Menulis Bukan Masturbasi

“Menulis, bicara, berbuat, tidak pernah khusus untuk diri sendiri, langsung atau tidak langsung. Tidak ada seorang seniman berseni untuk diri sendiri, itu namanya “Masturbasi”.

Menulis adalah salah satu cara untuk meng-aktualisasikan diri, mempertajam pikiran dan mengasah nurani, dengan menulis maka kita akan senantiasa membaca, dengan membaca maka kita akan menganalisa, menganalisa menggunakan pikiran, dengan digunakannya pikiran maka pikiran akan terasah.

Menulis adalah juga meng-ekpresikan aspirasi, untuk mengatakan apa yang ada dihati, meng-komunikasikan pikirandan memperluas wawasan, melenturkan pikiran dengan menangkap situasi untuk menjadi bahan penulisan.

Dengan menulis kita juga belajar , dan belajar tidak mesti dengan buku, bila buku tidak ada , bahan tulisanpun tidak ada, bukankah orang harus belajar juga ? Dengan mengamati, memperhatikan, menghapal, mendengarkan, orangpun belajar. Tetapi juga banyaknya belajar tidak menjamin orang menjadi pandai. Belajar adalah memupuk ilmu dan pengetahuan didalam dirinya. Pandai adalah bisa menggunakan ilmu dan pengetahuan itu. Dan orang yang cerdas, inteligen, adalah yang pandai menarik kesimpulan dari ilmu dan pengetahuannya dan pengalamannya. Orang yang resolut adalah pandai memutuskan dan melaksanakan segala yang dapat disimpulkannya.( Pramudya Ananta Toer)

Apa yang dikatakan pak pram diatas ada benarnya juga, belajar untuk menjadi pintar bukanlah diukur dari kwantitas belajarnya, tapi lebih pada kualitas belajarnya.

Keseimbangan belajar dengan menulislah, yang akan meningkatkan kualitas intlektual. Kemampuan menulis akan sangat mendorong, memudahkan menarik kesimpulan dari suatu permasalahan, maka dari itu menulis adalah sesuatu yang sangat penting, untuk mengasah intlektual.

Kalau menulis adalah ekpresi jiwa, maka tulisan yang tertuang akan lebih pada ungkapan hati dan jiwa, bahkan terkadang menjadi luapan emosi, tapi lain halnya, menulis dianggap sebagai menuangkan buah pemikiran, yang dikomunikasikan dengan sedemikian rupa, sehingga mudah dipahami.

Disampaikan dengan bahasa yang sederhana sehingga gampang dicerna pembacanya, biasanya tulisan seperti ini difungsikan sebagai sebuah gagasan pemikiran, artinya dia akan bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Ketika kita mem-publish sebuah tulisan tentu saja tujuannya agar di apresiasioleh pembacanya, dan rata-rata tulisan yang diapresiasi adalah tulisan yang memiliki kelebihan kedekatan emosional dengan khalayak pembacanya.

Jadi kalaulah tulisan yang kita publish belum mendapat apresiasi, bukan berartikita telah gagal dalam menulisnya, masalahnya hanya pada tajuk tulisan tersebut belumlah mengena dihati pembacanya.

Bagi Pramudya Ananta Toer menulis, bicara, berbuat, tidak pernah khusus untuk diri sendiri, langsung atau tidak langsung. Tidak ada seorang seniman berseni untuk diri sendiri, itu namanya “Masturbasi”. Ada faal sosial didalamnya, makin dikembangkan faal ssosial itu semakin baik. Tak ada orang makan untuk makan.

Memperindah bahasa dalam tulisan adalah keharusan agar enak untuk dibaca, namun menata kata terlalu luar biasa juga akan menghilangkan makna. Tulisan yang sederhana enak dibaca, namun penuh makna, biasanya lebih diminati pembacanya.

Kembali pada niat Untuk Apa Menulis…semua tergantung kepentingan dan kebutuhan masing-masing, untuk kepuasan diri sendiri, pembaca? yang jelas apa yang ingin kita tulis adalah sesuatu yang bermakna juga bermanfaatbagi pembacanya.

Memang betul kalau di katakan setiap tulisan, mempunyai khalayak pembacanya sendiri. Ada juga yang bilang, biarlah tulisan menemukan pembacanya sendiri, karena setiap tulisan mempunyai takdirnya sendiri. Tapi takdir sebuah tulisan juga sangat di tentukan seberapa bear usaha penulisnya, agar tulisannya menemui takdirnya.

Tinggalkan Balasan

News Feed