oleh

Efektifitas Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) pada Masa Pandemi Covid-19.

-Humaniora-Telah Dibaca : 1.058 Orang
Sumber gambar : Newsroom.nuadu.com

 

Sejak diberlakukannya status pandemi covid-19 pada 16 Maret 2020 yang lalu, membawa dampak pada dunia pendidikan di tanah air. Kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan dengan tatap muka, maka mulai saat itu  tidak dapat dilakukan lagi. Sebagai gantinya, kegiatan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan suatu bentuk sistem pembelajaran yang proses pembelajarannya jauh dari pusat penyelenggaraan pendidikan dan bersifat mandiri. Komunikasi yang berlangsung pada sistem pembelajaran ini bersifat komunikasi tidak langsung, artinya proses pembelajaran dilakukan dengan perantaraan dalam bentuk media yang dirancang secara khusus.

Masih banyak orang salah kaprah dalam memahami Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pembelajaran Jarak Jauh selalu diasosiasikan dengan pembelajaran dalam jaringan (daring/on line). Padahal PJJ dibagi menjadi dua jenis yaitu pembelajaran dalam jaringan (daring) dan pembelajaran luar jaringan (luring/of line).

Pembelajaran dalam jaringan (daring) adalah pembelajaran yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS). Pembelajaran dalam jaringan (daring) dapat dilakukan dengan media internet  seperti Zoom, Google Meet, WhatsApp, Google Classroom. Sedangkan contoh Learning Manajemen System (LMS) seperti Rumah Belajar milik Kemendikbud dan dari swasta seperti Ruang Guru dan Quipper.

Sedangkan penerapan pembelajaran luring bisa melalui buku pegangan siswa dan guru.  Caranya, guru bisa meminjamkan buku pembelajaran pegangan miliknya ke siswa. Buku tersebut bisa diambil siswa atau orang tua ke sekolah dengan memperhatikan protokol kesehatan covid-19.

Selain meminjamkan buku, guru juga bisa melengkapinya dengan Lembar Kegiatan Siswa yang bisa dikumpulkan kembali sepekan sekali. Selain itu, pembelajaran luring dapat juga melalaui siaran Televisi maupun radio.

Kelebihan pembelajaran Jarak Jauh (Rusman.2011:351):

1.Peserta didik dapat belajar atau mereview bahan pelajaran setiap saat dan dimana saja kalau diperlukan.

2.Bila peserta didik memerlukan tambahan informasi yang berkaitan dengan bahan yang dipelajarinya, ia dapat mengakses di internet secara mudah

3.Baik pendidik maupun peserta didik dapat melakukan diskusi melalui internet yang dapat diikuti dengan jumlah peserta yang banyak.

4.Peserta didik dapat benar-benar menjadi titik pusat kegiatan pembelajaran karena ia senantiasa mengacu kepada pembelajaran mandiri.

Kekurangan pembelajaran Jarak Jauh :

1.Kurangnya interaksi antara pendidik dan peserta didik atau bahkan antar sesama peserta didik itu sendiri.

2.Gangguan jaringan atau sinyal internet dan keterbatasan kuota dapat menghambat kegiatan pembelajaran.

3.Peserta didik yang kurang memiliki motivasi yang tinggi cenderung gagal.

Melihat adanya sisi kelebihan dan kekurangan sistem pembelajaran jarak jauh tersebut, maka harus disiasati oleh semua pihak, baik guru, siswa, maupun orang tua.

Seorang guru dapat memadukan dua jenis kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tersebut agar terjadi dinamika dalam pembelajaran dan tidak terjadi kebosanan dalam belajar pada peserta didik. Tentunya dalam membuat perencanaan pembelajaran jarak jauh, tidak lepas dari pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Dalam RPP harus jelas dituliskan langkah-langah pembelajaran yang implementatif dan terukur.

Selain itu, peranan peserta didik juga sangat menentukan dalam keberhasilan PJJ. Peserta didik bertindak sebagai subjek sekaligus objek pembelajaran yang sangat dituntut nilai-nilai kemandirian dan kedisipinannya dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Kemandirian dalam mereview setiap materi yang diberikan guru dan mencari informasi tambahan pada sumber lain. Peran orang tua juga sangat penting dalam memotivasi peserta didik di rumah serta menyediakan kesediaan sumber daya termasuk di dalamnya kuota internet yang memadai.

Banyak hal sebenarnya yang mempengaruhi efektifitas pembelajaran jarak jauh pada masa pendemi covid-19 ini. Kemampuan seorang guru dalam memainkan ritme belajar juga harus diperhatikan.

Pembelajaran jangan terlalu terpaku dengan kurikulum pada masa normal, namun harus disadari bahwa pembelajaran yang dilakukan adalah pada masa tidak normal. Rasa bosan anak, dan hilangnya waktu sosialisasi dengan teman-teman sekolahnya harus menjadi bahan pertimbangan guru dalam memberi bobot tugas kepada mereka.

Kegiatan PJJ tidak hanya berlaku untuk kegiatan yang sifatnya kurikuler saja, namun bisa juga dilakukan untuk kegiatan yang sifatnya ekstra kurikuler.

Pada kegiatan PJJ ekstra kurikuler bisa difokuskan pada jiwa kreatifitas peserta didik dalam mengembangkan bakat dan minat mereka yang dipadukan dengan penguasaan teknologi informasi. Mereka bisa membuat video rekaman kegiatan mereka di rumah yang mengarah kepada implementasi kegiatan ekstra kurikuler yang diikuti, dan sebagainya.

Bagaimanapun caranya sebuah pembelajaran dilakukan, apabila ada sinkronisasi antar pihak yang terlibat di dalamnya, maka segala hambatan akan mudah dilalui dan tujuan dari pembelajaran tersebut akan tercapai. InsyaAllah.***

Referensi : Suendarti,Mamik Dr. 2019:”KONSEP-KONSEP MIPA”. Tangerang:Pustaka Mandiri.

Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed