Novel | Seruni, Catatan Isteri Seorang Politisi #6

Catatan 6

Hari ini aku banyak menyibukkan diri di rumah, sambil bersih-bersih rumah. Ketika aku membersihkan sebuah nakas di ruang kamu, aku melihat foto aku dan mas Grasto. Aku ambil salah sàtu foto, dimana dalam foto tersebut terlihat mas Grasto memeluk aku dengan mesra, aku bersandar di dadanya, sementara tangannya memeluk aku dengan penuh kehangatan.

Aku ingat foto itu, saat kami mempersiapkan pernikahan, foto itu adalah salah satu foto pra wedding kami yang sangat berkesan. Saat membuat foto itu aku ingat, mas Grasto mengatakan sesuatu,

“Runi, meskipun pernikahan kita tidak dirayakan secara besar-besaran, bahkan hanya sekadar akad nikah, tapi pemotretan ini sangat penting,”

“Ya mas, aku sangat senang dengan adanya pemotretan ini, ada kenangan yang sangat indah aku rasakan,”

“Suatu saat, kamu akan tahu pentingnya ada pemotretan ini, kamu bisa melihat kembali kenangan ini.”

Ternyata mas Grasto benar, aku baru merasakan sekarang pentingnya arti keberadaan foto ini. Sambil melihat foto itu, tanpa terasa airmataku jatuh diatas foto tersebut, aku kembali merasa kehilangan sosok lelaki yang paling aku puja, paling aku cintai.

Aku kembali mengenang masa-masa indah bersama mas Grasto. Dari sekian banyak laki-laki yang pernah Aku kenal, mas Grasto memang sangat berbeda, bahkan cara dia menghargai wanita pun sangat luar biasa. Aku benar-benar tersanjung dibuatnya, selalu di istimewakan dalam segala perlakuannya.

Itulah yang membuat aku takut dekat dengan lelaki lainnya, aku sudah memiliki standard seorang lelaki yang sesungguhnya, yang menempatkan wanita ditempat yang paling mulia.

Oh ya, aku hampir lupa, aku ada janji dengan mas Todhy untuk melihat calon pembantu di tempat agent baby sitter, yang menurut mas Todhy sangat bisa di percaya. Baru saja aku mau telepon mas Todhy, ternyata mas Todhy sudah telepon aku duluan,

“Selamat pagi runi, jadi gak mau lihat calon pembantu?” Tanya mas Todhy

“Jadi mas, aku beres-beres rumah sebentar ya, kalau mas mau jalan kesini gak papa, sebentar lagi beres kok,” jawabku

“Kamu beres-beresnya gak yang berat-berat kan? Hati-hati ya runi,”

“Gak sih mas, cuma nyapu sama ngelap-ngelap aja kok,”

“Okey deh, mas melucur ke rumah kamu ya.”

Aku sama mas Todhy selalu “click”, feeling-nya selalu hampir sama, sepertinya dia juga punya kontak batin sama aku. Aku sih berharap, suatu saat dia mengatakan perasaannya padaku, aku pasti mau menerima dia dan anak-anaknya. Tapi itu hanya sekadar angan-angan aku, aku gak berani mendahuli kehendak Tuhan.

Saat aku mau bersih-bersih teras depan, lelaki misterius itu lewat lagi depan rumahku. Aku sama sekali tidak tahu apa tujuannya setiap hari mengintip kegiatanku. Mas Todhy benar, aku harus cari pembantu, biar aku ada teman dirumah. Menghadapi orang misterius gitu kadang aku takut sendiri.

Aku buru-buru masuk dan kunci pintu, sekalian aku mandi, karena takutnya mas Todhy keburu datang. Tidak lama setelah aku selesai mandi, mas Todhy datang, seperti biasanya mas Todhy cuma tunggu di mobil, dia gak mau masuk, karena aku sendirian dirumah. Bagi mas Todhy, pamali masuk ke rumah perempuan yang tinggal sendiri.

Setelah aku selesai dandan, aku langsung temui mas Todhy di mobil,

“Mas Todhy hari ini gak sibuk?” Tanyaku pada mas Todhy

“Gak runi, menemani kamu hari ini adalah tugas dan kewajiban mas, kamu gak usah kuatir.”

Mas Todhy memarkirkan mobilnya, setelah itu kami langsung meninggalkan rumahku. Kami menuju kearah Kebayoran Baru, ke tempat agen pembantu dan Baby Sitter. Perjalanan kearah itu kurang lebih 1 jam, karena pas jam sibuk. Sesampainya kami di tempat agen itu, kami langsung di suruh memilih.

Aku memilih seorang gadis yang masih sangat muda, tapi mas Todhy kasih aku pilihan yang lain, menurutnya harus yang sudah agak dewasa, agar bisa mengurus bayi, bukan cuma jadi pembantu rumah tangga.

Saran mas Todhy sangat masuk di akal. Akhirnya aku memilih pembantu yang berusia 30an, dari segi penampilannya juga bagus dan bersih.

Mas Todhy memberikan pertimbangan, aku bisa langsung bawa pulang pembantunya, atau aku bisa tinggal kasih alamat rumah, biar kapan aku mau pembantunya bisa segera datang. Tapi akhirnya aku memilih untuk segera membawa pembantunya, supaya kalau mas Todhy ke rumah, gak perlu cuma diluar saja.

Mas Todhy mempersilahkan aku untuk segera membawa pulang pembantunya, soal urusan administrasinya mas Todhy yang urus semua. Mas Todhy gak mau bilang sama aku, betapa pembantu tersebut dibayar setiap bulannya, menurut dia, itu cara dia meringankan beban aku, aku tarik mas Todhy keluar,

“Mas Todhy, kira-kira berapa gajinya perbulan?”

“Nanti aja dibahasnya ya, yang penting mas bantu meringankan beban kamu dulu,” jawab mas Todhy.

“Tapi sampai kapan ini jadi tanggungan mas Todhy?”

” Gak usah dipikirkan runi, mas Ikhlas kok Bantu kamu.”

Akhirnya kami bawa pulang pembantunya, sekarang udah gak boleh sebut pembantu, karena sebutannya sekarang Asisten Rumah Tangga atau ART. Art itu namanya Sum, nama panjangnya Sumirah. Itulah sebagian kecil peristiwa yang bisa aku tuliskan dalam catatan harian ini.

 

 

Tinggalkan Balasan