Menulislah Seakan Esok Akan Mati

Tulisan ini sebetulnya terinspirasi berdasarkan pembicaraan dengan seorang Mantan Jurnalis, yang secara tidak sengaja. Memang kadang inspirasi sebuah tulisan itu bisa datang dari mana saja, baik dari melihat, mendengar, bahkan terlibat dalam sebuah peristiwa yang tidak kita duga-duga.

Pertemuan tidak di sengaja itu terjadi beberapa tahun yang lalu, sehabis mengantar anak saya ke Bandara Halim Perdana Kusuma, dalam perjalanan pulang saya berbincang-bincang dengan driver taksi online. Awalnya dia bercerita tentang ribetnya pembangunan trotoar yang bikin macet jalan.

Ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya dia nanya profesi saya apa, kerja dimana. Saya bilang profesi saya cuma pekerja seni, itupun kalau ada yang dikerjakan, kalau gak ada ya cuma menulis apa saja yang saya suka.

Begitu saya cerita tentang menulis, driver itu begitu respek, dan tambah seru ngobrolnya. Dia bilang, menulis itu bekerja dengan pikiran, untuk keabadian. Kalau driver taksi itu bekerja dengan fisik, untuk mencari makan anak dan isteri.

Akhirnya, dia juga membuka latar belakang dirinya sebagai penulis dan pewarta. Ngobrol kami pun semakin asyik. Dia bilang, kalau negara ini banyak masalah, pewarta jadi banyak kerjaan dan yang diberitakan.

Saya cuma ketawa mendengar celotehnya. Tapi dia terus cerita tentang profesinya dimasa lalu, pria separuh baya yang usianya kurang lebi sama dengan saya, begitu ceria menceritakan masa lalunya.

Dulu dia berprofesi sebagai seorang jurnalis, begitu media berita online marak, perusahaan tempat dia bekerja tutup. Media berita cetak gulung tikar, tidak siap menghadapi persaingan global dunia digital.

Satu hal yang menarik dari pembicaraan itu, dia bilang, kalau mau menekuni dunia penulisan untuk mengisi masa tua, harus punya motivasi yang kuat, tetap harus punya target, jangan cuma menyalurkan bakat dan hobi.

“Menulislah seakan-akan esok engkau akan mati”, katanya, dengan demikian termotivasi untuk menghasilkan tulisan yang terbaik, dan penuh kebaikan. Cukup masuk akal motivasi yang diberikannya.

Dia juga cerita, sampai saat ini diwaktu senggang masih suka menulis, tapi tidak dipublikasikan. Tulisan tersebut cuma dikumpulkan untuk dijadikan sebuah buku, itupun katanya atas dasar motivasi tersebut.

Dari semua pemikiran yang disampaikannya sepanjang perjalanan, sangat terasa kalau driver tersebut sangat kaya wawasan, baik wawasan, sosial, politik, ekonomi, juga kebudayaan.

Tutur katanya juga sangat lemah lembut, tidak keras dan radikal. Bahkan sangat santun dan rendah hati. Sehingga membuat saya jadi salah tingkah, karena saya bercerita tentang aktivitas sehari-hari dengan sangat pongah.

Ternyata dalam hidup ini selalu ada pelajaran yang bisa dipetik, asal mau membuka diri untuk mengambil pelajaran dari siapa saja, tanpa perlu under estimate terhadap orang yang baru kita kenal, juga apa profesinya.

Kadang kita memang suka menilai seseorang dari penampilan dan profesinya, tanpa mau melihat rekam jejak dan latar belakangnya. Sehingga dengan mudah menganggap orang lain tidak adae apa-apanya dibandingkan kita.

Tanpa terasa, kami sudah hampir sampai di jalan menuju kerumah saya. Saya berterima kasih pada bapak driver taksi online tersebut, karena sudah memberikan motivasi buat saya untuk terus menulis.

Sebagai tanda terima kasih, saya lebihkan ongkos perjalanan tersebut, menurut saya sangat pantas untuk dia terima. Dia begitu respek dan berterima kasih atas kelebihan tersebut.

Setelah turun dari taksi online tersebut, saya kembali terngiang-ngiang dengan motivasinya, “Menulislah seakan-akan esok engkau akan mati”. Kata-kata itu begitu menghipnotis saya, meskipun terasa agak maksa.

Entahlah, saya rasanya belum sampai seperti yang di maksudkan sang jurnalis, saya belum menentukan menulis sebagai takdir hidup. Padahal, saya sangat berkeinginan apa yang saya tuliskan memberikan manfaat banyak bagi orang lain.

Menulis adalah ladang amal yang bisa di tekuni oleh siapa saja, terlepas punya bakat atau tidak, karena yang utama dalam menulis adalah semangat untuk membagikan apa yang kita ketahui, membagikan ilmu pengetahuan, dan memotivasi orang lain untuk membacanya.

Tinggalkan Balasan

2 komentar