Bijak dalam Menggunakan Gawai di Keluarga

 

www.picuki.com

 

Ada sebuah peribahasa mengatakan ,” buah jatuh tak jauh dari pohonnya”. Peribahasa ini menggambarkan bahwa perilaku seorang anak tak jauh dari perilaku kedua orang tuanya. Hal ini disebabkan karena naluri seorang anak adalah gemar meniru apa yang dilihat dan didengarnya. Jika yang dilihat dan didengarnya hal-hal yang baik, maka prilakunya akan terbentuk kearah yang baik, begitupun sebaliknya.

Untuk itu, bagi setiap orang tua sangat diutamakan agar sebisa mungkin menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya. Namun, sudah sama-sama kita ketahui bahwa sumber belajar bagi seorang anak bukan saja kedua orang tuanya di rumah, namun bisa juga teman bermainnya di luar rumah atau bahkan smartphone.

Ketika orang tua tidak punya cukup waktu untuk sekedar menjadi teman bermain atau bercerita bagi anak-anaknya, maka mereka akan mencari wadah lain yang dapat menampung keluh kesah mereka atau sekedar melampiaskan emosi mereka.

Namun kadang sebagian orang tua berpikir bahwa mereka sudah semaksimal mungkin menjadi role model bagi anak-anaknya, namun apa yang diharapkan kepada anak-anak mereka agar menjadi anak yang rajin dan penurut belum berhasil. Hal ini membutuhkan kesabaran dan kesinambungan usaha setiap orang tua, jangan sampai kita sebagai orang tua menyerah untuk terus membentuk karakter mereka.

Salah satu hal yang menjadi tantangan para orang tua saat ini adalah maraknya penggunaan smartphone atau gawai pada anak.

 

Dibutuhkan komunikasi yang efektif antara anak dan orang tua, agar orang tua tidak salah dalam mengasuh anak-anak mereka.

 

Kurang bijak rasanya kalau para orang tua menjadikan gawai sebagai alat penentram bagi anak-anaknya dikala mereka sedang menangis atau sejenisnya. Kalau anak terlalu dini dikenalkan dengan gawai maka hal buruk akan terjadi. Mereka akan memiliki  rasa empati yang rendah terhadap lingkungannya, dan yang paling menakutkan mereka bisa jadi akan kecanduan gawai atau gadget.

Untuk itu harus dibuat komitmen antara orang tua dan anak, kapan mereka baru boleh memiliki smartphone dan batasan-batasan lainnya. Banyak cerita para orang tua, bahwa anak mereka sampai larut malam belum tidur karena asyik main games di gadget. Anakpun mudah marah ketika mereka tidak memiliki kuota atau smartphone mereka disita. Jika hal ini sudah terjadi, maka dibutuhkan ketegasan para orang tua untuk memutus mata rantai masalah ini.

Memang sulit menghindari penggunaan gadget atau gawai pada anak-anak. Namun paling tidak, sebagai orang tua kita harus memiliki aturan di keluarga guna pembatasan penggunaan gawai pada anak. Tentunya yang pertama berawal dari orang tua dalam memberi keteladanan.

 

Jangan sampai anak berkata,”tuh, kan, ibu saja main handphone terus!”

 

Pemberlakuan reward dan punnishment perlu diberlakukan jika aturan bersama sudah disepakati.

Sebagai contoh aturan penggunaan smartphone pada anak misalnya:

1. Handphone digunakan untuk hal-hal positif, seperti penunjang belajar, dan lain-lain.

2. Handphone tidak dipola/sandi, kecuali atas sepengetahuan orang tua.

3. Handphone digunakan secara baik dan tidak menjadi sumber keributan dengan kakak atau adik.

4. Segera meninggalkan handphone ketika azan pertanda waktu sholat berkumandang.

5. Penggunaan handphone maksimal pkl 22.00 wib dan selanjutnya segera tidur malam.

6. Jika salah satu point di atas tidak dilaksanakan atau dilanggar maka handphone akan disita selama satu minggu.

Intinya adalah agar kita bijak dalam penggunaan gawai atau gadget diperlukan adanya kesepahaman melalui komunikasi dan sosialisasi yang efektif kepada semua anggota keluarga, keteladanan orang tua adalah yang utama, dan penegakkan aturan berupa punnishment diperlukan bagi setiap pelanggaran serta reward kepada anak-anak jika mereka telah memiliki komitmen serta tetap menjadi anak yang rajin, penurut, dan berprestasi.  ***

Tinggalkan Balasan