CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (32)

Cerbung ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

TIGA PULUH DUA

Ruang ujian ada di lantai tiga Gedung Utama Kampus. Aku dan Alan pagi itu sudah bersiap di lantai tiga. Aku memang sengaja datang pagi-pagi untuk memberikan dukungan kepada Alan.

Tepat pukul 9.00 WIB, Alan sudah mulai masuk Ruang Ujian. Satu jam sudah berlalu, Alan masih juga belum keluar dari Ruang Ujian. Satu jam seperempat, satu jam setengah, satu jam tiga perempat, dua jam. Ternyata Alan masih belum selesai ujian. Asyik sekali yang ujian, kataku dalam hati.

Beberapa saat kemudian aku melihat Alan muncul di pintu ruang ujian sambil tersenyum lebar dengan tarikan nafas yang panjang. Aku tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Alhamdulillah selesai sudah Hen! Aku rasanya lega sekali semua tugasku sudah rampung alias beres.” Suara Alan penuh dengan kegembiraan.

Aku menyambutnya dengan jabatan tangan sambil mengucapkan selamat. Aku memeluknya penuh bangga. Alan ini begitu gembira karena sudah menyelesaikan ujian dengan baik. “Tadi hanya satu pertanyaan yang kujawab dengan ragu dari Profesor Soetrisno!” Kata Alan Erlangga. Profesor Soetrisno yang dimaksud Alan itu adalah pembimbingku.

“Ayo kita ke kantin fakultas. Biar aku yang traktir kamu Hen,” ajak Alan maka kamipun bergegas menuju lantai dua. Di tangga kami berpapasan dengan Aini lalu sekalian saja Aini kami ajak ke Kantin itu.

“Wah Nona manis rupanya baru muncul. Sengaja ya datang jam segini aku tahu nona manis ini cuma mau nungguin si Han ujian, sementara itu aku cuma dicuekin,” kata Alan mulai bercanda menggoda Aini.

“Bukan begitu Al sebab aku yakin kamu tanpa aku datangpun pasti bisa,” suara Aini membela diri.

“Lho berarti Si Han tanpa kau datang nanti ujiannya enggak bisa?” Tanya Alan.

“Siapa yang yang berkata begitu? Han bukan mahasiswa sembarangan. Tanpa aku, dia juga pasti bisa apalagi kalau ada aku,” kata Aini sambil tertawa renyah. Aini memang cantik sekali saat dia tertawa membawa aura kegembiraan.

“Iya iya Aini, ngomong sama kamu mana bisa aku menang. Aktivis HMI memang jago ngomong apalagi Sekjennya,” kata Alan menggerutu. Kami hanya bisa tertawa mendengar gerutuan Alan.

BERSAMBUNG Bab 33. 

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

Teman-teman bagi penggemar novel sila baca novel di bawah ini, klik saja tautannya.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren.

Tinggalkan Balasan

1 komentar