Raket Kuno

Tidak tega juga menyebutnya raket kuno.   Mungkin yang lebih tepat raket antiq.   Rasanya waktu berjalan begtu cepat.  Teknologi biang keladi percepatan waktu itu bisa terjadi.

Pasalnya baru kemaren sore menyaksikan penain tennis grand slam menggunakan raket berbahan kayu. Ya rasanya baru saja terjadi.  Namun tiba tiba kini bermunculan jenis raket modern.  Raket yang lentur berbadan bahan carbonit berdiameter lebar.

Mas Bagyo, Ahad 8 November 2020 membuat kejutan  Kejutan terjadi di lapangan tennis Perumahaan Bumi Harapan Permai (BHP) Kelurahan Dukuh RW 06 Kramatjati Jakarta Timur.

Pemain senior  yang juga berprofesi pelukis membawa raket antiq.  Raket tennis kayu terhitung masih bagus dan “layak” pakai. Itulah raket tennis kayu produksi tahun 50 an. Raket merk John Newcombe Slazenger dibawa oleh Mas Bagyo menjadi pusat perhatian.

Teman teman pemain club Tennis BHP bergantian memegang dan mengayun ayunkan benda kuno itu. Memang kami generasi 50 an apalagi yang lebih muda terus terang belum pernah melihat secara langsung bentuk fisik si raket tua.

Raket Nadal merk Babolat, Federer setia menggunakan raket di sponsori wilson.  Masih ada lagi merk  Head, Prince dan Yonex serta jenis yang kurang populer.

Raket awak yang pertama sebagai pemula ber merk Yonex R 27.  Bentuknya kekar dan kurang elastis dibanding raket wilson yang dipakai sekarang. Kembali ke raket jadul itu so pasti pada zaman yang sama raket badminton juga menggunakan tangkai bahan kayu.

Lucunya pada masa itu sang raket ketika selesai dipakai segera saja oleh pemilik di penjara.  Diikat dengan sejenis alat press.  Apalagi gunanya alat press itu kalau bukan untuk merawat raket agar tidak melengkung.

Mungkin pada saat pemain seperti John Newcombe dan pemain tenis tenar se zaman nya belum lagi mengenal pukulan chop.   Alasan logis bersebab kekakuan raket kayu itu tida bisa dipakai untuk me mlintir bola.

Point yang ingin disampaikan disini adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial gemar berolahraga.  Olahraga permainan menjadi pilihan ketika ada bola. Malahan pada era globalisasi profesi olahragawan itu bisa dihargai jutaan dollar amerika ketika berhasil mempertahankan prestasi di 10 besar.

Salam Literasi

BHP 091120

YPTD

 

Tinggalkan Balasan