oleh

Tuhan Marah karena Saya Menulis?

-Media, Terbaru-Telah Dibaca : 403 Orang

Doc. Pribadi

“TUHAN MARAH KARENA SAYA MENULIS?

Saya berani bilang tidak, karena pemarah itu bukanlah bagian siafat Tuhan. Saya diberikan nikmat sakit? Itu benar, karena sudah sewajarnya saya diberikan nikmat sakit, setelah sekian lama saya selalu diberikan nikmat sehat.

Tuhan menegur saya? Itu benar, karena saya sudah melampaui batas. Seharusnya secara wajar saya melakukan sesuatu sesuai dengan batas kemampuan saya. Sekian lama saya menulis, baru kali ini saya diberikan ujian sakit akibat dari melebihi batas. Itu saya akui, yang seharusnya cukup menulis untuk mengisi waktu senggang, tapi yang saya lakukan menulis secara ‘stripping’ untuk waktu panjang.

Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh, tapi Allah juga tidak menyukai orang-orang yang melebihi batas. Allah sudah ‘set up’ manusia itu sesuai dengan takarannya, ketika manusia melebihi batas ketentuannya, maka ada akibatnya. Dan itu bukanlah azab, tapi sesuatu yang di karenakan melebihi apa yang sudah di tentukannya.

Jangan salah, meskipun diberikan sakit, Allah jadikan sakit itu sebagai sarana untuk mengampuni dosa. Nikmat mana lagi yang harus kita dustakan, sakit pun adalah bagian dari nikmat-Nya. Salah besar kalau kita menganggap orang yang diberikan sakit itu karena Allah mengazabnya, kalau Allah mengazabnya, untuk apa Allah mengampuni dosanya dengan perantara penyakit.

Kalau dikatakan karena sakit akhirnya saya harus istirahat menulis, itu benar, tidak saya salahkan. Tapi kalau hanya cobaan, atau nikmat sakit itu saya harus berhenti menulis, In Sha Allah itu tidak akan terjadi, karena menulis bagi saya adalah ibadah, mengisi sisa usia. Hanya dengan menulis saya bisa berbagi ilmu.

Apa yang salah dengan profesi menulis? Sehingga saya harus menghentikannya? Tidak ada sama sekali, kemampuan menulis itu anugerah yang diberikan Allah tidak Kepada semua umat manusia, dan saya bangga menjadi bagian dari manusia yang dianugerahi itu. Dengan menulis saya berjihad, beribadah, berdakwah, dan alhamdulillah hampir semua Novel yang saya tulis memberikan pesan moral. Dimana salahnya saya Menulis.

Nikmat sakit itu adalah sarana Allah untuk mengampuni dosanya, bukanlah untuk memberikan azab, namun memang harus difahami manusia, bahwa dalam sakit itu manusia harus semakin meningkatkan ketaqwaannya Kepada Allah, dan mengert kalau sakit dan sehat itu datang dari Allah, tidak ada yang bisa memberikan kesembuhan selain dari pada Allah.

Dokter, Tabib, Mantri, Sinshe dan sebagainya hanyalah perantara, bukanlah ahli penyembuhan, hanya Allah yang berhak menyebuhkan. Ketika Allah belum memberikan kesembuhan, itu tandanya Allah masih menguji kesabaran kita, sabarkah sabarkah kita menghadapi nikmat sakit? Sementara ketika menikmti nikmat sehat kita lupa diri.

Saya sangat sadar kalau Allah memberikan saya nikmat sakit, adalah untuk mengingatkan saya, betapa berharganya nikmat sehat yang sudah Allah berikan Kepada saya, makanya nikmat sehat itu saya gunakan untuk beribadah lewat menulis. Saya sadar sepenuhnya, tidak semua orang suka tulisan saya, tapi saya juga yakin kalau banyak orang yang menyukai tulisan saya, baik novel atau pun artikel saya. Dan itu saya tahunya dari banyak yang Japri saya untuk terus konsisten menulis.

Saya minta maaf kalau ada sahabat yang terganggu karena saya posting tentang sakit di timeline Medsos saya, demi Allah, saya tujuannya cuma meminta doa nya, tidak ada maksud lain dari itu. Sama sekali tidak ada keinginan minta dikasihani, karena penyakit itu juga penyakit yang biasa. Alhamdulillah dengan adanya saya posting di Facebook, saya banyak mendapatkan masukan dari teman-teman, dan Alhamdulillah sedikit banyak sekarang sudah ada perubahan.

Bakat dan kemampuan itu adalah anugeraha Yang Maha Kuasa, yang harus bisa dimanfaatkan sebagai sarana berbuat kebajikan. Bukan profesinya yang dipermasalahkan, tapi menggunakan profesi tersebut diluar kewajaran, sehingga mengabaikan kesehatan, itulah yang di murkai Allah. Maka diujilah dengan sakit, agar tahu gimana nikmatnya sehat.

Kalau kita benar-benar beriman pada Allah, akan senantiasa berprasangka baik pada Allah, memahami cara kerja Allah, dan mengenal sifat-sifat Allah, tidak akan berburuk sangka pada Allah, apa lagi menganggap Allah bersikap tidak adil. Bagaimana mungkin Yang Maha Adil tidak bersikap Adil.

Semoga kita semua senantiasa berprasangka baik pada Allah, meskipun terus diuji-Nya dengan berbagai musibah dan penyakit. Tidak ada yang terjadi dimuka bumi ini Tampa sepengetahuan Allah, Allah Maha Mengetahui, meskipun tidak kita kasih tahu. Allah Maha Mendengar meskipun tidak kita kabarkan. Dan Allah Maha Melihat meskipun tidak kita tunjukan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

2 komentar