Cerpen “Rahasia Sang Pencipta”

“Nilai seseorang terletak pada apa yang dia berikan dan bukan pada apa yang mampu dia terima.” – Albert Einstein
Vania berlari kecil saat mengikuti brankar ayahnya dibawa ke ruang IGD. Vania takut terjadi sesuatu dengan ayahnya. Hanya ayah satu-satunya keluarga yang masih hidup.

Ibu Vania meninggal saat melahirkan Vania. Konon ibu meninggal karena telah mengeluarkan darah terlalu banyak saat perjalanan dari rumah menuju tempat bersalin. Rumah mereka memang jauh dari fasilitas kesehatan. Jalan menuju ke desa pun sangat jelek dan berlumpur. Saat itu ibu dibawa dengan menggunakan motor ke rumah Bu Nur, bidan desa yang membuka klinik bersalin di desa Wangun.

Saat tiba di klinik itu, Ibu sudah mengeluarkan cairan darah. Untunglah Ibu berhasil melahirkan Vania dengan selamat. Namun, nyawa Ibu tak dapat tertolong. Ibu meninggalkan Vania dan ayah.
Sejak saat itu ayah berjuang untuk membesarkan Vania sendiri. Ayah mengelola warung makan kecil di salah satu lorong pasar Pamoyanan. Warung itu kecil tetapi banyak pengunjung karena ayah selalu menjaga kebersihan tempat atau pun makanannya.

Ayah juga selalu tak lupa berbagi dengan orang lain khususnya mereka yang tidak mampu. Sikap dermawannya itu membuat warung kecilnya semakin ramai.

Vania masih ingat saat itu dia masih duduk di bangku kelas 3 SD. Suasana pasar sudah tidak terlalu ramai karena waktu sudah menunjukkan pukul 14. 00.

“Pencuri! Ada pencuri!” teriak Ci Amei pemilik toko obat seraya menarik bocah lelaki kecil ke tengah lorong,” Kecil-kecil sudah berani mencuri!”

Ci Amei mengeluarkan sumpah serapahnya dalam bahasa Mandarin yang tak dimengerti. Dia juga memukuli bocah laki-laki itu yang sudah berteriak-teriak minta ampun.

Ayah segera berlari dan melerai Ci Amei yang ingin memukulibocah tersebut.

“Ada, apa, Ci Amei? Anak orang kok dipukuli dan dimarahi?” tanya Ayah sambil menyelamatkan anak laki-laki tersebut.

“Anak ini mencuri obat di toko saya. Nih, lihat!” Ci Amei memperlihatkan satu botol obat sirup dan satu lembar obat sakit kepala.

“Obat ini untuk siapa?” tanya Ayah kepada anak itu.

“Ibu saya sakit,” jawab anak itu singkat.

“Ini, Ci Amei. Saya bayar obat itu. Berapa harga semuanya?” tanya Ayah kepada Ci Amei.

“Go ban!” Ci Amei menyerahkan obat ini kepada ayah setelah memberikan uang pengganti.

“Ayo! Kamu duduk di warung saya dulu,” ajak Ayah kepada anak itu. Ardian, anak itu bernama Ardian.

Ayah membungkus satu bungkus sayur dan dua bungkus nasi disertai lauk pauk.

“Ini bawalah pulang. Semoga ibumu cepat sembuh, ya,” ujar Ayah sambil menyerahkan bungkusan berisi obat, sayur dan nasi.

Kemudian Ardian segera berlari setelah mengucapkan terima kasih kepada Ayah saat itu.

Sekarang Ayah terbaring tak berdaya. Pagi tadi saat Vania pergi ke sekolah, Ayah dalam keadaan baik-baik saja. Vania tak melihat jika Ayah sedang sakit. Mungkin Ayah sengaja menyembunyikan rasa sakit kepada Vania karena takut Vania akan cemas.

Saat istirahat, Vania dipanggil ke ruang guru. Ternyata ada tetangganya yang menelepon Vania dan memberitahukan jika Ayah pingsan di warung. Vania segera minta izin pulang dan berlari menuju ke warung Ayah.

Saat Vania tiba, Ayah sedang dibaringkan di amben yang ada di bagian dalam warung.

