Takdir Tulisan dan Keterbacaan Topik Buku

Buku YPTD
Buku Terbitan YPTD karya Ign Joko Dwiatmoko

Setelah menulis buku saya merasa plong, paling tidak saya yang sering bergulat pada keputusan kapan saya akan mewujudkan impian menulis dan membuat buku sudah terjawab. Selanjutnya biarlah tulisan dari buku saya itu menemui takdirnya sendiri.

Ia akan menjadi remah – remah duduk sepi di locker, berjajar rapi di rak perpustakaan atau malah lusuh karena seringnya dibuka dan dibaca. Menulis buku itu adalah sebuah proses pengendapan, ada emosi ada rasa takut, ada rasa cemas bahwa tulisan yang tersusun dalam buku itu akan membuat marah, membuat tersenyum atau bahkan masih mulus karena jarang disentuh.

Ketika sudah berani mengumpulkan tulisan di sebuah buku, penulis menyerahkan semua harapan,nasib dan takdir. Bisa jadi banyak pendapat dari pembacanya dari yang mengangguk – angguk, merasakan bahwa tulisan – tulisan itu itu mencerahkan atau malah marah – marah karena merasa tidak mendapatkan apa – apa.

Pada hakikatnya kata ada adalah endapan dari pikiran muntahan dari berbagai pengalaman hidup, simpulan dari pengamatan – pengamatan yang terlihat pada lingkungan sekitar. Manis pahit kata meluncur karena ada pengalamana baik pengalaman buruk, maupun pengalaman menakjubkan. Pada esensinya setelah membaca buku manusia akan merenung dan belajar dari kata yang ia baca.

Bicara takdir tulisan, setiap manusia mempunyai sudut pandang sendiri. Tulisan adalah katarsis, sebuah pengendapan dari aktifitas manusia saat ia berkomunikasi dengan manusia lain, saat ia berusaha mengerti dan berusaha memahami meskipun semakin mencoba menyamakan persepsi selalu ada penolakan dari nurani karena tiap manusia mempunyai sudut pandang sendiri terhadap sebuah kasus.

Tidak serta merta manusia setuju, tidak serta merta manusia mengangguk tanda mengerti. Jauh di hati nuraninya bergejolak apakah ia akan mengangguk atau menggeleng.Barangkali setelah membaca ia menjadi mengerti, namun ada yang semakin sering membaca semakin tidak mengerti. Sebab Banyak sekali pengalaman manusia lain yang begitu mempesona, banyak tragedi manusia yang membuat terhenyak dan hanya bisa berkata kok bisa?

Sebuah buku yang telah terbit adalah wujud keberanian, meskipun setelah mengetahui isi bukunya seorang penulis merasa masih banyak kekurangan, namun ia telah berani menghadirkan sejarah. Ia telah melukiskan diri sendiri dengan sudut jiwanya, merelakan takdir tulisan bersemayam di hati pembacanya.

Ketika buku sudah ditangan pembaca, hanya pembacalah yang mengerti apa yang bergejolak dalam pikiran penulis. Pramoedya Ananta Toer menulis Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat akan berguna. Benar juga sih. Mengapa takut tidak dibaca bukannya ketika menulis seseorang hanya ingin mengeluarkan isi jiwanya yang mengendap dan hampir berkerak. Kalau tidak berani bermimpi, jangan tidur. Kalau tidak berani melihat hasil tulisan dan menerima kritikan dari pembaca ya jangan menulis. Simpel khan.

Para penulis, pengarang, sastrawan benar, apapun harus ditulis biarkan tulisan menemui takdirnya sendiri. Sebuah buku tetaplah sebuah buku ia akan menjadi bagian dari sejarah. Akan menjadi bagian dari peradaban. Penulis yang berani menulis dan menjadikannya sebuah buku ia telah melompat jauh, meninggalkan teman – temannya yang baru berani bermimpi. Salam.

Buku Ign Joko Dwaitmoko terbitan YPTD

Tinggalkan Balasan