Pagi ini Jakarta berkabut. Mentari tampak malu-malu menemani semesta. Embun mulai hadir menebarkan kesejukan di bentala raya dan membangkitkan asa bagi insan penghuninya.

Seharusnya hari ini Laras memiliki semangat yang lebih besar dari biasanya karena dia akan membuka sekolah baru yang akan dimulai. Laras membangun sekolah PAUD di lingkungan kumuh agar para penghuninya tak kesulitan mencari sekolah buat para anak-anak usia dini. Laras yakinsekolah yang dibangunnya ini akan diminati oleh masyarakat sekitarnya karena Laras tak memungt biaya apa pun.

Namun sebaliknya, Laras merasakan kesedihan yang amat dalam. Laras mendapat berita dari polisi bahwa Bunda kecelakaan di daerah Paarungkuda, Sukabumi.
Sekarang Laras dan Mbok Nah akan berangkat ke Sukabumi. Pak Ujang yang akan mengantar mereka ke sana. Sebenarnya Laras bisa saja mengendarai mobilnya sendiri, tetapi dengan kondisi seperti ini dia takut tidak konsentrasi saat berkendara.

Dertt … dertt….

Suara handphone Laras berbunyi. Rupanya panggilan video call dari Rangga. Laras segera menerima panggilan tersebut.

“Assalamualaikum, kekasih hatiku. Wah, pagi-pagi sudah bangun,” goda Rangga saat Laras membuka video call-nya.

“Waalaikumussalam, Rangga,” jawab Laras seraya berusaha tersenyum.

“Sebentar, ada apa dengan dirimu, sayang. Kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat.” Rangga memberondong Laras dengan pertanyaan.

“Saya akan pergi ke Sukabumi, Ngga,” jawab Laras pendek.

“Ke Sukabumi? Ada apa, Ras?” Rangga terkejut mendengar jawaban Laras apalagi kekasihnya itu terlihat lemas dan pucat. Kedua mata Laras pun sembab seperti habis menangis.

“Bunda kecelakaan, Ngga di Sukabumi. Aku dan Mbok Nah akan pergi ke sana,” papar Laras.

“Kapan Laras? Memang Bunda sedang pergi ke Sukabumi bersama Ayah?” Suara Rangga terdengar kaget mendengar berita tersebut.
Laras diam. Selama ini dia memang tidak pernah menceritakan apa pun tentang kondisi di keluarganya kepada kekasihnya itu. Bagaimana pun juga Laras harus menutup aib keluarganya. Dia masih sangat menghormati kedua orang tuanya meskipun mereka melakukan kesalahan.

“Nanti aku akan menceritakannya. Aku akan berangkat dulu,” jawab Laras enggan.

“Tunggu, Laras! Bolehkah aku menemanimu? Tunggu ya … aku akan datang lima belas menit lagi.” Tanpa menunggu jawaban Rangga menutup video callnya setelah memberikan salam.
Laras memang membutuhkan Rangga. Paling tidak ada seseorang yang dapat memberikannya kekuatan mental.

Lima belas menit kemudian Rangga sudah memarkirkan motornya di depan rumah. Laras menyambutnya dengan senyum. Kemudian mereka berangkat tepat pukul 5. Jarak dari Kelapa Gading ke Sukabumi kurang lebih 95 km dan waktu yang dibutuhkan sekitar dua jam lima belas menit jika tidak macet, Rangga duduk di depan menemani Pak Ujang sedangkan Mbok Nah dan Laras duduk di bagian belakang.

Dalam perjalanan Laras tak banyak berbicara. Dia berdoa dalam hati untuk kesembuhan Bundanya. Laras menghubungi ayahnya lagi. Namun, tetap saja Ayah tak dapat dihubungi. Ayah terlalu asyik dengan urusannya sendiri dan keluarga barunya. Ada luka yang mengiris kalbu Laras. Ayahnya tega mengkhianati Bunda demi perempuan lain.

Bunda yang sangat mencintai Ayah, harus berusaha ikhlas untuk menerima kehadiran wanita lain dalam hidup suaminya. Ketegaran dan kesabaran Bunda karena Bunda tidak ingin melihat hati Laras terluka bila orang tua mereka berpisah.
Bunda sangat mencintai Laras. Bunda juga sangat setia kepada Ayah meskipun kesetiaan dan kepercayaannya telah dikhianati. Laras kagum pada Bunda yang tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga demi Laras. Bunda selalu sabar menghadapi sikap Ayah yang lebih banyak tinggal dengan perempuan itu.

Akhirnya Laras menuliskan pesan singkat untuk Ayah.

Assalamualaikum. Ayah, Bunda mengalami kecelakaan di Parungkuda, Sukabumi. Sekarang Bunda dirawat di ruang ICU R.S. Kartika. Laras harap, Ayah menyusul ke Sukabumi.

Laras berharap agar Ayah membaca pesan itu dan menyusulnya ke Sukabumi. Dia mengharapkan agar Ayahnya dapat melupakan semua masalah yang tengah melanda mereka.

Tanpa terasa Laras tertidur dalam perjalanan. Dia bermimpi Bundanya sedang berjalan- jalan di sebuah taman bunga yang indah dengan mengenakan pakaian putih. Bunda mengulurkan tangan ke arah Laras. Namun, Laras tak dapat menggapainya. Bunda terus berjalan dan semakin lama menjauh dan hilang.

“Bunda!” teriak Laras keras.

“Neng! Ada apa?” Mbok Nah memegang bahu Laras seraya mengelus-ngelusnya.
Laras melihat sekeliling. Rupanya dia berada di dalam mobil. Tadi dia bermimpi melihat Bunda, tetapi tak dapat menyentuhnya.

Astaghfirullah!” Laras beristigfar karena bermimpi tentang Bunda. Apakah ini firasat yang dia dapatkan?

“Ada apa, Ras? Kamu sakit?” tanya Rangga sambil membalikan badannya,” Kita istirahat dulu ya. Kamu masuk angin.”

“Ya, Neng Laras, kita istirahat dulu. Pak Ujang, cari tempat buat istirahat ya. Kasihan Laras. Lagi pula kita semua belum sarapan, kan?

Pak Ujang berhenti di sebuah rest area. Rangga, Laras, Pak Ujang, dan Mbok Nah menuju sebuah restoran cepat saji yang tak jauh dari tempat parkir mobil mereka.

“Ayo, kamu minum teh hangat ini, Ras.” Rangga menyerahkan secangkir teh hangat kepadanya. Sebenarnya Laras malas untuk sarapan, tetapi bujukan Mbok Nah dan Rangga membuat dia menyantap makanan yang tersedia. Benar kata Mbok Nah, bahwa dia harus sarapan agar tubuhnya sehat saat merawat Bunda nanti.

Suasana rest area belum terlalu ramai. Beberapa kendaraan terlihat di parkiran. Laras memandang arah parkiran. Pikirannya melayang entah ke mana. Hatinya galau dan ingin cepat tiba di rumah sakit. Dalam hati dia berdoa demi keselamatan Bunda.

Cibadak 16 Februari 2023

Tinggalkan Balasan