KMAC 33. Menjadi Guru Kreatif

KMAC 33. Menjadi Guru Kreatif
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M

Sewaktu penulis menjadi peserta didik perasaan bahagia menyelimuti diri ini, tatkala penulis membayangkan seakan-akan yang berdiri di depan kelas itu adalah diri penulis, akhh … betapa bahagia dan bangganya diriku saat itu.

Saat ini bayangan berdiri di depan kelas telah menjadi kenyataan yang digeluti selama puluhan tahun (sejak tahun 1995 hingga saat ini) penulis menjadi seorang guru.

Bayangan yang begitu indah menjadi seorang guru, ternyata bukan sekedar indah seperti dalam bayangan penulis kala itu.

Bagai bintang berkelip di selembar bentangan cakrawala yang begitu rupa dan menawan demikianlah yang penulis alami saat menyandang status sebagai guru.

Banyak peristiwa yang memberikan keindahan dan kebahagiaan serta kebanggan dalam bentangan lembar kehidupan penulis sebagai seorang guru.

Hal ini bukan berarti penulis tidak mengalami kesulitan selama menjadi seorang guru.

Banyak hal yang tidak mudah juga telah dilalui penulis, namun segala yang terjadi dapat dilalui dengan manis dan penuh kemenangan.

Penulis ngin berbagi dan menyampaikan pesan bahwa kesulitan yang dialami akan sirna ketika status sebagai guru kita junjung tinggi sebagai bendera kebanggaan yang harus berkibar dimanapun kita berada.

Dengan semangat penuh kebanggaan, kesulitan apapun pasti akan mampu kita babat habis.

Demikian pula ketika penulis mendapat pertanyaan yang muncul dari dalam diri penulis, “Mengapa, aku dituntut menjadi guru yang kreatif?”

Sekelebat pertanyaan itu muncul begitu saja dan penulis angkat menjadi tema pada tulisan KMAC ke-33 hari ini.

Sedikit sharring pengalaman penulis sebagai seorang guru yang biasa-biasa saja tentang peengalaman sahabat penulis sebagai guru yang tidak biasa-biasa saja alias luar biasa.

Sebut saja sahabat penulis itu adalah Pak Guru Turmudi, yang penulis nilai sebagai guru yang kreatif dan inovatif dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Penulis bersama rekan guru di sekolah jika mengalami kesulitan terkait dengan perkembangan teknologi selalu datang kepada beliau.

Pak Tur, demikian sapaan yang diberikan kepada beliau yang berkepribadian suka menolong, rendah hati, senang humor, sabar serta pintar dan kreatif.

Segudang kesempurnaan seorang sahabat seakan dimiliki oleh Pak Turmudi.

Kepribadian beliau yang terbuka terhadap siapapun membuat kami merasa dekat dan sangat akrab, sehingga takpernah merasa segan untuk bertanya bila mengalami kesulitan terkait dengan segala perkembangan teknologi.

Sebagai seorang sahabat, penulis juga tidak merasa segan untuk mengakui dan memuji beliau yang seringkali melakukan hal-hal baru sehubungan dengan pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan IT ( Informasi Teknologi)

Tidak jarang penulis merasa iri kepada Pak Turmudi karena memiliki kompetensi yang luar biasa di bidang pengembangan teknologi.

Kemampuan Pak Turmudi di bidang teknologi sangat relevan dengan tuntutan pembelajaran Kurikulum Merdeka di era society 5.0 saat ini.

Kreativitas Pak Turmudi sebagai guru masa kini sangat membuat bangga bagi diri penulis, meski di celah sudut hati yang paling dalam penulis merasakan sedih karena tidak memiliki kreativitas pembelajaran seperti yang dilakukan oleh Pak Turmudi.

Walaupun demikian, bukan berarti penulis tidak dapat melakukan pembelajaran yang kreatif.

Penulis melakukan semua yang menjadi tuntutan guru kreatif dengan cara bertanya dan belajar kembali bersama Pak Turmudi.

Demikian yang selalu penulis lakukan apabila mengalami kesulitan untuk membuat desain pembelajaran yang menggunakan IT.

Kalau kita melihat syarat kualifikasi guru, pada dasarnya adalah sama, artinya sama-sama memiliki ijazah keguruan, akta IV dan syarat lainnya untuk menjadi guru.

Lalu apakah yang membedakan guru A dan guru B?

Ya, salah satunya yang menjadi pembeda adalah kreativitasnya.

Kemampuan seorang guru menciptakan model pembelajaran baru atau kreasi baru akan membedakan dirinya dengan guru yang lain.

Guru yang memiliki kreativitas tinggi tentu akan dikatakan sebagai guru kreatif, yang tidak pernah merasa puas apabila hanya menyampaikan materi saja.

Guru kreatif akan terus memikirkan untuk menemukan cara baru memberikan materi pelajaran agar peserta didik lebih mudah memahaminya.

Guru kreatif sangat memahami kebutuhan peserta didiknya sehingga akan selalu berupaya menggunakan metode dan model pembelajaran yang tepat untuk peserta didiknya.

Guru kreatif sangat teliti mengalokasikan waktunya untuk melakukan berbagai aktivitas dengan melibatkan peserta didiknya.

Guru kreatif selalu berupaya membuat peserta didiknya merasa nyaman untuk menjalani proses belajar mengajar dengan berbagai kegiatan seperti memberikan kesempatan peserta untuk bertanya, berkomentar dan berdiskusi bersama kelompoknya, dan sebagainya.

Guru kreatif akan selalu berupaya menciptakan suasana belajar mengajar yang kreatif dan menyenangkan sehingga tidak membuat peseta didik merasa bosan.

Jika semua guru mampu menciptakan model pembelajaran yang kreatif tentu saja semangat belajar peserta didik kita akan meningkat juga.

“Yukk, rekan guru sekalian kita belajar untuk menjadi guru kreatif…!”

 

Pangkalpinang, 15 Maret 2023

 

Tinggalkan Balasan

6 komentar

News Feed