KMAC 37. Guru sebagai Pelukis Masa Depan

KMAC 37. Guru sebagai Pelukis Masa Depan
Penulis : Theresia Martini, S.Ag., M.M

 

Benarkah bahwa guru memiliki predikat sebagai “Pelukis Masa Depan?” Pertanyaan yang hadir dalam benak kita, sepertinya telah terjawab oleh diri kita masing-masing.

Ketika seni telah merasuk dan menyatu pada jiwa seseorang, maka yang nampak di depannya hanyalah sebuah keindahan.

Keindahan dari seni yang kita buat, tentunya kita juga yang akan menikmatinya. Satu keindahan yang kita nikmati tentu akan memberikan kebahagiaan tiada ternilai harganya.

Situasi berbahagia akan membuat hati kita merasa senang, wajah juga ceria, senyum termanis pasti akan selalu menghiasi bibir bapak ibu guru yang smart.

Sebaliknya yang terjadi apabila situasi kita sedang marah, maka wajah akan nampak menyeramkan, tanpa senyuman, dengan mata melotot dan pastinya tidak enak untuk dipandang.

Sebagai sorang guru yang hebat, penulis dan juga rekan guru harus mampu menciptakan kondisi yang menyenangkan bagi peserta didik, demikian yang diamanatkan Kurikulum Merdeka kepada kita yang menyandang status guru.

Terkadang kita lupa untuk menegakkan sebuah kedisiplinan, guru seringkali harus berteriak-teriak kepada peserta didik untuk melakukannya di bawah ancaman guru.

Contoh seperti yang biasa dilakukan oleh penulis kepada peserta didik yang tidak berpakaian dengan rapi, penulis pastinya menegur peserta didik disertai dengan ancaman. “Hayo, masukin bajunya, nanti ibu cubit kalau gak bisa berpakaian rapi,” seraya menempelkan jari jempol dan telunjuk di perut peserta untuk memberikan sebuah hadiah “Cubitan.” Hehehe …

Sebetulnya apa yang telah dilakukan penulis, tidak perlu untuk dilakukan, karena pada dasarnya peserta didik memahami hak dan kewajiban yang mereka miliki.

Meski pada kenyataannya situasi tersebut selalu terjadi dan menjadi sebuah pemandangan yang biasa.

Penulis yakin dalam diri peserta didik sangat menginginkan situasi yang nyaman tanpa adanya tekanan atau ancaman dari guru terhadap diri mereka.

Apabila penulis terus melakukan tindakan mengancam tentu saja membuat peserta didik merasa tidak nyaman lagi di sekolah.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh penulis dan rekan guru menghadapi peserta didik demikian?

Pendapat dari narasumber yang penulis dapatkan saat mengikuti kegiatan Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) kemarin mengatakan bahwa, “Apabila guru mengajar dengan pendekatan ancaman, artinya guru telah melakukan perampasan kemerdekaan peserta didik.”

Pernyataan tegas yang disampaikan sang narasumber sungguh mengiris hati penulis dan rekan guru lainnya yang mendengar.

Penulis dan rekan guru tersenyum kecut mendengar pernyataan tersebut.

Tapi inilah realita yang penulis lakukan selama ini, karena begitu sulitnya menegakkan kedisiplinan bagi peserta didik masa kini.

Selanjutnya sang narasumber menyampaikan bahwa kekompakan antara guru dan peserta didik yang menjadi kunci sukses terjadinya proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

Disinggung pula bahwa bapak-ibu guru yang hebat tentu tidak akan mengeluh dengan segala tugas dan tanggung jawab yang dirasakan berat.

Seorang guru yang mencintai profesinya, tentu akan melaksanakan segala tugas dengan sepenuh hati dan melaksanakannya dengan profesional, imbuh narasumber.

Kalimat yang begitu agung yang disampaikan oleh narasumber lagi-lagi menampar muka penulis, karena penulis merasa jauh dari kata profesional.

Penulis terkadang masih terjebak dengan tindakan yang tidak menunjukkan profesi sebagai guru, seperti masih suka membentak peserta didik yang tidak membuat pekerjaan rumah yang ditugaskan bapak-ibu guru di sekolah.

Lalu apa yang harus penulis lakukan jika mendapatkan peserta didik yang berulang kali melakukan pelanggaran yang sama?

Inilah yang menjadi tantang berikutnya sebagai seorang guru, yaitu menjadi seniman pendidikan.

Seniman pendidikan yang dimaksud di sini adalah guru yang mempunyai seni dalam mengajar dan mendidik peserta didik dengan gayanya masing-masing hingga akhirnya membentuk suatu lukisan yang terukir dalam saanubari peserta didik.

Sebagai guru tentu penulis tidak menginginkan lukisan yang buruk terpampang di hati peserta didik, karena penulis sangat berharap kepada peserta didik untuk mewujudkan segala cita penulis yang belum terwujud.

Penulis menyadari bahwa peserta didik yang masih remaaja memiliki kelabilan dalam emosional, sehingga mereka sangat membutuhkan pendampingan dari guru di sekolah dan orangtua di rumah.

Memberikan pendampingan sepenuhnya untuk peserta didik, tentu saja tidak mungkin dilakukan oleh penulis dan rekan guru.

Membina komunikasi dan kerjasama bersama orangtua peserta didik merupakan salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk mengatasi ketidakpatuhan peserta didik pada tata terib di sekolah.

Meski bertahap, penulis akan tetap mengupayakan tugs-tugas dilaksaksankan dengan penuh tanggung jawab.

Penulis yakin bahwa takada masalah tanpa solusi, sehingga sebagai seorang guru yang memiliki jiwa seni dalam mendidik harus menjalankan tugasnya penuh dengan suka cita dan iklas, agar peserta didik dapat menjumpai masa depan dengan lukisan yang indah dari para guru yang mengasihinya.

“Semoga penulis dan rekan guru lainnya takpernah bosan untuk terus tersenyum walau menghadapi rintangan dlama menjalankan profesi”

 

Pangkalpinang, 19 Maret 2023

 

 

 

Tinggalkan Balasan