oleh

Novel | Bukan Cuma Figuran #4

-Fiksiana, Novel, Terbaru-Telah Dibaca : 4,324 Orang

<im501″ />

#4 Ujian Bagi Kiano dan Cassie

Setelah beredar isu produksi serial tv yang dikerjakan Kiano di stop, beredar lagi isu baru kalau Kiano Eksploitasi Cassie untuk kepentingan pribadi.

Keberanian Kiano mempertaruhkan uang pribadinya untuk meneruskan produksinya, dianggap sebagai upaya Kiano mendongkrak Cassie, untuk kepentingan pribadinya. Mendengar isu itu, Cassie merasa di manfaatkan viralnya dia di media sosial.

Kiano tidak membantahnya, karena niatnya memang mau menciptakan Cassie sebagai bintang, tapi tidak bermaksud memanfaatkan, dalih Kiano tetap menganggap karena Cassie memang punya bakat dan potensi.

Sebelum latihan, Cassie menghadap Kiano di ruang kerjanya, “maaf pak.., saya ganggu bapak lagi,” ujar Cassie dengan gelisah

“Ada apa Cassie? Kok kamu gelisah gitu? Kamu ada masalah?” Cecar Kiano

“Ada yang bilang, kalau bapak bela-belain saya, karena bapak mau memanfaatkan saya.., apa benar pak?” Cassie balik bertanya

“Kalau di bilang memanfaatkan kamu ya memang benar, tapi bukan untuk merugikan kamu, saya manfaatkan bakat dan kemampuan kamu Cassie, ada masalah dengan itu?”

“Tapi kok di bilang kayak gitu ya pak? Saya bingung dan gak ngerti pak.., maaf kalau saya salah.” Ucap Cassie, dia tidak berani menatap mata Kiano, dia hanya menundukkan kepala

“Cassie.., itu tanda-tanda kamu mau sukses, banyak orang yang tidak suka sama saya dan kamu, biar aja gak usah diperdulikan.”

“Ya pak.., mereka juga bilangnya seperti menghasut gitu pak, biar aku gak meneruskan shooting.”

“Siapa mereka itu Cassie?” Selidik Kiano

“Tetangga dekat rumah saya pak..,” jawab Cassie dengan polosnya

Kiano yang tadinya begitu serius menanggapi isu yang diceritakan Cassie, sekarang malah tersenyum,

“Itu tandanya tetangga kamu takut kalau kamu sukses, mereka iri dengan kamu, jangan tanggapi yang seperti itu, kalau kamu mau berhasil.” Jelas Kiano

Kiano menasehati Cassie, bahwa dia sudah berada di separuh jalan menuju kesuksesan, kalau mudah terganggu dengan berbagai isu, akan patch ditengah jalan. Kiano memang agak sulit berkomunikasi dengan Cassie, karena Cassie sangat polos dan lugu.

Semakin intens pertemuan Cassie dan Kiano, semakin merebak isu negatif yang berkembang. Bagi Cassie sangatlah menguntungkan, tapi sebaliknya bagi Kiano malah dianggap merendahkan martabatnya. Kiano tidak peduli, dia tidak akan mundur setapak pun dari niatnya semula.

“Cassie.., asal kamu tahu, saya tidak peduli kalau pun semua orang bilang saya jatuh cinta sama kamu, bagi saya soal itu adalah haknya Tuhan, saya tidak berani mendahulukannya.”

Mendengar pengakuan Kiano itu, Cassie salah sangka, hatinya berbunga-bunga, karena Kiano tidak ingin menepis anggapan itu. Padahal Kiano tidak ingin membantah tuduhan itu semata takut kalau Tuhan benar-benar menjodohkannya dengan Cassie.

Cassie salah tingkah dihadapan Kiano, karena Kiano sangat perhatian dan Mengistimewakan Cassie.

“Nanti kalau sudah mulai shooting, Ibu kamu biar saja dirawat di rumah sakit, supaya terjaga kesehatannya.” Usul Kiano

“Gak usah pak.., biar saja adik-adik saya yang
jaga di rumah.” Tolak Cassie

“Kenapa? Kamu takut sama biaya rumah sakit ya? Itu urban saya, uang kamu banyak sama saya.” Kilah Kiano.

“Saya kan belum kerja sama sekali pak.., gimana saya punya uang sama bapak?”

