Kisah-Kisah Perjalanan: Kelapa Muda

Pantai
“Ada kelapa muda Neng, biar segar lagi.”
Menuju ke Curug Pangeran tanpa kendaraan alias jalan kaki dari jalan utama di bawah rupanya cukup melelahkan. Jalannya cukup menanjak dan agak jauh. Tapi aku bersemangat melihat seorang anak kecil yang lincah berjalan tanpa mengeluh.
Tawaran kelapa muda itu kutampik. Nanti dulu deh setelah kembali dari curug saja.

Ya, akhirnya aku tiba di curug tersebut. Memang indah, airnya berwarna kebiruan. Hanya pengunjungnya begitu padatnya. Berbeda dengan air terjun kecil sebelumnya.

Setelah puas menikmati curug aku kembali ke warung tadi. Ah segarnya. Kelapa muda saat haus dan lelah memang melegakan. Manis dan segarnya mengembalikan tenaga.

Eh minum es kelapa muda kok di kawasan air terjun, kok tidak di pantai?

Memang sih kelapa muda identik dengan liburan di pantai. Di foto-foto liburan mancanegara biasanya ada gambar kelapa di pantai daerah tropis.

Minum kelapa muda di pantai itu seolah-olah sudah jadi satu paket. Padahal ketika di pantai sih menurutku tidak terlalu capek, paling-paling kepanasan saja.  Kecuali jika memang trekking atau berenang di pantai.

Es kelapa muda dan es krim itu sebenarnya mirip. Keduanya jenis makanan yang biasanya ada di tempat wisata. Kelapa muda ada di tempat wisata baik di pantai, curug, juga wahana hiburan seperti kawasan Ancol.

Waktu ke Belitung kali pertama aku mendapatkan jus kelapa muda sebagai minuman selamat datang. Rasanya enak banget.

Lalu aku menemukan gula kelapa muda itu berbeda-beda di tiap tempat. Ada yang menggunakan gula putih, gula merah, gula aren, madu, dan sirup seperti Tjampolay dan sirup coco pandan. Ada juga yang menambahkan rempah-rempah dan kelapanya dibakar dulu.

Kelapa bakar
Meski cara mengolah dan menyajikannya berbeda, semuanya enak dan segar. Dan memang meski hanya menikmati kelapa muda alias degan di rumah, suasananya agak berubah. Jadi seperti liburan di rumah.

Tinggalkan Balasan