang sakitnya lagi bagi seorang penulis, ketika tulisannya di komentari, tapi komentarnya tidak nyambung dengan isinya. Itulah tandanya tulisannya tidak dibaca, cuma dilihat sekilas judulnya dan mencoba memahami isinya.

Padahal, tidak semua judul tulisan merupakan gambaran isinya. Tulisan dengan judulnya ‘click bait’ kadang menjebak pembaca kalau cuma membaca dari judulnya. Inilah kadang-kadang yang menjadi musuh penulis, orang yang tidak ingin membaca.

Jadi bukan rasa malas, kesibukan, ketidaknyamanan, atau rasa kantuk. Kalau yang seperti ini masih bisa ditolerir. Tapi kalau orang yang tidak ingin membaca, ya tidak bisa dipaksakan, itu hak asasinya sebagai manusia.

Meskipun ada yang bilang setiap tulisan itu punya takdirnya sendiri, dan biarkan tulisan mencari pembacanya, tapi tetap saja harus ada usaha dari penulisnya.

Tinggalkan Balasan

2 komentar