“Ayah! Bangun! Ini Vania, Yah,” panggil Vania sambil mengguncang-guncang tubuh Ayah. Namun Ayah tetap diam dan tak bergerak.

“Neng Vania, kita bawa Bapak ke Rumah Sakit Bahagia saja,” ujar Pak Diman, pemilik warung kelontong di depan.

“Ayo, Bapak yang antar. Kebetulan warung Bapak ada yang menunggu.” Pak Handi pemilik toko pakaian di ujung lorong menawarkan diri.

Akhirnya Vania dan beberapa orang pedagang membawa Ayah ke rumah sakit. Vania tak tahu apa yang terjadi dengan Ayahnya. Dia tidak mau ditinggalkan oleh Ayah di usianya yang baru 18 tahun.

“Mbak! Apakah Mbak keluarga Pak Haryadi?” Pertanyaan seorang suster membuyarkan lamunan Vania.

“Iya, Suster. Saya anaknya. Bagaimana dengan kondisi Ayah saya?” tanya Vania dengan nada cemas.

“Dokter mau berbicara dengan keluarga pasien,” ujar Suster,” Mari ikut saya.”

Vania mengikuti suster menuju ruang dokter. Selintas Vania melihat nama Dokter Ardian terpampang di pintu.
Sementara itu di ruang dokter, Dokter Ardian dan Suster Anita sedang berbicara.

Dokter Ardian memandang rekam medik yang diberikan oleh Suster Anita. Rekam medik ini milik seorang pasien yang baru saja datang pagi ini.

“Apa yang terjadi dengan pasien ini?” tanya Dokter Ardian sambil memperhatikan catatan-catatan yang ada dalam map merah.

“Menurut puterinya, Bapak ini terjatuh saat sedang melayani pembeli di warung makannya, Dok,” jelas Suster Anita,” Pak Haryadi mengalami stroke. Tubuhnya tidak bisa digerakkan dan dia sudah tak sadarkan diri saat tiba di sini.”

Vania memasuki ruang dokter ditemani oleh Suster.

“Ini, Dok. Puteri pasien,” ucap Suster sambil mempersilakan Vania duduk di depan meja Dokter Ardian.

“Siapa nama ayah, Anda? Di mana alamat warung ayahmu” tanya Dokter Ardian sambil memandang Vania.

“Haryadi, Dokter. Di pasar Pamoyanan, Dok,’ jawab Vania sedikit bingung dengan pertanyaan Dokter Ardian,” Bagaimana dengan kondisi Ayah saya, Dok?”

“Ayahmu harus segera dioperasi karena jantungnya bermasalah. Jika tidak segera dioperasi saya khawatir Ayahmu tidak tertolong,” jelas Dokter Ardian.

Vania termenung mendengar penjelasan dokter. Operasi jantung pastinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Darimana Vania mendapatkan uang kecuali menjual warung makan milik ayahnya.

Vania keluar dari ruangan dokter dengan tubuh lunglai. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Kemudian dia menuju ruang ICU tempat ayahnya dirawat. Hidung Ayahnya dipasangi selang oksigen. Beberapa kabel juga terpasang di tubuh ayahnya. Vania tidak mau ditinggalkan Ayahnya. Biarlah, dia akan menjual warung yang penuh kenangan itu demi keselamatan Ayah.

“Mbak, apakah setuju jika Ayah Mbak akan dioperasi?” tanya Suster Anita setelah mendekati Vania.

“Tapi, Suster. Saya belum punya biayanya,” jawab Vania.

“Seseorang yang tidak mau disebut namanya sudah melunasi semua biaya operasi dan perawatan Pak Haryadi. Sekarang Mbak tinggal menandatangani beberapa surat persetujuan saja,” papar Suster Anita.

“Terima kasih, ya Allah. Semoga Kau balaskan dengan pahala yang berlipat buat orang yang dermawan ini,” lirih Vania berdoa dan memohon.

Di dalam ruangan operasi, Dokter Ardian mengenang kembali peristiwa tiga puluh tahun lalu saat seorang bapak dengan baiknya membelikan obat dan makanan untuk ibunya. Dokter Ardian tersenyum, inilah saatnya dia membalaskan budi baik Pak Haryadi
Cibadak, 13 Februari 2023

Tinggalkan Balasan

1 komentar