Menulislah Bila Harus Menulis (Sumber foto: https://www.cintapekalongan.com )

 

Oleh: Dionisius Agus Puguh Santosa, SE, MM

Pernahkah Anda mengalami bahwa hari ini Anda diharuskan menulis? Bisa saja yang mengharuskan Anda menulis adalah panitia sebuah lomba blog atau sejenisnya. Bisa jadi guru atau dosen Anda yang memberikan tugas menulis hari ini.

Mungkin juga Anda diminta menulis oleh seseorang yang sangat Anda kenal. Atau Anda sendirilah yang meminta diri Anda untuk menulis. Dan yang pasti, aktivitas menulis yang saat ini kita jalani tentu mempunyai alasannya masing-masing.

 

Menulis Adalah Sebuah Perjuangan

Menulis sebagai sebuah perjuangan adalah salah satu alasan yang kerap dialami oleh banyak orang. Pengalaman ini bisa saja dialami oleh anak-anak. Namun tidak menutup kemungkinan bila pengalaman tersebut baru akan teralami saat seseorang menginjak remaja atau memasuki dewasa, bahkan ada pula yang mengalaminya saat hendak menapaki usia lanjut.

Sebenarnya tak terlampau menjadi soal kapan seseorang mengalami situasi, dimana menulis sungguh-sungguh menjadi sebuah perjuangan. Apalagi bila hal itu ditunjang atau didukung oleh tujuan-tujuan yang baik dan berdampak positif bagi pelakunya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia jelas-jelas ditegaskan bahwa makna dari kata “perjuangan” adalah usaha yang penuh dengan kesukaran dan bahaya. Tentu rumusan makna dari kata perjuangan ini tidak sembarangan dibuat atau sekedar ditulis untuk menakut-nakuti pembacanya. Namun kata ini memang hendak mewakili situasi dan kondisi yang benar-benar akan dialami oleh seseorang yang memilih aktivitas menulis sebagai bagian dari rutinitasnya.

Seperti halnya dengan rutinitas lainnya, maka “menulis” pun akan selalu berhadapan dengan berbagai macam tantangan dan kesukaran. Berbagai tantangan yang muncul dapat saja berasal dari dalam diri kita sendiri; pun tak sedikit tantangan yang berasal dari luar diri kita.

Akan tetapi yang terpenting adalah bagaimana usaha kita untuk menaklukan segala macam halang rintang yang menghadang di depan mata. Sekali waktu kita memang perlu berkompromi dengan situasi dan keadaan yang sedang melanda hidup kita. Namun sikap kompromi ini pun lambat laun juga mesti dipikirkan dampaknya bagi kelangsungan aktvitas menulis yang sejak mula sudah kita tetapkan sebagai salah satu bentuk perjuangan kita dalam mengarungi lautan kehidupan ini.

 

Jadikan Menulis Sebuah Panggilan

Untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah panggilan, terkadang kita perlu mengujinya berkali-kali dan dengan berbagai cara tentunya. Jika memang di kemudian hari kita mendapati fakta bahwa menulis adalah memang salah satu panggilan dalam hidup sehari-hari, maka jalanilah dengan penuh kegembiraan!

Menjalani segala sesuatu dengan penuh kegembiraan adalah sesuatu yang tidak mudah. Karena terkadang untuk meraihnya kita harus rela melakukan pengorbanan yang tidak kecil. Salah satunya adalah dengan mengorbankan kesenangan-kesenangan kita yang lain.

Sebagian dari kita barangkali ada yang mempunyai hobi bermain games online; yang lain mungkin sangat menyukai menonton drama Korea yang berseri banyak; dan ada pula sebagian orang yang mempunyai kebiasaan berjalan-jalan ke berbagai tempat yang disukai.

Jika kita adalah seorang penulis yang kreatif, maka kita akan berhasil melakukan “kolaborasi” nan apik antara tekad meneruskan rutinitas menulis dengan berbagai hobi dan kesenangan kita lainnya.

 

Nikmati Menulis Sebagai Sebuah Perjalanan

Sepertinya nasihat yang termaktub pada sub judul di atas akan menjadi sesuatu yang tidak mudah untuk diwujudkan. Bagaimana mungkin seseorang yang enggan menulis, namun masih tetap dipaksa untuk menikmati kegiatan menulisnya sebagai sebuah perjalanan?

Apakah masuk akal jika rutinitas menulis yang dijalani seseorang untuk meraih predikat juara dalam sebuah lomba blog, akan melahirkan kenikmatan akibat menulis dengan gaya demikian?

Memang, sebagian penulis mungkin merasa tidak mudah untuk menikmati kegiatan menulis yang dapat diumpamakan sebagai sebuah perjalanan! Karena dalam realitasnya, sebuah perjalanan yang sesungguhnya pun terkadang tak bisa kita nikmati, seperti mimpi yang pernah kita angankan sebelumnya.

Dan pada akhirnya semua hal akan dikembalikan kepada diri kita masing-masing, apakah akan sungguh-sungguh menjadi penulis yang menikmati setiap aktivitas menulisnya sebagai sebuah perjalanan, atau akan mengisi setiap perjalanan hidupnya dengan aktivitas menulis?

 

Banjarmasin, 22 Februari 2021

Tinggalkan Balasan