Dari Mana Kita Memulai Budaya Gemar Membaca?

Sumber gambar:catatanaljaizy.blogspot.com

 

Sekarang ini kita hidup di era digital, sering disebut juga era millenial. Sudah banyak terjadi pergeseran budaya, salah satunya adalah budaya membaca.

Banyak di antara kita yang hobby membaca bahkan kuat berlama-lama dalam hal yang kita baca , tapi itu hanya sebatas bacaan yang bersumber dari media sosial (Whatapps, instagram, twitter, face book, atau yang lainnya). Jarang di antara kita, terlebih-lebih kalangan pelajar yang berkutat pada bacaan yang sifatnya edukasi atau bernilai ilmiah.

Padahal perlu kita sadari apabila kita terlalu sering melakukan kontak dengan hand phone (sebagai sarana/ sumber bacaan), maka tanpa kita sadari akan mempengaruhi kesehatan, baik kesehatan mata, syaraf, atau yang lainnya.

Lantas pertanyaannya maukah kita melakukan perubahan terhadap apa yang kita baca?, media apa yang kita gunakan untuk membaca?, dan kapan kita harus membaca?, serta untuk apa kita membaca?

Ada hal-hal dasar yang dapat kita jadikan pijakan dalam membangun budaya membaca, di antaranya:

1.Niatkan membaca merupakan implementasi dari wujud ketaatan kita kepada perintah Sang Pencipta

2.Mulailah membaca dengan menyebut nama Tuhan Yang Menciptakan (Allah SWT)

3.Mulailah membaca dari hal-hal yang kita sukai.

4.Ciptakan waktu untuk membaca, walau sedikit namun rutin.

5.Perhatikan kesucian pakaian yang digunakan dan tempat ketika membaca.

Berdasarkan fenomena mulai lunturnya budaya membaca, khususnya di kalangan pelajar, pemerintah melalui Kemendikbud pada tahun 2016 mengkampanyekan  sebuah gerakan yang disebut dengan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Gerakan literasi ini melalui beberapa komponen diantaranya :

1. Literasi dasar

2.Literasi Perpustakaan

3.Literasi Media

4.Literasi Teknologi

5.Literasi Visual

Masing-masing komponen di atas melalui 3 tahapan, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.

Gerakan membudayakan membaca ini tidak akan berhasil, kalau tidak ada kesadaran bersama antar semua pihak, baik orang tua, masyarakat, institusi pendidikan, maupun pemerintah.

Dalam membangun sebuah perubahan memang diperlukan kaum minoritas kreatif yang selalu hadir untuk menyampaikan kebaikan dan menolak keburukan, namun semuanya kembali kepada setiap individu. Sudahkah kita memulai perubahan ini dari diri kita sendiri?, sudahkah kita memulai dari hal-hal yang kecil?, sudahkah kita mulai dari saat ini?.***

Tinggalkan Balasan