Lebih Baik Tidak Menulis

Kalau kata Chairil Anwar,

“Lebih baik tidak menulis, dari pada memperkosa kebenaran, dan kemajuan”

Benar sih apa yang di katakan Chairil Anwar diatas, menulis bukan sekadar memenuhi syahwat untuk menulis, tanpa di pikirkan apa yang mau di tulis, sehingga memaksakan diri menulis, meskipun memperkosa kebenaran, dan kemajuan.

Harus ada alasan untuk menulis, ada yang memang karena kegelisahan ingin mengungkapkan fakta kebenaran, atau juga ingin memberikan imformasi yang bermanfaat, sehingga apa yang dituliskannya, dengan sadar dilakukan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Didunia kepenulisan banyak sekali karakter penulis. Ada yang menulis cuma untuk have fun, ada yang menulis cuma karena mengisi waktu dan sebagainya. Tapi jangan salah, ada lho yang menulis sudah dijadikan profesi, yang seperti ini banyak.

Kamu sendiri menulis karena apa..?

Kalau saya sih menulis itu awalnya hobby, karena sejak SMA sudah menulis di media sekolah yang saya kelola sendiri. Sampai diperguruan tinggi juga gitu.

Sekarang menulis sudah menjadi pilihan profesi, setelah lepas dari segala rutinitas kerja. Bersyukur banget sekarang banyak platform media digital, terlebih lagi ada Kompasiana sebagai pelopornya.

Menulis pada awalnya mungkin cuma sekedar pelampiasan, tapi ketika kita dihadapkan oleh berbagai tantangan dan aturan, maka berusaha untuk lebih hati-hati, gak ingin cuma sekedar menulis, selalu berusaha ada yang ingin dibagikan dan disampaikan kepada pembaca.

Terus berusaha mengasah kemampuan, memperbaiki kelemahan dalam pemilihan tema tulisan. Kadang Juga malah berpikir, kalau memang tidak ada gagasan sama sekali, lebih baik tidak menulis, atau berhenti menulis dulu. Bukan berhenti dalam artian stop menulis ya..cuma memberikan jeda, agar bisa refresh lagi.

Karena bukan apa-apa, kalau dipaksakan terus, takutnya malah gak bisa maksimal, kalau gak maksimal hasilnya ya kurang bagus, jadi kesannya asal-asalan. Kalau sudah begitu lebih baik berhenti dulu sejenak, sampai muncul gagasan-gagasan yang bisa mencerahkan.

Banyak sekali tips menulis yang sudah dibagikan oleh rekan-rekan penulis, namun tetap saja, motivasi untuk menulis itu terpulang pada diri kita masing-masing. Apa yang sesungguhnya melatari keinginan kita untuk menulis, yang jelas, hampir sebagian besar, dengan menulis tidak saja mencerahkan bagi orang lain, tapi juga bagi penulisnya sendiri.

Bagaimana dengan K’Ners sendiri, ketika menghadapi situasi Stuck seperti itu, apakah tetap memaksakan diri untuk tetap menulis, atau mengambil jeda untuk me-refresh dulu agar bisa prima lagi.?

Okay K’ners..mohon maaf kalau Tulisan ini kurang berkenan dihati, dan tidak memberikan manfaat, ini cuma tulisan iseng, sekedar me-refresh kejenuhan dari menulis opini politik, juga kehabisan bahan untuk ditulis.

Artikel ini merupakan bagian dari artikel saya yang pernah di tayangkan di Kompasiana, karena terus relevant, makanya saya posting dan bagian disini.

Tinggalkan Balasan