oleh

CerBung : Han! Aku Cinta Padamu (10)

-Cerpen, Fiksiana-Telah Dibaca : 219 Orang

Cerpen Bersambung (CerBung) ini khusus persembahan penulis untuk mereka para mahasiswa. Namun juga untuk mereka yang masih berjiwa muda. 

BACA JUGA : Han! Aku Cinta Padamu (1).  

SEPULUH

Sore itu sehabis pulang Praktikum Kimia Organik, Erika mengajakku untuk membicarakan sesuatu. Aku sudah tahu sebenarnya yang nanti dibicarakan. Kami berbincang-bincang di ruang perpustakaan. Ada beberapa mahasiswa sedang membaca dan menulis. Oleh karena itu kami berbincang dengan suara yang pelan agar tidak menggangu mereka.

“Han.” Suara Erika pelan.

“Ya Rika.” Jawabku.

“Apakah kau pernah mendengar cerita Siti Nurbaya abad dua puluh satu?” Tanya Erika agak sinis.

“Ah sudahlah Rika, mungkin lebih baik jika kita dapat melupakan semuanya,” kataku datar dengan ekspresi wajah pasrah.

“Han! Aku harap kamu mengerti. Pertunangan ini tidak bisa aku tolak karena aku harus berbakti kepada orang tuaku,” suara Erika lirih dan air matanya mulai menetes di kedua pipi.

“Rika, aku tak mau kau menangis. Aku mencintaimu seperti dulu walaupun sekarang harus aku hadapi kenyataan ini,” kataku datar dan Erika masih terisak.

“Han, bukankah kau bisa berbuat sesuatu untukku?”

“Maksudmu, apa yang harus kuperbuat?”

“Maukah kau bawa aku pergi dari sini. Aku tak mau dipaksa mencintai orang yang tak kucintai!” Kata Erika terisak.

Mendengar ini aku hanya terdiam lalu tersenyum memandang kekasih tengah menangis dengan wajah yang tertutup kesepuluh jemarinya yang mungil. Erika terisak sehingga nampak bahunya terguncang.

“Dengarlah Rika, mari kita lebih banyak menggunakan logika, bukankah kau selalu berkata begitu? Sekarang harus kita berfikir apa yang terjadi jika membawamu lari, maka berarti kita harus meninggalkan bangku kuliah.”

Belum selesai kalimat ini, suaraku dipotong Erika. “Cukup Han!” Potong Erika sambil memandangku tajam. “Aku tahu, kau ini pengecut dan sudah tidak seperti dulu lagi. Kau hanya ingin mementingkan diri sendiri. Kau tak mau mengerti diriku. Han, lebih baik kita tak usah bertemu lagi!” Terdengar suara Erika tegas dan dia cepat-cepat meninggalkan perpustakaan sambil terisak. Sementara aku masih termangu di pojok ruang perpustakaan itu.

BERSAMBUNG BAB 11.

@hensa.

Ilustrasi Foto by Pixabay.

BACA JUGA Kisah Cinta Jomlo Pesantren. 

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar