Menulis dengan Radikal

Foto: pixabay.com

Jangan salah, bukan Cadar dan Celana cingkrang aja yang bisa dibilang “radikal”, menulis juga ada yang radikal. Cuma saja dalam konteks ini, radikal dalam artian ekstrim.

Pada awal-awal di Kompasiana, tulisan-tulisan saya banyak yang ekstrim. Keluar dari kaidah-kaidah penulisan yang baku. Memang lebih bebas mengekspresikan ide-ide dan pemikiran.

Itulah yang membuat saya selalu rindu untuk terus menulis saat itu. Ingin rasanya mengekspresikan pemikiran seperti itu, tapi sudah tidak bisa, banyak sekali yang ditakutkan.

Padahal tulisan-tulisan yang radikal seperti itu sangat menarik pembaca, karena dituangkan secara bebas, namun tetap dalam koridor artikel blogger, bebas tapi bertanggung jawab.

Bisa jadi pengaruh dari usia, sehingga keberanian untuk mengekspresikan pemikiran yang berbeda sudah berkurang. Kalaupun dipaksakan pastinya tidaklah lepas bebas seperti dahulu.

Terlebih lagi sejak dapat Centang Biru, menulis lebih hati-hati, tidak bisa seenaknya seperti dahulu. Menjaga kualitas tulisan lebih diutamakan, (meskipun tidak berkualitas amat sih), dan nyatanya setelah 10 tahun bergabung di Kompasiana, kembali Centang Hijau.

Dari segi aturan yang diberlakukan Kompasiana, sebetulnya tidak banyak berubah dengan sebelumnya, hanya saja dengan semakin dikenalnya Kompasiana, sebagai penulis pun kita menjadi lebih hati-hati.

Biar bagaimanpun, buruk baiknya yang kita tuliskan, tetap saja ada imbasnya pada Kompasiana. Inilah yang membuat saya juga semakin hati-hati. Padahal menulis secara radikal itu sangat mengasyikkan.

Beberapa K’ners saya lihat ada yang tulisannya begitu radikal, berani menabrak pakem-pakem penulisan pada umumnya, sehingg tulisannya pun enak dibaca.

Entah kenapa saya malah tidak bisa lagi menulis dengan cara seperti itu, ada ja’im juga sih, takut dibilang tidak berkembanglah, tidak bisa jaga kualitaslah. Padahal memang gak berkualitas amat tulisannya.

Tulisan-tulisan politik saya dulu sangat ekstrim, berani kritik SBY dengan frontal. Sekarang nyali saya sudah ciut untuk nulis politik seperti itu. Sehingga dari segi bahasapun dimanis-manisin.

Kadang ada kerinduan pada situasi seperti dulu, dimana menulis setiap hari tanpa kenal waktu. Menulis apa saja meskipun tidak bermutu, tapi situasi seperti itulah yang membuat saya rindu Kompasiana.

Bayangkan, dari pagi hari sampai menjelang pagi lagi, tidak pernah lepas dari mantengin Kompasiana, karena Interaksi yang aktif sesama K’ners membuat betah duduk berjam-jam didepan laptop.

Itulah saking radikalnya ber-Kompasiana, sehingga ide-ide yang radikal pun keluar begitu saja. Saya bisa menuliskan tentang imajinasi Quicky Sex, yang saya sendiri sebetulnya tidak pernah mengalaminya.

Tulisan seperti itu bisa dimuat di Kompasiana. Saya juga menulis pengalaman seorang teman yang melakukan sex secara radikal didalam mobil, ditengah mengalami macet saat pulang kampung.

Saking ja’imnya, saya tidak berani lagi membuat tulisan seperti itu. Apa kata dunia kalau saya masih menuliskan hal seperti itu, bisa-bisa kalau dibaca cucu saya jadi malu.
Gak berasa, Kompasiana sudah ulang tahun yang ke 11, sementara saya sudah 10 tahun ber-Kompasiana. Tapi memang, suasana awal di Kompasiana itu membuat saya selalu rindu, rindu menulis secara radikal, dengan tulisan-tulisan yang juga radikal.

Tinggalkan Balasan

1 komentar