Sesi NGUDIK (Ngobrol Urusan Pendidikan) APKS PGRI Kabupaten Banjar (Sumber foto: screenshoot youtube APKS PGRI Kabupaten Banjar)

Oleh: Dionisius Agus Puguh Santosa, SE, MM

Malam ini saya merasa seperti mimpi kejatuhan bulan, karena didakwa menjadi salah satu narasumber dalam sebuah komunitas menulis yang bernama “Karya Bareng SULTAN PGRI” yang digagas oleh APKS PGRI Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Rasanya tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja saya alami. Betapa saya yang masih minim pengalaman ini diberikan izin dan kesempatan untuk berbagai pengalaman menulis yang saya jalani selama ini. Tentu seperti pengalaman pembicara “balita” pada umumnya, saya sempat nervous, grogi, dengan aneka perasaan berkecamuk di dada!

 

The Show Must Go On!

Ungkapan ini barangkali sudah tidak asing lagi kita dengarkan di kedua telinga kita. Ungkapan yang hendak mengatakan bahwa segala sesuatunya harus tetap berjalan atau dijalani, apapun yang terjadi nanti.

Proses penyiapan materi berlangsung secepat kilat. Poin-poin penting berusaha saya tampilkan dalam presentasi yang saya susun sore tadi sepulang mengajar dari di sekolah. Saya awalnya sempat was-was, karena menyaksikan bergulirnya jarum jam yang menempel di dinding tampak begitu cepat. Tik..tok..tik..tok…tik…tok…

Jika dihitung, waktu yang tersisa hanya sekitar satu jam saja. Dan waktu satu jam tersebut terasa sempit manakala saya harus membaca cepat beberapa referensi dunia kepenulisan di perpustakaan mini yang saya miliki. Beberapa buku tahun terbitnya mungkin sudah terkesan usang; namun bagi saya buku-buku itu selalu termaknai baru isinya, meski telah melewati rentang 10 tahun lamanya.

Tanpa terasa dua puluh menit berlalu, sisa waktu yang kian sempit saya maksimalkan untuk melakukan penyusunan presentasi dengan serunut mungkin. Saya berusaha menyajikannya mengalir apa adanya, jujur, dan sedapat mungkin bisa menutupi rentang waktu webinar yang berlangsung dua jam lamanya. Sebab satu kekhawatiran yang muncul adalah terjadinya kekurangan bahan saat tampil berbicara nanti.

 

Ketika Jam Tujuh Hampir Tiba

Entah mengapa jam tujuh rasanya cepat sekali tibanya! Sebelum mengakhiri proses editing, saya sempatkan diri untuk melakukan cek dan ricek kembali secara kilat. Halaman yang tidak terlalu penting saya hilangkan. Kalimat-kalimat yang terlalu panjang saya ringkas dan padatkan susunannya.

Agar tampilan bisa maksimal, saya sertakan banyak gambar dan foto ilustrasi yang nantinya akan mendukung pemaparan yang saya sampaikan.

Sebenarnya panitia acara tidak meminta dibuatkan presentasi. Namun karena saya secara pribadi telah terbiasa menyiapkan presentasi sebelum mengajar di sekolah, maka dalam detik-detik yang tersisa, saya tetap berusaha menyajikan paparan yang menarik dan dapat menginspirasi peserta webinar malam ini.

Yang pasti, apa yang saya sajikan adalah materi yang memang sudah saya kuasai dengan baik. Sebab jika kita kurang menguasai pokok bahasa tertentu berkaitan dengan materi utuh yang akan kita paparkan, namun tetap memaksakan untuk memasukkan materi tersebut; kemungkinan akan muncul trouble saat on air nanti. Jadi penguasaan terhadap materi yang akan disampaikan kepada peserta webinar adalah mutlak adanya!

 

Bicara Setengah Jam Ternyata Tidak Cukup!

Awalnya sempat khawatir kalau materi yang saya presentasikan di depan audiens tidak dapat menutupi alokasi waktu yang disediakan panitia. Namun setelah presentasi saya bawakan, semuanya terasa mengalir begitu saja.

Kisah demi kisah dapat saya bagikan dengan nyaman dan sistematis. Dan saya melihat bahwa peserta begitu antusias menyimaknya. Tak terasa waktu tiga puluh menit lebih berhasil saya lewati dengan baik. Sempat seusai webinar, saya kembali menyaksikan penampilan saya melalui rekaman yang saya buat.

Detik demi detik saya dengarkan ulang rekaman tersebut. Dan saya merasa bersyukur, kendati dalam beberapa bagian ada yang kurang maksimal, namun secara umum paparan yang saya sampaikan sudah baik dan sesuai dengan ekspektasi saya sebelumnya.

Paparan yang saya sampaikan terasa makin lengkap karena Ibu Dyah Febrina Wardhani juga membagikan pengalamannya bergelut dengan dunia kepenulisan. Melalui perjuangannya sebagai seorang pendidik yang ditugaskan mengabdi di wilayah Paramasan, lahirlah sebuah buku yang begitu menginspirasi. Celotehannya pun terekam dengan baik dan telah dimuat dalam media cetak lokal maupun nasional.

Hampir sebagian besar peserta webinar malam ini bertahan hingga batas akhir acara. Beberapa masukan dan tanggapan pun disampaikan oleh peserta webinar malam ini.

Melalui pengalaman malam ini, saya merasa beruntung karena diijinkan berbagi pengalaman menulis. Saya akui meskipun saya ini masihlah penulis “balita”, namun saya tetap bersedia untuk berbagi agar dunia literasi di Kabupaten Banjar yang saya cintai ini dapat maju, berkembang, dan sejajar kedudukannya dengan kabupaten/kota lainnya di Indonesia.

Terima kasih saya ucapkan kepada Om Jay dan semua guru public speaking dalam “Kelas Belajar Menulis” yang saya ikuti selama ini. Ilmu-ilmu yang Anda bagikan luar biasa dan sangat bermanfaat.

Salam SULTAN (Suluh Literasi dan Pendidikan)!

 

Banjarmasin, 24 Februari 2021

Tinggalkan Balasan

News Feed