“Kontrak itu membuktikan kalau kamu sudah punya uang sama saya, gak usah kamu pikirkan, tugas kamu cuma akting yang bagus.” Tukas Kiano

Cassie memang tidak mengerti apa yang dimaksudkan Kiano, sehingga dia sulit menerima menerimanya. Bagi Cassie, dengan ibunya di rawat di rumah sakit, maka akan besar biaya yang akan di keluarkan Kiano, dan itu sangat memberatkan.

Namun bagi Kiano, hal itu harus dia lakukan, demi kelancaran produksi. Dia tidak ingin Cassie terganggu karena memikirkan keadaan ibunya di rumah.

“Adik-adik kamu di rumah pegang ponsel gak?”
“Gak ada pak.., saya belum sempat belikan pak, nanti akan saya kasih ponsel pak.”

“Dalam satu, dua hari ini kamu sudah harus maksimal latihan akting dan latihan kepribadian, terutama cara bicara kamu.” Tegas Kiano

Setelah selesai bicara dengan Kiano, Cassie menuju ruangan casting untuk mempraktekkan aktingnya. Cassie tidak mengetahui kalau semua aktivitasnya di ruangan casting itu di monitor Kiano dari ruangan di sebelahnya.

Diruangan casting manager itu disediakan sebuah tv monitor, dari situlah Kiano bisa melihat aktivitas Cassie. Diluar ekspektasi Kiano, ternyata saat akting, gaya dan cara bicara Cassie berbeda sama sekali. Intonasi, artikulasinya jelas, bahkan ekspresinya sangat pas.

Kiano semakin yakin kalau usahanya akan berhasil. Cassie memberikan sesuatu melebihi ekspektasinya, dia terkagum-kagum dengan optimalisasi akting Cassie. Dia ingin memberikan pujian pada Cassie, dia keluar dari ruangan casting manager, masuk ke ruang casting sambil memberikan applause pada Cassie,

“Luar biasa kamu Cassie, tidak sia-sia kamu kursus akting dan kepribadian.” Ucap Kiano sambil memberikan selamat pada Cassie
Cassie tidak menyangka kalau Kiano menyaksikan aktingnya, karena dia tidak melihat keberadaan Kiano disekitarnya.

“Sampai kaget saya pak.., saya gak tahu kalau bapak menyaksikan, maaf ya pak kalau akting saya masih seadanya.” Ucap Cassie dengan rendah hati.

Perhatian Kiano terhadap Cassie tersebut, menimbulkan berbagai persepsi dari orang-orang yang Ada di kantor, juga bagi crew produksi. Kiano dianggap menaruh perhatian khusus kepada Cassie, dan perhatian itu dianggap sebagai sebuah keanehan.

Seorang Kiano seharusnya bisa mendapatkan wanita yang lebih dari Cassie, yang cuma penjual kue, dan seorang figuran. Kiano harusnya bisa mendapatkan artis terkenal, dan lebih cantik dari Cassie. Namun Kiano tidak ingin menanggapi isu seperti itu, bagi Kiano dia hanya ingin konsisten dengan niat awalnya.

Meskipun isu tersebut terus merebak, Kiano tidak mengurangi sedikit pun oerhatiannya pada Cassie. Dia menaruh harapan yang sangat besar pada Cassie, dan Cassie tidak pernah menganggap dirinya spesial, dia tetap rendah hati, dan hormat pada Kiano.

Didepan orang-orang yang ada diruangan casting, Kiano katakan pada Cassie, “kalau Tuhan takdirkan kamu jadi ‘Bintang Besar’ nanti, tetaplah sikap kamu seperti sekarang ini Cassie, jangan ada yang berubah.” Pinta Kiano

“In Sha Allah pak.., tegur saya pak kalau ada yang berubah, saya bukanlah siapa-siapa pak..,” jawab Cassie

“Jaga hubungan baik dengan semua orang Cassie, supaya kamu disayang dan disukai semua orang dilapangan.”

“Terima kasih pak sudah diingatkan.., saya akan jaga nama baik bapak, yang sudah membantu saya.” Ucap Cassie

Kiano sengaja memperlihatkan sikap dan oerhatiannya terhadap Cassie, didepan orang banyak, dia ingin orang-orang itu punya pandangan sendiri terhadap semua itu. Kiano memperlihatkan sesuatu yang apa adanya, tanpa ada tujuan apa-apa terhadap Cassie.

Dia memposisikan dirinya sebagai produser terhadap Artisnya, bukan sikap seorang produser terhadap kekasihnya. Dari cara bicara, mau pun sikap, semua ditunjukkan Kiano apa adanya, tidak dilebih-lebihkan. Dia tidak peduli kalau orang salah menilai terhadap semua itu.

Bersambung

Komentar

Tinggalkan Balasan