oleh

Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi

-Pendidikan, Terbaru-Telah Dibaca : 48 Orang

Bu Ansi adalah seorang guru kelas 4 SD. Hari itu, ia akan mengajar pelajaran matematika tentang luas  bangun datar. Bu Ansi mengamati bahwa siswa – siswa di kelasnya tampak kebingungan ketika mengerjakan soal latihan. Dari 20 siswa, hanya ada 3 siswa yang mampu menjawab soal latihan dengan benar.

Menurut Bapak/Ibu guru, apa yang mungkin menjadi penyebab situasi tersebut ?

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkannya, di antaranya : metode yang digunakan kurang bervariasi, media pembelajaran yang tidak mengaktifkan siswa, minimnya pengetahuan awal siswa terkait topik, dll.

Namun, jika dilihat akar masalah sebenarnya adalah pengetahuan guru terkait profil siswa. Profil siswa ini mencakup kesiapan belajar siswa, minat, dan preferensi gaya belajar. 

Kesiapan belajar siswa merupakan kondisi yang dialami siswa terkait pembelajaran. Sebagai contoh, ada siswa yang siap belajar tentang materi yang sulit, namun ada juga siswa yang membutuhkan waktu lama untuk mempelajari materipelajaran. Jika guru memiliki pemahaman yang baik tentang kesiapan siswa, maka guru bisa mengaitkan pikiran positif siswa tentang materi baru yang akan diajarkan serta potensi guru dalam proses pembelajaran menjadi lebih baik. Selain itu guru dapat mengenalkan dan melaksanakan konsep tersebut sesuai dengan kebutuhan siswa, serta mengkreasikan tugas sesuai dengan keterampilan yang mereka miliki.

Minat siswa dapat dimaknai sebagai bentuk kecenderungan siswa terhadap suatu topik. Sebagai contoh, ada siswa yang mempunyai minat terhadap bidang matematika, sains, olahraga, atau kesenian. Jika guru mempunyai pemahaman tentang minat siswa, maka guru dapat memacu motivasi siswa untuk belajar.

Preferensi gaya belajar adalah kecenderungan cara-cara tertentu yang digunakan siswa dalam memproses apa yang harus dipelajari. Preferensi belajar terdiri dari gaya belajar, kecerdasan dan preferensi lingkungan.

  • Gaya Belajar : merupakan gaya siswa untuk memilih, memperoleh, memproses, dan mengingat informasi
    baru. Preferensi gaya belajar terdiri dari pembelajar visual, auditori atau kinestetik

  • Kecerdasan : Merujuk pada Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) menurut Howard Gardner, ada delapan jenis kecerdasan, dimana setiap orang memiliki satu bahkan lebih jenis kecerdasan.
  • Preferensi Lingkungan :  merupakan pilihan gaya belajar yang ditentukan oleh lingkungan siswa itu sendiri. Misalnya, ada siswa yang suka belajar di ruangan kelas, ada yang suka belajar di luar kelas. Ada yang suka belajar di tempat yang sepi, ada juga yang suka belajar di keramaian.

Jika seorang guru ingin sukses mengajar, maka ia harus mengenali dulu profil siswanya. Sebab, sejatinya pembelajaran harus disajikan secara berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi secara singkat merupakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa. Hal ini juga sejalan dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yang berpandangan bahwa setiap anak itu unik dan berbeda. Oleh sebab itu, guru harus menuntun mereka sesuai dengan kodratnya.

Pembelajaran berdiferensiasi juga selaras dengan arah pengembangan merdeka belajar. Di mana dalam konsep merdeka belajar terdiri dari : pemahaman akan profil siswa, kebutuhan siswa, persiapan guru dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

Dengan demikian, pembelajaran berdiferensiasi merupakan strategi umum yang dapat dikembangkan untuk mencapai merdeka belajar dalam rangka mewujudkan transformasi pendidikan di Indonesia.

Sedangkan, secara khusus, guru pun perlu menerapkan strategi – strategi pembelajaran yang berlandaskan prinsip  diferensiasi.

Strategi yang dapat dikembangkan oleh guru meliputi :

  • Diferensiasi konten :  pembelajaran dengan menyesuaikan materi pengetahuan, keterampilan, dan konsep yang perlu dipelajari murid berdasarkan kurikulum
  • Diferensiasi proses : suatu proses yang harus dilakukan murid yang memungkinkan mereka berlatih dan memahami isi materi
  • Diferensiasi produk : strategi memodifikasi dengan tagihan produk hasil belajar siswa dalam penerapan dan pengembangan apa yang telah dipelajari.

Selain strategi di atas, guru juga dapat memilih jenis strategi lain sebagai berikut :

  1. Choice Boards, yakni papan pilihan. Strategi ini digunakan untuk memajang dan mendemostrasikan
    semua karya siswa.
  2. Pusat belajar, yakni penyediaan pusat-pusat kegiatan di kelas dan sekolah. Aktivitas pusat kegiatan dilakukan berdasarkan kesiapan, minat dan preferensi belajar siswa.
  3. Kontrak belajar, guru dan siswa membuat perjanjian tertulis tentang tugas yang harus diselesaikan. Perjanjian tersebut mencakup tujuan pembelajaran dan kriteria penilaian. Kontrak tersebut ditulis dalam bahasa yang ramah siswa.
  4. RAFT, singkatan dari Role, Auidence, Format, Topik. Siswa memilih opsi atau guru memilihkan untuk mereka. Siswa membaca kolom untuk mempelajari peran yang akan mereka asumsikan, audiensi yang akan mereka bahas, format di mana mereka akan melakukan pekerjaan, dan topik yang akan mereka eksplorasi. Sebagai contoh, seorang siswa dapat berperan sebagai tokoh sejarah yang berbicara kepada audiens pada era tertentu. Siswa mungkin mengembangkan pidato atau esai tentang topik yang relevan dengan topik itu dalam sejarah.
  5. Tiering, yakni pemberian tugas secara berjenjang yang disesuaikan dengan tingkat kesiapan siswa. Guru dapat memilih tugas setelah melakukan asesmen. Tugas tersebut harus mengandung unsur rasa memiliki, menarik, menantang bagi siswa. Tiering ini bisa diberikan dalam mata pelajaran matematika.

Berikut ini adalah contoh pembelajaran berdiferensiasi : https://drive.google.com/drive/folders/1nBX4tVO2I8lNmpWL_VKXh8RsBdhRBXDF

 

Sumber :

http://repository.unp.ac.id/23547/1/2019%20Buku%20Panduan%20Model%20Pembelajaran%20Berdiferensiasi%20di%20sekolah%20inklusif.pdf

Sekolah Cikal

 

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog Februari 2021 (Artikel 16)

Nama : Theresia Sri Rahayu (Cikgu Tere)

Instansi : SDN Waihibur

NPA : 10260901048

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

3 komentar

News Feed