oleh

Novel : Kisah Cinta Jomlo Pesantren (37)

-Fiksiana, KMAB, Novel-Telah Dibaca : 159 Orang

Cover Novel Kisah Cinta Jomlo Pesantren (Ilustrasi Foto by Ajinatha). 

Menulis Novel Kisah Cinta Jomlo Pesantren dalam rangka mengikuti program KMAB oleh Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan mulai 7 Juli 2022 – 17 Agustus 2022. 

BACA JUGA : Kisah Cinta Jomlo Pesantren (1) 

Episode 37. 

Kota Bandung dengan suasana malam yang cerah. Bulan Purnama mengintip dari sela-sela dedahanan pohon di Taman Masjid Darul Madinah.

Raina baru saja berpamitan kepada Bapak dan Ibu. Sementara aku sudah siap mengantarnya kembali ke rumah Tantenya di Jalan Kalimantan.

Selama perjalanan aku memperhatikan wajah Raina begitu ceria. Sambil mengemudi sesekali aku mencuri pandang memperhatikan gadis cantik yang duduk di sebelahku. Rasanya masih tidak percaya bahwa dia adalah Raina Indrawati pada masa SMP dulu.

“Arno! Kamu kalau nyetir jangan ngelamun!” Suara Raina mengingatkanku. Hampir saja aku menyenggol sepeda motor.

Lalu lintas Kota Bandung ramai sekali malam Minggu itu. Belum terlalu larut banyak sekali para muda-mudi menikmati akhir pekan mereka dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan.

Satu hal yang tidak pernah aku lakukan saat aku dulu remaja, seperti halnya muda-mudi itu.  Sebagai seorang yang dibesarkan di lingkungan Pesantren, malam Minggu bukan malam istimewa seperti bagi para remaja lainnya, bagiku hanya malam biasa yang sama dengan malam-malam lainnya.

“Arno. Ternyata Ibu masih ingat sama aku, ” suara Raina memecah kesunyian di tengah kemacetan yang menghadang di depan lampu Merah Jalan Mohammad Toha.

“Alhamdulillah. Tentu dong siapa yang tidak ingat dengan gadis SMP yang lucu,” kataku menggoda.

“Lucu memangnya aku boncu, boneka lucu!” Protes Raina. Aku tertawa mendengar protesnya.

“Ibuku ingat dong kepada orang-orang yang dulu sering berkunjung ke Pesantren termasuk kamu.”

“Iya Arno. Silaturahmi ini membuat aku seneng banget. Lama tidak ketemu Ibu dan Bapak di Pesantren, malam ini semuanya terobati.”

Aku melihat wajah Raina begitu bahagia setelah pertemuan dengan keluargaku di Pesantren Darul Madinah.

Bagaimanapun pesantren itu adalah salah satu tempat masa-masa SMP dulu terutama ketika mengikuti kegiatan belajar bersama teman-teman lainnya.

Akhirnya kami tiba di kediaman Tantenya Raina belum terlalu larut malam.

“Ar! Terimakasih ya. Oh iya, besok aku pulang ke Jakarta pake Argo Parahyangan pagi. Kamu gak usah ngantar.”

“Oke Nana.”

Aku juga tidak lama kemudian berpamitan diiringi senyum manis Raina Indrawati. Sungguh malam yang sangat berkesan.

BERSAMBUNG Episode 38. 

@hensa.

Logo KMAB

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar