Seperti Apa Memakai Agama

Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengatakan:

“Kemaksiatan yang menimbulkan rasa hina dan penyesalan, lebih baik dari pada ketaatan yang melahirkan rasa bangga dan kesombongan.”

Mengaku penuh dosa dan mau memperbaiki diri dengan memohon ampunan kapada Tuhan, dengan Taubat sebenar-benarnya Taubat, jauh lebih baik dari pada sudah merasa paling beriman, dan paling taat, namun tertap berlalu keji terhadap sesama, sehingga lupa kalau telah berbuat dosa.

Saya yang fakir ilmu mudah tercengang melihat fenomena para pemakai Agama. Sering saya bertanya, seperti apa memakai Agama, ketika yang diteladani tidak memberikan teladan cara memakai Agama.

Lagi-lagi saya tercengang ada yang disebut Ulama dengan entengnya menyebar fitnah. Padahal dia sangat mengerti seperti apa dosanya fitnah. Seharusnya dia lebih tahu kalau menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya adalah juga fitnah.

Dalam pengembaraan mencari kebenaran, bagaimana seharusnya memakai Agama, semakin banyak saya diperlihatkan bagaimana Agama dipakai hanya sekedar menjadi pemanis, agar enak dilihat, namun tidak dikenakkan dengan secara benar.

Agama dipakai hanya untuk mengelabui pandangan. Agama dipakai untuk dagangan Politik agar laku dijual. Agama diletakkan dilapak loakan dengan murah dijual. Agar siapa saja bisa memakai Agama untuk apa saja, bahkan untuk tipu muslihat juga dikenakkan.

Ada yang benar-benar memakai Agama, namun tidak banyak yang meneladaninya. Rasulullah yang Paling patut diteladani saja tidak lagi menjadi teladan sebagian Ulama. Dimimbar-mimbar bicara tentang Keteladanan Rasul, tapi sendirinya menjaga lisanpun tidak meneladaninya Rasul.

Ini memang tanda-tanda akhir jaman. Yang sebenarnya buruk semakin diperlihatkan keburukannya. Yang sebenarnya baikpun semakin diperlihatkan kebaikannya. Anehnya yang sudah diperlihatkan berbagai keburukannya malah dipuja-puja. Yang sudah diperlihatkan segala kebaikannya malah difitnah dan dinista.

Inilah kenyataan dan realita tanda-tanda akhir jaman. Yang berakal hendaklah menggunakan akalnya. Melihat kebenarannya sesuai dengan petunjuknya. Yang sudah mati hatinya, semakin hilang akal sehatnya.

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wa Salaam sudah mengingatkan semasa hidupnya, bahwa menjelang akhir zaman ada ahli baitnya, dan mengaku-aku ahli baitnya yang menjadi bagian dari penyebar fitnah akhir zaman.

Dari ‘Umair ibn Hani al ‘Ansiy, beliau mengatakan mendengar ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata, “Suatu hari kami sedang duduk berdampingan dengan Rasulullah SAW, kemudian beliau mengingatkan tentang fitnah-fitnah (ujian besar di akhir zaman) yang akan banyak bermunculan, salah satunya beliau menyebutkan fitnah ahlas. Lantaran seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah! Apa yang dimaksud dengan fitnah ahlas? ”

Rasulullah menjawab, “yaitu fitnah pelarian dan peperangan, kemudian fitnah sarra’, di mana banyak yang bermegah-megahan dan terjerumus dalam lubang maksiat, yang asapnya berasal dari bawah kaki seseorang dari ahli baitku. Ia mengaku bagian dariku, padahal bukan dariku, karena sesungguhnya orang-orang yang kukasihi hanyalah orang-orang yang bertaqwa. Kemudian manusia bersepakat pada seseorang seperti bertemunya pinggul di tulang rusuk, kemudian fitnah duhaima’ yang tidak membiarkan ada seseorang dari umat ini kecuali dihantamnya.

Jika dikatakan : “ia telah selesai”, maka ia justru berlanjut, di dalamnya seorang pria pada pagi hari beriman, tetapi pada sore hari menjadi kafir, sehingga manusia terbagi menjadi dua kemah, kemah keimanan yang tidak mengandung kemunafikan dan kemah kemunafikan yang tidak mengandung keimanan. Jika itu sudah terjadi, maka tunggulah kedatangan Dajjal pada hari itu atau besoknya.”.

Tinggalkan Balasan