Terbitkan Buku Saat Sakit?

Doc. Prinadi

Dalam hidup ini ternyata kita harus bijak membaca, dan mengambil ‘hikmah’ dari setiap masalah yang sedang di hadapi. Kurang lebih dua minggu lalu saya sakit, sekarang pun saat menulis ini masih dalam pemulihan.

Dalam kondisi yang kurang sehat itu, sehari-hari saya cuma bisa berbaring di tempat tidur, tidak ada yang bisa saya lakukan. Saya hanya berpikir, hikmah apa yang ada di balik semua ini.

Saya stop semua aktivitas menulis secara stripping di NovelMe, karena memang tidak bisa untuk menulis secara sporadis. Dalam kondisi seperti itu, tiba-tiba ada pesan masuk di WA dari mbak Muthiah Alhasani;

“Assalamualaikum WW.. Pak, mau cetak buku master gratis? Dapat ISBN juga” Kata mbak Muthiah

Saya pun langsung membalas,

“In sha Allah mau mbak..cuma sy lagi kurang sehat..nanti kalau sdh sembuh sy hubungi mbak Muthiah deh…” Jawab Saya

Singkat cerita, setelah pembicaraan itu saya langsung kirim naskah Antologi Puisi Politik “Bait-bait Konstelasi” ke mbak Muthiah, alhamdulillah, beberapa hari setelah itu langsung dapat jawaban, kalau buku tersebut akan di terbitkan menjadi dua jilid, karena terlalu panjang.

Masih dalam kondisi yang belum sehat, saya langsung merancang cover untuk dua buku tersebut, alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Nikmat Tuhan mana yang harus saya dustakan? Dalam keadaan sakit pun Tuhan limpahkan nikmat-Nya, sehingga saya bisa terbitkan buku.

Dalam kondisi sakit pun saya tetap bisa membantu merancang cover buku untuk teman-teman di Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD), alhamdulillah tidak ada hambatan sama sekali. Hari ini saya kembali menerima kabar gembira, bahwa ISBN buku “Membaca Politik Citra SBY” sudah dikeluarkan.

Artinya, bertambah lagi nikmat yang Allah berikan, meskipun dalam keadaan sakit, saya masih diberikannya kesempatan untuk menerbitkan buku, yang sudah delapan tahun tertunda. Diluar dugaan saya, Bait-bait Konstelasi, dan Membaca Politik Citra SBY itu akan di terbitkan oleh YPTD, atas prakarsa Pak Thamrin Dahlan, yang memudahkan bagi teman-teman untuk menerbitkan buku.

Memang tidak ada yang mustahil bagi Allah, mustahil bagi manusia, tidak lah mustahil bagi Allah. Mustahil bagi saya menerbitkan buku di saat sedang sakit, jangankan menerbitkan buku, untuk menulis saja saya susah, tapi Alhamdulillah..semua itu tidak mustahil bagi Allah, nyatanya dalam kondisi sakit, saya tetap bisa menerbitkan buku.

Ini sesuatu yang diluar kuasa dan rencana manusia, seperti itulah Tuhan punya rencana di balik sakit saya. Saya di suruh istirahat secara fisik, tapi karya-karya saya tetap terus mengalir. Sekian puluh tahun jadi penulis, akhirnya saya bisa membuktikan bahwa, saya adalah penulis, dengan terbitnya buku-buku tersebut, menjadi bukti saya adalah seorang penulis.

Saya tidak pernah bisa membayangkan, kapan bisa menerbitkan kedua buku tersebut, Alhamdulillah, sekarang Allah sudah menjawabnya, ternyata kedua buku itu memang harus di terbitkan, setelah selama delapan tahun terpendam.

Memang sebelum kedua buku itu, saya sudah menerbitkan satu buah Novel, “Mata untuk Aini” yang di terbitkan atas bantuan mbak Anis Hidayatie, seorang Kompasianer, dan juga penggiat literasi. Disamping itu saya juga menulis Novel secara online di NovelMe, tapi rupanya bukan kapasitas saya untuk menulis Novel secara stripping.

Yang namanya Sakit pastilah istirahat, tapi bagi saya saat ini, dalam keadaan sakit pun saya harus terus bisa melakukan sesuatu untuk kepentingan bersama. Seperti itulah hidup, tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk berbuat sesuatu, kecuali Allah semata. Selama nyawa masih dikandung badan, saat itu juga sedapat mungkin kita harus terus berbuat untuk kepentingan orang lain.

Tinggalkan Balasan

6 komentar

  1. Kesadaran diri dikarenakan kekuatan Iman itulah yang membuat kita bisa menerima apapun yang terjadi pada diri. Selalu ada hikmah, Bang Ajinatha mampu mendeskripsikan dengan baik dan jelas ketika diberi cobaan sakit. Subhanallah. Tetap berkarya. dan berbagi. Salam Lioterasi.

    1. Aamiin.. Refleksinya ternyata memang seperti itu pak..itulah kekuasaan Tuhan yang tidak bisa kita nafikan, selalu berprasangka baik terhadap rencana-Nya adalah manifestasi iman kepada Allah.. Terima kasih pak TD